Kaleodoskop Penderita Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) Selama Masa Pandemi
Tahun 2020, telah berlalu. Hampir seluruh umat di dunia ‘berjuang’ dan ‘bergotong-royong‘ melewati pandemi. Sebagian negara sudah ada yang berhasil melewatinya, sebagiannya lagi sedang merasakan gelombang kedua. Begitu banyak ‘kejutan dan tantangan’ yang kita hadapi dan rasakan. Termasuk saya sendiri, sebagai seorang dengan gangguan stres paskatrauma (PTSD).
***
Lebih dari setahun sudah saya mengidap gangguan stres paskatrauma, yang saya alami adalah trauma perpisahan (kematian) ayahanda saya. Terkadang saya juga heran dan belum bisa menemukan jawaban, setiap kali bertanya, kenapa saya mengalaminya? Yang jelas trauma paska kematian ini menjadikan ku merasa resah, takut, cemas, panik dan merasa kehabisan energi acap kali mendengar kabar duka. Selalu seperti itu, hingga kini.
Nah bisa di bayangkan ya, bagaimana rasanya menjadi diriku di tahun 2020 lalu. Jika kematian ayahanda ku kemudian menyebabkan saya mengidap gangguan stres paskatrauma. Tentu saja saya lemas bukan kepayang setiap kali membaca berita online, televisi, atau mendengar kabar di lingkungan terdekat ketika ada kematian pasien Covid-19. Saya serasa tidak lagi kebagian oksigen untuk bernafas. Rasa cemas selalu mengantui, rasa panik naik-turun bak roller coster. Serta rasa-rasa lainnya yang tidak bisa saya deksripsikan.
Namun terlepas dari kepanikan dan ketakutan, tahun 2020 juga mengajariku beberapa penting yang membantuku dalam memulihkan diri dari gangguan stres paskatrauma ini, antara lain:
Berlatih untuk mencintai kekurangan (sisi gelap) diri sendiri yang tak tampak mata. Tahun 2020, memberikan banyak ruang bagi saya untuk berkontemplasi terhadap segala perjalanan yang telah kulalui. Mencintai diri sendiri merupakan hal yang sangat penting, karena ketika kita belum bisa mencintai kekurangan kita, bagaimana mungkin kita dapat menerima dan mencintai ’sisi gelap’ orang terdekat,orang yang kita sayangi, atau pun orang lainnya.
Belajar memaafkan diri sendiri dan tidak menghukum diri dengan rasa bersalah. Saya belajar bahwa melakukan kesalahan itu adalah proses dari belajar. Kesalahan itulah yang menjadikan kita dapat berhati-hati lagi dalam melangkah.
***
Saya dapat berlatih untuk memahami dan mengerti pikiran dan perasaan sendiri. Jika dahulunya saya tergesa-gesa untuk menghakimi pikiran, perasaan ketakutan dan kecemasan ku, dan mencoba mencari jawaban, selama tahun 2020 lalu, saya memiliki ’’jeda’’ untuk mengamati. Iya, cukup perhatikan saja setiap pikiran yang datang dan pergi. Tanpa perlu terhanyut, tanpa perlu menolak pikiran dan perasaan yang hadir saat itu.
Selain itu, saya juga dapat berlatih teknik pernafasan yang benar, khususnya ketika saya panik. Teknik pernapasan ini secara tidak langsung mengajarkan saya untuk benar-benar menyadari setiap hembusan nafas ku. Melatih diri ku untuk ’sadar penuh dan hadir utuh’ sekarang, dan saat ini. Rasa ’sadar’ tersebut adalah salah satu dari wujud syukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Yang dahulunya mungkin tidak begitu saya maknai, atau kasarnya tidak saya syukuri sebagai bagian dari rejeki-Nya.
Selanjutnya, tahun lalu memberikan kesempatan untuk berlatih mindfulness. Sebuah metode sederhana yang mengajarkan bagaimana cara agar lebih menyadari kehidupan, menerima keadaan se-apa adanya. Jika dahulunya mungkin saya sering menyangkal, dan memilih “drama“ yang tercipta di lingkungan ku sendiri karena hal remeh, tahun kemarin saya berlatih untuk menerima setiap kejadian sebagaimana apa adanya.
Kemudian, saya juga belajar untuk memberikan ’arti atau pemaknaan’ dari setiap kejadian. Saya boleh saja saat ini memiliki gangguan stres pascatrauma, tapi bukan berarti saya mesti hanyut terpuruk oleh hal tersebut. Saya tidak boleh dikendalikan oleh paskatrauma, saya lah pemegang kendalinya. Sayalah yang mengontrol. Dan saya memilih untuk menyikapi paskatrauma itu dengan bangkit dan pulih. Bukan menjadikan paskatrauma tersebut mempengaruhi hidupku saat ini, dan sekarang.
***
Nah Rahmania, kira-kira itulah kaleodoskop saya sebagai seorang dengan gangguan paskatrauma di tahun 2020. Semoga kaleodoskop ini bermanfaat bagi siapapun di luar sana. Selamat Tahun Baru, tetap sehat, tetap semangat, dan jangan lupa cintai diri mu sendiri juga ya.
Learning Self-Healing Enthusiastic
