f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Pengalaman Menjadi Anak Emas: Kerentanan Berbasis Feeling?!

Orang-orang dewasa terbiasa memikirkan banyak masalah psikologis di masa dewasa berasal dari kurangnya kasih sayang di masa anak -anak. Peneliti psikologi mengidentifikai bahwa mereka yang tumbuh tidak sehat secara mental – menjadi tempat bersarangnya rasa tidak percaya diri, kecemasan berlebih, paranoia, dan rasa malu yang mengganggu – sangat mungkin terjadi karena di suatu tempat di masa lalu. Seperti misalnya mereka tidak mendapatkan kehangatan, perhatian, simpati dan kasih sayang yang cukup.

Masalah lain yang cenderung lebih aneh dan lebih halus tetapi tidak terbiasa terpikirkan oleh orang-orang dewasa yaitu sebagian dari kita mungkin berakhir tidak sehat secara mental bukan karena terabaikan saat masih kanak-kanak. Tetapi karena mereka memperoleh cinta dengan intensitas berlebihan yang khas dan mengganggu. Karena mereka sejak kecil terbiasa dengan pujian yang berlebihan atas kapasitas yang sebenarnya tidak mereka miliki. Atau karena orang tua mereka meminta – dengan niat yang tampak seperti kebaikan tetapi manipulasi yang secara tidak sadar tersembunyi di baliknya – memikul harapan besar dari pengasuhan orang tuanya untuk  masa depan yang gemilang.

Anak yang selalu baik. Anak yang selalu dibanggakan oleh keluarga inti, keluarga besar, atau menjadi kebanggaan di lingkungan tetangga sekitar karena pernah berprestasi. Bisa jadi dengan tegas sebagai sosok yang namanya akan bergema selama berabad-abad, singkatnya adalah anak emas. Menjadi anak keemasan bukan berarti selalu baik-baik saja. Anak yang selalu baik, selalu ingin menjadi kebanggaan. Tidak berani turun kasta menjadi anak perak, perunggu, atau alumunium justru lebih rentan memiliki masalah psikologis di masa dewasa. Bagaimana proses seorang anak merasa menjadi emas, ini ceritaku.

Golden Child: ‘Rasanya Seperti Anda Sedang Menjadi …!’

Sejak kecil aku selalu menjadi anak yang baik, dan sangat bahagia karena mengetahui sedang menjadi kebanggaan bagi orang tua. Aku tidak pernah menelusuri logika moral seperti apa yang menjadikan aku selalu ingin menjadi kebanggaan orang tua. Mengetahui bahwa mereka tidak pernah menyesal telah melahirkan dan membesarkan aku. Selalu ingin menjadi satu-satunya nama yang mereka sebutkan dengan kebanggaan besar dalam hati ketika bersua sanak famili.

Baca Juga  Bayi Gumoh; Penyebab dan Mengatasinya

Maka berperilaku baik, giat, dan berusaha untuk memperoleh prestasi adalah harga wajib yang harus aku bayar untuk mempertahankan perasaan bahagia dari keistimewaan menjadi kebanggaan. Ketika menjadi anak dengan berbagai pujian, ada saat-saat di mana aku merasakan bahwa kehadiranku dalam keluarga tergambarkan sebagai sesuatu yang sangat luar biasa dan akan senantiasa demikian. Mendapat perlakuan sebagai anak yang akan membawa kehidupan baru bagi keluarga yang penuh dengan simbol-simbol kejayaan dan keberhasilan.

Aku tidak pernah mencoba untuk mencari tahu kenapa orang-orang dewasa benci kegagalan pada anak-anaknya. Mungkin sebagian besar orang-orang dewasa punya hubungan yang buruk dan trauma mendalam dengan kegagalan sehingga memperlakukan anak-anaknya seperti alat untuk membalaskan dendam kegagalannya di masa lalu. Dengan cara sedikit memanipulasi emosi anak-anaknya agar selalu berhasil dan menjadi kebanggaan bagi orang tua.

***

Di permukaan, hal itu tampak menawarkan jalan menuju kepercayaan diri dan keamanan yang sangat besar bagiku. Tetapi di baliknya, tanpa sadar terdapat ekspektasi sejak kecil dan menjadikanku sebagai anak emas menuju keberhasilan yang absolut. Aku seperti sedang merasakan perayaan keberhasilan. Kebahagiaannya terasa nyata jauh sebelum keberhasilannya itu sendiri.

Aku selalu ingin menjadi anak yang baik, aku selalu ingin menjadi anak yang berhasil. Ketakutanku pada kegagalan sudah kupelihara dengan baik jauh sebelum kegagalan itu datang. Bagiku, perjalanan menuju keberhasilan itu absolut. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluarga inti, keluarga besar, dan lingkungan tetangga yang terlanjur menempatkan ekspektasi keberhasilan dan kejayaan sejak kecil melihat aku gagal. Kebahagiaan dengan menjadi anak emas telah membuatku tumbuh dengan perasaan cemas. Cemas tidak mampu memenuhi ekspektasi, tidak lagi menjadi kebanggaan, tidak menjadi anak emas lagi, turun kasta menjadi anak perak, perunggu, atau alumunium biasa.

Baca Juga  Ramadan dan Penguatan Solidaritas : Kewirausahaan Sosial dan Local Wisdom
Kerentanan Berbasis Feeling

Menempatkan ekspektasi seperti itu dan menjadikannya sebagai anak emas menuju keberhasilan yang absolut membuat seorang anak akan merasakan kebahagiaan semu jauh lebih awal daripada perayaan keberhasilannya. Kenyamanan dan perasaan senang dari keistimewaan menjadi anak emas membuat anak tidak berani gagal. Perasaan itu akan membuatnya tumbuh dalam kebohongan, dan ketidakmampuannya dalam mengatasi kegagalan dan kekecewaan.

Kecemasan mendalam pada kegagalan yang sebenarnya belum terjadi menjadi hadiah yang melekat pada anak yang tumbuh sebagai anak emas. Dalam disiplin psikologi, anak emas adalah orang yang menerima banyak perlakuan khas dengan intensitas yang berlebihan dari orang tua narsistik. Penjelasan perlakuan orang tua narsistik ini sejalan dengan alasan-alasan favoritisme.

Meskipun sedikit, literatur empiris menunjukan bahwa ada efek negatif pada anak-anak dari orang tua narsistik. Baik selama masa kanak-kanak maupun berlanjut ke masa dewasa. Anak-anak dengan pengasuhan seseorang yang narsistik menyebabkan diminished sense of self, dan identity issues. Aku mengira, memiliki anak yang selalu berperilaku baik di lingkungan dan berprestasi di sekolah adalah sebuah peristiwa menyenangkan lahir dan batin bagi orang tua-orang tua yang narsis.

Sepertinya orang-orang dewasa punya kebiasaan buruk dalam melihat sesuatu seperti; “anak yang baik dan berprestasi adalah keberhasilan orang tuanya yang harus dirayakan, sementara anak yang tidak baik dan berperilaku di luar norma umum masyarakat adalah aib keluarga yang harus disembunyikan”. Siapapun yang berencana menjadi orang tua, percayalah kalian tidak perlu bertanggungjawab untuk memanipulasi anak kalian menjadi emas. Jika mereka adalah emas biarkan menjadi emas yang murni tanpa dibuat-buat. Karena perunggu yang terlanjur terlapisi emas membuatnya tumbuh dalam kebohongan. Jangan pernah takut menjadi perak, atau perunggu, terlebih lagi ternyata logam yang paling banyak memberikan manfaat adalah logam yang selama ini tidak dianggap mulia.

Bagikan
Post a Comment