f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan domestik

Rumah Tangga Masa Depan yang Setara

Hampir setahun yang lalu, saya menulis artikel bertemakan perempuan dari perspektif ekonomi sebagai ungkapan suka cita atas lahirnya situs khusus soal isu keperempuanan. Kala itu bertepatan dengan momen awal pandemi; saya menyampaikan kegelisahan soal ruang kerja perempuan di wilayah domestik —terlepas dari stereotip gendernya— yang tidak dianggap sebagai pekerjaan bernilai ekonomi. Sering disebut sebagai Unpaid Care Work.

Tema ini dilhami dari hasil riset lembaga penelitian dunia, OXFAM, yang menyebutkan bahwa perempuan yang bekerja di wilayah domestik —di Indonesia akrab dikenal dengan istilah dapur, sumur dan kasur— berada pada situasi yang menyedihkan. Karena hanya dinilai sebagai “kodrat”, upaya yang mereka lakukan tidak menjamin datangnya kesejahteraan ekonomi. Ketidaksetaraan hubungan ini terjadi bertahun-tahun lamanya. Riak-riak suara protes beberapa kali muncul ke permukaan namun tidak mendapatkan atensi yang cukup.

Setahun kemudian, di awal tahun 2021, OXFAM kembali mengeluarkan riset terkait hal ini. Dalam laporan berjudul “The Inequality Virus” yang meninjau satu tahun perjalanan pandemi, apa yang diprediksi sebelumnya menjadi kenyataan. Pandemi membuat situasi yang sudah timpang ini menjadi semakin rumit. Sebab utamanya, beban pekerjaan perempuan di wilayah domestik menjadi lebih intens.

Intensitas yang kian padat itu bisa ditinjau dari berbagai sektor. Di sektor kesehatan, data secara global memperlihatkan bahwa 70 % perempuan terpapar risiko lebih tinggi, terutama saat anggota rumah tangga jatuh sakit. Lazim terjadi, perempuan—lewat peran domestiknya— adalah pengasuh utama ketika ada anggota keluarga yang terpapar virus.

Dari sektor pendidikan, 71,5 % rumah tangga menjawab bahwa ibu adalah sosok yang lebih berperan dalam membantu anak belajar di rumah. Angka ini jumlahnya bahkan tiga kali lipat dari yang mengakui peran seorang ayah. Data dari Smeru Research Institute ini bukan berarti menegasikan partisipasi gender tertentu, tapi memperlihatkan peran “vital” yang sebenarnya timpang dalam suatu rumah tangga.

Baca Juga  Cari Jodoh Kayak Cari Jarum di Tumpukan Jerami ?
Beban dan Risiko Lebih Perempuan

Kondisi rumah tangga yang memojokkan perempuan ini nampaknya mencapai puncak kesadaran tatkala pandemi menghantam. Sekjen PBB, Anthonio Guterres berseloroh lirih menyadari fenomena ini “COVID-19 has been likened to an x-ray, exposing fallacies and falsehoods everywhere: The fiction that unpaid care work is not work; The myth that we are all in the same boat”.

Jika meminjam istilah Anthonio Guterres, relasi antara perempuan dan pria dalam suatu hubungan yang konvensional sesungguhnya tidak berada dalam sebuah “perahu yang sama”. Salah satu sebabnya, persepsi tentang ranah domestik yang melemahkan perempuan.  Pelemahan ini bisa dilihat dari perbandingan jam kerja antara perempuan dan pria yang tidak seimbang.

UN Women merilis laporan yang menggambarkan betapa ranah domestik sangat menyita waktu perempuan saat pandemi. Bayangkan saja, 32 % perempuan mengalami peningkatan waktu untuk memasak dan menyediakan sarapan; ditambah 45 % peningkatan waktu untuk membersihkan dan mencuci dan 25 % penambahan waktu untuk berbelanja kebutuhan rumah. Meskipun pria juga mengalami peningkatan yang sama, tapi persentase waktunya tidak sebesar perempuan.

Di lain sisi, perempuan yang bersikeras untuk tetap bekerja di ranah publik berada pada situasi yang lebih pelik. Waktu kerja yang berat membuat perempuan memiliki pilihan jenis pekerjaan yang terbatas. Akhirnya, kebanyakan dari mereka hanya berakhir pada ragam pekerjaan di sektor informal. Sebab, desain pekerjaan domestik tentu tidak kompatibel dengan pekerjaan formal. Pada realitasnya, jam kerja normal yang dimulai sejak pagi hingga sore hari juga bertepatan dengan “jam sibuk” aktivitas domestik di rumah.

***

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional tahun 2020 menegaskan kenyataan ini. Dari 44 % penduduk Indonesia yang bekerja formal, 65 % di antaranya adalah pria dan 35 % adalah perempuan. Bandingkan dengan 56 % penduduk yang bekerja di ranah informal, di mana perbedaan antara pria dan perempuan menjadi tipis, yakni 57 % berbanding 43 %. Celakanya lagi, jika upah rata-rata pekerja di sektor formal mencapai angka Rp 2.920.000, maka pekerja informal hanya berada di kisaran Rp 1.816.000.

Baca Juga  Tips untuk Pasangan yang Sulit Beradaptasi ala Pak Irud

Jam kerja yang lebih berat, ruang pekerjaan terbatas serta apresiasi ekonomi yang minim di wilayah domestik menyebabkan perempuan berada pada posisi kuasa yang rentan dalam suatu hubungan perkawinan. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHN) tahun 2016 memberikan gambaran yang cukup rinci. Berdasarakan data, 1 dari 4 perempuan yang sudah menikah pernah mengalami kekerasan ekonomi dari pasangannya.

Salah satu bentuk yang lazim dirasakan oleh perempuan adalah kondisi di mana “pasangan menolak untuk memberikan uang belanja, padahal punya uang yang cukup”. Dari penelitian ini juga diambil kesimpulan bahwa aspek ekonomi merupakan aspek yang lebih dominan menjadi faktor kekerasan pada perempuan. Meskipun begitu, membebaskan perempuan dari wilayah domestik demi mengejar kemandirian finansial adalah ide yang sulit diterima.

Wilayah Domestik = Ruang yang Produktif

Maka, mendefinisikan kembali makna “kodrat” bagi perempuan adalah jalan pembuka menuju kesetaraan yang diidamkan. Dalam buku Feminisme Muslim di Indonesia karangan Prof. Alimatul Qibtiyah, makna kodrat sendiri sudah diberikan batasan khusus. Bukan lagi pembatasan soal partisipasi perempuan di ranah domestik dan pria pada wilayah publik, namun lebih kepada kekhususan yang diberikan sang pencipta kepada gender tertentu.

Jika bersandar pada pemahaman progresif semacam itu, maka pekerjaan rumah tangga adalah konstruksi sosial yang bisa dinegosiasikan. Proses ini adalah kunci untuk membuat perempuan punya peluang dalam menentukan porsi partisipasinya pada wilayah domestik dan publik. Pun jika akhirnya memilih untuk fokus pada wilayah domestik, hal itu tidak dianggap lagi sebagai sesuatu yang sifatnya bawaan dan sukarela.

Ke depan, harus ditegaskan bahwa ruang domestik adalah wilayah kerja yang sama produktifnya dengan pekerjaan publik. Konsekuensinya, jaminan ekonomi dan sosial yang didapatkan oleh pekerja domestik pun harus setara dengan pekerja lain; layaknya di sektor industri riil. Untuk ini, banyak opsi yang disediakan.

Baca Juga  Mau Nikah Kok Ngutang?

Di Indonesia, para aktifis dan akademisi mulai mempopulerkan ide soal Jaminan Penghasilan Dasar Semesta (JAMESTA). Mekanismenya adalah memberikan uang tunai secara berkala pada seluruh warga negara demi pemenuhan kebutuhan dasar untuk hidup. Hal ini sangat bermanfaat bagi pekerja domestik sebab sistem ekonomi yang berlaku sifatnya masih terkonsentrasi (oligarki) dan tidak imbang (patriarki). Secara global, apresiasi ekonomi bagi pekerja domestik juga diperjuangkan lewat gerakan “Wages for Housework” yang popular di barat sejak tahun 1970.

Pilihan untuk memberikan imbalan ekonomi pada pekerja domestik memang agak radikal. Tapi, rumah tangga yang setara di masa depan memerlukan rekonstruksi pola hubungan yang lebih sejahtera. Jalan panjang ini harus dimulai dari perubahan perspektif pada wilayah ekonomi. Sebab, ketidakberdayaan ekonomi membuat hubungan rumah tangga selamanya cenderung bersifat hierarkis dibanding demokratis.

Bagikan
Post a Comment