f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tas sepatu

Wajah Sendu Tas dan Sepatu

Sepekan menjelang hari pertama para siswa masuk sekolah, toko “Murah” selalu ramai dikunjungi anak-anak dan para orang tua. Sesuai dengan namanya, toko ini terkenal murah dan lumayan lengkap untuk standar para siswa di daerah pinggiran. Mulai dari barang yang terkecil seperti penghapus sampai yang agak besar misalnya tenda dan alat-alat kemah pramuka,  semua ada.

Hampir semua perlengkapan sekolah dan kantor, tersedia di toko ini yang setahun sekali sudah bisa dipastikan seolah panen. Karena satu-satunya toko yang terlengkap di desaku, kadang sampai kewalahan, memaksa para pembeli harus sabar menunggu hingga tersedianya barang yang diinginkan. Yang seperti ini biasanya sepatu atau baju seragam dengan ukuran tertentu.

Sebagai pedagang, pemilik toko  Murah memang cukup cerdas melirik pasar. Misalnya, sedang musim tas punggung model yang lagi in, di toko ini tersedia dengan berbagai warna dan ukuran. Termasuk juga sepatu. Meski rata-rata sepatu sekolah berwarna hitam bertali atau tidak, namun sepatu-sepatu jenis lain yang sedang ngetren tersedia juga di sini dengan model dan warna yang menarik.

***

Setahun lebih pandemi belum juga hengkang dari negeri ini. Pemandangan berjubelnya para pembeli di toko Murah nyaris tak pernah terlihat lagi. Bahkan yang lebih tragis, kini hanya sebagian kecil peralatan sekolah yang masih ada dan sebagian lain sudah diganti dengan berbagai macam bahan pangan sembako.

Sementara di tempat lain, beberapa pasang sepatu dan tas sekolah tampak merana. Karena para siswa sekolah masih daring, otomatis kedua benda tersebut hampir tak pernah dipakai alias nganggur. Sepatu tampak buram berjamur dan tas juga terlihat kusam lantaran jarang tersentuh. Dan yang membuat agak sedih adalah sepatu tidak bisa dipakai lagi karena sudah tidak muat.

Baca Juga  Dewi Herinawati, Single Mom yang Luar Biasa

Efek pandemi telah membuat banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Yang dulunya kurus kini berat badannya bertambah disebabkan kurang bergerak, kurang olah raga dan lebih banyak berdiam di rumah. Tak hanya sepatu yang terpaksa harus beli lagi tapi juga baju, rok maupun celana. Berhubung sekolah tatap muka belum juga diberlakukan, maka dengan terpaksa acara beli baju dan sepatu baru cukup sebagai wacana saja untuk sementara.

Sebagian siswa mengalami hal yang sama soal sepatu, tas dan baju seragam. Demikian juga dengan siswa baru yang bahkan baju seragamnya belum sempat dipakai. Padahal di masa pertumbuhan, kurun waktu satu tahun cukup membuat postur tubuh mereka mengalami perkembangan pesat. Ada dilema di sini. Mau beli yang baru tapi ragu kapan mau dipakai. Inilah salah satu alasan mengapa toko-toko peralatan sekolah setahun terakhir ini sepi.

Sekolah tatap muka yang beberapa bulan yang lalu sudah dipersiapkan ternyata mundur lagi. Ada keinginan dan kerinduan para siswa untuk bertemu kembali dengan guru dan teman-temannya, di hampir setiap benak mereka hingga hari ini. Kebijakan pemerintah yang belum mengijinkan sekolah tatap muka, membuat kita hanya bisa mematuhi aturan yang ada, meski dalam hati ada yang bisa menerima atau tidak.

***

Harus kita akui, hadirnya pandemi di bumi kita tercinta sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat di semua lapisan. Ada yang menyikapinya sebagai anugerah dan berkah yang menguntungkan, maupun sebagai musibah atau petaka yang mengakibatkan banyak kerugian.

Salah satunya, toko Murah yang kini terpaksa banting stir menjadi toko kelontong demi berlangsungnya perputaran ekonomi bagi keluarga sendiri maupun keluarga para karyawannya. Dikatakan rugi, tidak juga. Karena dengan sedikit ketrampilan menyiasati situasi, toh kendala yang ada mampu teratasi.

Baca Juga  Kita Boleh Mengenang Masa Lalu Tapi Tak Boleh Mengutuk Waktu

Membeli peralatan sekolah adalah kewajiban orang tua dan anak berhak memperolehnya. Tapi berhubung sekolah masih secara online, banyak orang tua yang memilih menunda dan berencana membelinya beberapa sat menjelang sekolah tatap muka.

Dengan berbagai pertimbangan yang matang, pemerintah membuat peraturan ini itu dan wajib kita patuhi. Bagi orang tua, perlu pertimbangan yang matang pula untuk membeli peralatan sekolah yang baru. Sembari berharap, resiko sepatu dan seragam yang tidak muat dipakai bisa sedikit diminimalisir.

Di mata para pedagang, hal ini merupakan pukulan berat dan tidak main-main. Juga bagi produsen sepatu, konveksi yang membuat aneka seragam sekolah dan tentu saja berimbas pada para pegawainya. Ini tak bisa dihindari.

Biarlah tas, sepatu dan seragam untuk sementara  dingin di rak dan almari karena belum tersentuh, belum sempat dipakai atau justru tidak bisa dipakai karena sudah tidak muat. Biarlah. Banyak orang tua  yang memilih cari aman agar lebih hemat  dalam belanja. Sembari berharap anggaran belanja yang cukup membuat ibu-ibu pusing ini, bisa ditangani dengan cara lebih efektif dan efisien.

Orang tua tetap berupaya kapan harus membeli peralatan sekolah baru atau tidak sama sekali. Bila memang masih bisa dipakai, mengapa harus beli? Kendati situasi pandemi ini telah melahirkan sejumlah keprihatinan di berbagai sisi, namun bukan berarti anak-anak lantas kekurangan asupan gizi. Seiring berjalannya waktu, tumbuh kembang mereka tidak akan berhenti hanya gara-gara pandemi.

Bagikan
Comments
  • Bu Guru Wiendy

    Baju sepatu anak2 dah pada ga muat…
    Mau beli nanggung , nanti2 saja kalau jadi PTM

    April 20, 2021
    • Wurry Srie

      Betul. Nanggung.

      April 21, 2021
Post a Comment