f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dari depresi

Belajar Dari Depresi (1): Sebuah Review Buku “Loving The Wounded Soul”

Membicarakan depresi berarti kita sedang membahas tentang isu kesehatan mental. Seiring dengan maraknya kasus bunuh dirioleh public figure maupun orang-orang biasa, isu kesehatan mental menjadi sering jadi perbincangan publik.

Adanya kasus bunuh diri menjadi alarm bagi kita bahwa terdapat sesuatu yang “bermasalah” dalam diri seseorang. Kita tidak sepatutnya menstigma mereka. Karena bisa jadi secara tidak langsung kita terlibat dalam kompleksitas kasus bunuh diri.

Misalnya dengan kita menunjukkan sikap tidak peduli, tidak berempati, memberikan stigma, menjustifikasi seseorang, menganggap remeh permasalahan yang di hadapi orang lain, menjauhi mereka dari lingkaran pertemanan dan sebagainya. Perlakuan seperti ini justru semakin menambah tekanan atas permasalahan yang seseorang hadapi.

Kesehatan mental menurut Badan Kesehatan Dunia (2018) tidak hanya kondisi ketiadaan gangguan mental atau disabilitas. Kesehatan mental merupakan kondisi yang integral, penting dan sejahtera. Seseorang dikatakan sehat mental apabila memenuhi empat syarat yaitu menyadari kemampuannya sendiri, memiliki coping strategy atau mampu mengatasi tekanan normal dalam hidup, dapat bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada komunitasnya.

Kesehatan mental sangat penting bagi kemampuan kita sebagai manusia untuk berpikir, merasakan emosi, berinteraksi dengan orang lain, bekerja, dan menikmati hidup.

Kondisi yang berlawanan dengan sehat mental adalah sakit mental atau mental illness. Depresi merupakan salah satu mental illness. Orang-orang yang mengalami depresi tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri dan harus ada bantuan profesional agar dapat berfungsi kembali secara normal. Bahkan ada yang harus mengkonsumsi obat antidepresan.

Loving The Wounded Soul

Penulis buku “Loving The Wounded Soul” ini merupakan orang yang pernah mengalami depresi. Di usia 12 tahun ia sudah memiliki keinginan bunuh diri. Pada tahun 2014 menjelang kelulusannya sebagai sarjana Psikologi, ia mengalami hampir semua gejala depresi (full-blown depression). Kemudian pada akhir tahun 2016 menjelang studi S2 di program Global Mental Health ia kembali mengalami episode depresi dengan kondisi yang lebih parah yaitu disertai pikiran bunuh diri.

Baca Juga  Mencintai Diri Sendiri Tanpa Terjebak Narsisme

Depresi selayaknya penyakit pada umumnya yang membutuhkan treatment khusus agar seseorang dengan depresi dapat berfungsi secara optimal sebagai manusia. Namun demikian, selama ini orang-orang yang mengalami mental illness baik berupa depresi, kecemasan, bipolar, phobia, dan gangguan emosi lainnya masih diberi stigma negatif oleh masyarakat. Mereka dipandang lebay, lemah, cari perhatian, hanya mencari alasan untuk tidak menyelesaikan tugas/ pekerjaan, dan seterusnya. Padahal, mereka sebetulnya membutuhkan dukungan sosial yang positif agar pikiran, perasaan, dan harga diri mereka juga positif.

Beberapa gejala umum yang ada pada orang dengan depresi seperti Low Mood, Worthless-Hopeless-Helpless, Suicide Ideation & Suicide Attempt, serta Self Harm.

Low Mood

Yaitu perasaan tidak ada semangat hidup, murung, kesepian, merasa tidak berguna, sia-sia, tidak berharga, letih dan perasaan negatif lainnya tentang diri sendiri. Perasaan tersebut seringkali bertahan dalam waktu yang relatif lama. Bahkan bisa bertahan sampai berbulan-bulan. Low mood bisa menjadi awal dari gejala episode depresi mayor.

Worthless-Hopeless-Helpless

Tiga kata ini menggambarkan isi pikiran dan suasana hati/ mood orang yang sedang mengalami depresi. Pikiran mereka terdistorsi, sehingga merasa bahwa dirinya tidak berharga, hanya merepotkan, menjadi beban orang lain, dan berpikir bahwa ada atau tidak ada dirinya di dunia ini tidak berpengaruh banyak.

Orang yang mengalami depresi menganggap tidak ada lagi sesuatu yang bisa membuat suasana hatinya membaik, tidak ada harapan, tidak tertolong lagi, dan menganggap hanya depresi yang dapat dirasakan seumur hidup. Orang dengan depresi melihat kehidupan dari sisi yang gelap. Mereka menjadi sulit berpikir jernih, selalu merasa kelelahan, dan dibanjiri pikiran negatif yang tidak terkontrol.

Suicide Ideation & Suicide Attempt

Kondisi paling membahayakan dari orang yang mengalami depresi adalah memiliki pikiran/ide/keinginan bunuh diri (suicide ideation), dan melakukan percobaan bunuh diri (suicide attempt).

Baca Juga  Pandangan Surat Maryam dalam Menjaga Mental Perempuan di Era Digital

Ide melakukan bunuh diri muncul begitu saja dalam bentuk yang beragam. Ide atau pikiran tersebut dapat berubah menjadi aksi bunuh diri manakala seseorang sudah merasa dirinya tidak lagi berharga dan berpikir jika kematiannya akan membuat orang lain terbebas dari beban yang muncul karena kehadirannya.

Kita harus waspada apabila ada orang di sekitar kita atau mungkin diri kita sendiri terlintas pikiran bunuh diri. Kita dapat mendengarkan curahan hati mereka, merangkul tanpa prasangka, dan membantu agar berhenti memikirkan tentang bunuh diri atau ingin mati.

Jika pikiran itu muncul pada diri kita, maka kita bisa segera mencari bentuan kepada profesional atau mencari orang lain yang bisa mendengarkan kita. Ingatlah bahwa apa yang menjadi pikiran bisa menjadi perkataan, dan apa yang dikatakan bisa menjadi perbuatan.

Self Harm

Di antara kita mungkin sudah familiar dengan istilah ini. Self harm adalah perbuatan melukai atau menyakiti diri sendiri. Misalnya dengan membentur-benturkan kepala di dinding, menyayat tangan, memotong kuku sampai terluka yang dilakukan dengan sengaja untuk melukai diri, dan lainnya.  Orang yang melakukan self harm bukan bermaksud mencari perhatian, membuat sensasi, atau agar orang lain merasa kasihan. Mereka melakukan perbuatan ini karena memang tidak lagi kuat menahan beban perasaan yang amat berat disertai luka batin yang sangat menyakitkan. Sehingga dengan melakukan self harm, seakan-akan memindahkan kesakitan emosi menjadi rasa sakit pada fisik.

Perempuan Lebih Rentan Depresi

Depresi memang bisa menyerang siapa saja. Tetapi, depresi ternyata lebih rentan terjadi pada perempuan. Kaum perempuan lebih sering mengalami turbulensi emosi karena fluktuasi hormon yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.

Misalnya, siklus mentruasi yang dialami oleh perempuan setiap bulan berpengaruh terhadap perubahan hormonal. Kondisi ini biasa kita sebut dengan Premenstrual Syndrome (PMS). Berdasarkan penelitian kajian literatur sistematis, sebanyak 47,8% perempuan mengalami PMS yang ditandai dengan nyeri di bagian tubuh tertentu, mudah sedih, marah, lebih sensitif, dan lainnya.

Baca Juga  Kiat Membangun Self Awareness untuk Mahasiswa

Perempuan juga dapat mengalami depresi pada saat dan setelah kehamilan. Depresi yang terjadi setelah perempuan melahirkan di kenal dengan istilah post-partum depression. Depresi ini dialami oleh 13% perempuan di seluruh dunia. Kemudian, pada saat menopause, perempuan juga mengalami perubahan hormonal. Perubahan ini mengakibatkan terjadinya gangguan tidur, gangguan kognitif, dan depresi.

Selain perubahan hormonal di atas, kehidupan perempuan seringkali dipenuhi dengan berbagai tuntutan. Mulai dari beban ganda sampai objektifikasi. Media dan industri kapitalis sangat berperan dalam membentuk citra diri perempuan. Sebagai contohnya, perempuan yang memiliki tubuh tinggi, langsing, putih, berbusana menarik sesuai tren, wajah glowing bebas jerawat dipandang sebagai karakteristik kecantikan paripurna.

Perempuan kemudian berlomba-lomba mengejar ini dengan memakai kosmetik produk industri kapitalis yang di iklankan di media. Jika tidak memiliki karakteristik tersebut, mereka merasa tidak cantik dan merasa inferior/ minder. Hal ini dapat berdampak pada munculnya berbagai gangguan kesehatan mental seperti depresi, stress, kecemasan, anorexia, panic attack, dan bulimia.

Inilah berbagai alasan mengapa depresi sebenarnya lebih rentan terjadi pada perempuan. Tetapi perempuan lebih mudah untuk mengekspresikan emosi yang mereka rasakan, sedangkan laki-laki biasanya memendam emosi dan enggan mengakui depresi yang mereka alami.

Bagikan
Post a Comment