f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gizi

Gizi sebagai Penentu Masa Depan Bangsa

Memiliki keturunan adalah sebuah proses panjang yang perlu perencanaan dan pengetahuan yang baik. Proses yang panjang ini salah satunya bisa dilihat dari status kesehatan setiap perempuan dari sejak ia remaja, kemudian siap menjadi calon ibu, dan menjadi ibu hamil. Sehingga saat mempersiapkan diri untuk berumah tangga, termasuk hendak memiliki keturunan, alangkah baiknya jika sudah mempunyai persiapan matang tidak hanya dari segi finansial namun juga ada hal-hal yang penting lainnya yaitu, usia yang dewasa dan matang, aspek kejiwaan, kondisi kesehatan, dan status gizi bagi kedua calon pengantin.

Pertimbangan-pertimbangan itu salah satunya berangkat dari kenyataan saat ini bahwa persentase gagal tumbuh atau stunting anak Indonesia yang cukup menguras perhatian. Dari data riskesdas 2018, bahwa 30,8 persen anak Indonesia mengalami stunting. Dalam bahasa ilmu gizi, stunting ini dipahami sebagai suatu kondisi yang menggambarkan status gizi bersifat kronis di masa 1000 hari pertama kehidupan yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Stunting, dengan demikian, masih menjadi masalah utama karena dapat mempengaruhi kualitas manusia di masa depan; yang oleh karena itu harus terus dicari jalan keluarnya.

***

Dalam konteks itu, setiap tanggal 25 Januari kita selalu memperingati Hari Gizi Nasional guna praktisi gizi; juga dapat membantu pemerintah dan masyarakat untuk fokus pada perbaikan gizi dan derajat kesehatan. Tahun ini, temanya adalah “Remaja Sehat Bebas Anemia”. Tema ini menjadi relevan; karena remaja yang sehat, terutama perempuan, akan sangat menentukan proses kesiapan memiliki anak di usia dewasanya kelak.

Rentannya anemia pada perempuan sejak usia remaja juga akan memicu persoalan-persoalan serius lainnya di kemudian hari. Sayangnya tidak sedikit masyarakat yang belum mengenal betul apa itu anemia. Anemia adalah kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah di bawah normal. Hb berperan dalam pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh.

Baca Juga  Berpuasa di Ramadan yang (tak) Sama

Jadi, ketika perempuan hamil mengalami anemia; maka siklus oksigen di dalam tubuhnya berkurang, dan ini akan mengakibatkan terganggunya metabolisme yang meningkat selama proses kehamilan. Bahayanya lagi, anemia selama masa kehamilan akan meningkatkan faktor risiko dalam menghambat pertumbuhan dan berat badan lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, kematian bayi dalam kandungan, kematian perinatal dan pertahanan tubuh berkurang yang mengakibatkan infeksi terhadap ibu dan anaknya.

Lebih lanjut, anemia juga akan bedampak pada kesejahteraan generasi penerus dari hasil kelahiran dengan berat dan panjang badan lahir kurang. Tidak hanya itu, anemia juga memiliki dampak-dampak serius yang menyertai; seperti menimbulkan kelelahan, badan  lemah, serta penurunan kapasitas/kemampuan atau produktifitas kerja bagi penderitanya. Oleh karena itu, kita mesti sadar dan tahu bahwa anemia dalam konteks ini merupakan salah satu masalah gizi yang harus dicegah; untuk memutus mata rantai penyebab stunting pada anak yang dilahirkan.

Kesiapan Gizi Pra-Nikah

Kematangan usia berbanding lurus dengan tingkat pemahaman seseorang terhadap apa yang sebaiknya dikonsumsi ketika mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Di usia yang matang, maka pemahaman mengenai pola asuh pun lebih mudah dicerna, terutama ketika harus mengikuti konseling calon penganten di pelayanan kesehatan.

Dalam hal ini, tentunya si calon bapak juga memiliki andil yang setara untuk bersikap terbuka dalam mempelajari banyak hal; termasuk pengetahuan tentang 1000 hari pertama kehidupan, pentingnya pemberian ASI eksklusif, MPASI sesuai anjuran ahli gizi/dokter anak, aware terhadap status gizi dan pola hidup sehat seperti menghindari merokok, mengendalikan kadar stres, dan tetap aktif melakukan aktifitas fisik.

Perlu menjadi perhatian, bahwa laki-laki dan perempuan yang ingin menikah juga harus memiliki pengetahuan mengenai berat badan ideal. Jika calon pengantin memiliki berat badan yang berlebih, maka akan berpengaruh pada kesuburan pasangan tersebut. Sebaliknya, jika status gizi kurang, terutama perempuan, hal ini akan berakibat pada terjadinya masalah gizi kurang energi kronis (KEK) pada saat terjadi kehamilan. Status Kurang Energi Kronik ini pun juga akan berdampak pada status gizi anak yang dilahirkan.  

Baca Juga  Mau Nikah Kok Ngutang?
***

Dalam upaya pemenuhan kebutuhan gizi yang baik; berikut ini beberapa zat gizi yang perlu diketahui oleh kedua pasangan calon orang tua.

Pertama, zat gizi makro protein yang berfungsi untuk proses pembentukan sel-sel baru, membantu penyerapan zat besi, dan tingkat kesuburan. Protein bisa diperoleh dari sumber makanan hewani dan nabati seperti daging sapi, daging ayam, telur, ikan, tahu, tempe dan kacang-kacangan.

Kedua, zat gizi lainnya yang juga diperlukan agar terhindar dari masalah gizi anemia adalah zat besi, zink, asam folat, dan vitamin B12. Zat besi bisa kita dapatkan dari sumber makanan lauk hewani, tempe, kacang-kacangan, dan sayuran yang berwarna hijau. Selain itu, jika kita mengonsumsi sumber makanan hewani; dengan otomatis juga kita mendapatkan zat gizi mikro lain yang diperlukan yaitu zink. Sumber makanan lain yang mengandung zink juga bisa kita peroleh dari susu dan hasil olahannya. Selain zink dan zat besi; lauk hewani juga mengandung vitamin B12 yang berguna bagi calon ayah untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sperma.

Ketiga, vitamin yang juga tidak kalah penting diperlukan yaitu vitamin C dan vitamin E yang berguna untuk membantu proses penyerapan zat besi dan meningkatkan kesuburan laki-laki. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa vitamin C bisa kita dapatkan pada buah-buahan seperti jeruk, jambu biji, pepaya, dan buah lokal lainnya. Sedangkan vitamin E bisa kita dapatkan dari sumber makanan biji matahari, makanan laut (Ikan kod, udang, kerang), buah-buahan seperti mangga, kiwi, alpukat, bahkan sayur brokoli dan bayam pun juga mengandung vitamin E yang baik.

***

Mungkin banyak dari kita yang mengira hal-hal tersebut terlalu rumit untuk dipraktekkan. Padahal, dengan logika sederhana saj; semua hal ini pada hakitatnya hanyalah bagian dari upaya kita sebagai manusia untuk menghargai tubuh kita sendiri baik secara fisik maupun mental. Meskipun penekanannya di sini adalah, upaya-upaya tersebut perlu lebih ekstra ketika memutuskan untuk menyiapkan keturunan.

Baca Juga  Dari Taaruf Transaksional ke Taaruf Fungsional

Mungkin dengan cara mudahnya, untuk memperoleh derajat kecukupan gizi yang baik kita bisa berpedoman pada “Isi Piringku”. hal tersebut sudah dikampanyekan oleh Kementrian Kesehatan; tentang acuan sekali makan untuk menciptakan panduan makan enak dengan gizi yang seimbang.

Pada akhirnya setiap calon orang tua tidak cukup hanya memahami bahwa keinginan untuk memiliki keturunan itu semata dari aspek kepuasan batin maupun dorongan-dorongan normatif lainnya. Hal ini karena memiliki anak berarti membutuhkan persiapan yang sematang-matangnya agar bisa menjadi penerus bangsa yang berkualitas.

Bagikan
Comments
  • Ambu Uthie

    Benar sekali bahwa salah satu hal yang harus sangat dibenahi sebelum nikah adalah status gizi calon pengantin, utamanya ibu. Karena ibu akan menjadi induk dari janin dan anaknya kelak. Tapi juga bapak tidak kalah penting untuk memiliki pengetahuan mengenai gizi keluarga.

    Tulisan yang bagus 👍

    April 8, 2021
  • Joss

    April 9, 2021
Post a Comment