Sinergi Mencegah Bunuh Diri Anak di Masa Pandemi
Prevalensi kematian akibat bunuh diri tercatat mendekati angka 800.000 kejadian per tahun. Hal ini lebih tinggi daripada kematian karena perang, terorisme bahkan kelaparan di dunia. Bunuh diri menjadi penyebab kedua tertinggi kematian pada pada kelompok usia 15-29 tahun. Negara dengan taraf penghasilan rendah hingga menengah menjadi penyumpang 79% kasus bunuh diri.
Lembaga kesehatan dunia, WHO (2018) memandang bunuh diri sebagai masalah kesehatan masyarakat yang serius. Mengingat tragedi yang ditimbulkan bagi keluarga, teman, dan masyarakat serta pengaruh jangka panjang bagi orang-orang yang ditinggalkan.
Fenomena Bunuh Diri di Indonesia
Di Indonesia hingga tahun 2014 sistem pencatatan sipil dan statistik hayati belum dapat merangkum angka kasus kejadian bunuh diri. Dengan metode Sample Registration System sepanjang tahun 2014-2016 diperoleh angka bunuh diri sebanyak 1.800 kejadian setiap tahunnya.
Kasus kematian bunuh diri di Indonesia 75% terjadi pada rentang usia produktif (15-64 tahun). Secara spesifik 46% kasus tersebut terpusat pada kelompok usia 25-49. Uniknya laki-laki memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk mengalami kematian karena bunuh diri dibandingkan perempuan. Sementara itu, cara bunuh diri paling banyak adalah dengan menggantung diri (60.9 %).
Data Global School-Based Health Survey (GSBH) tahun 2016 menyatakan bahwa anak usia 12-18 tahun pada 26 provinsi. Survey didapatkan 5,9% sampel siswi memiliki keinginan bunuh diri.
Belum dapat diungkap aspek linearitas antara keinginan bunuh diri dan tindak percobaan bunuh diri pada anak. Namun, kiranya angka tersebut merupakan alarm agar remaja, orangtua, guru masyarakat waspada akan potensi tragedinya. Survey WHO menyatakan setiap ada satu orang meninggal karena bunuh diri, diperkirakan ada 20 orang lainnya terlibat percobaan bunuh diri. Dalam hal ini, upaya percobaan bunuh diri hampir selalu didorong oleh keinginan bunuh diri.
Strategi Pencegahan Bunuh Diri Anak
Menurut American Foundation for Suicide Prevention 80% diantara kita akan memiliki pengalaman berurusan dengan kasus bunuh diri orang terdekat. Bahkan 20% lebih dari kita akan mempunyai anggota keluarga yang meninggal karena bunuh diri.
Seorang jurnalis Eric Marcus (2013) melakukan interview kepada para penyintas kecenderungan melakukan bunuh diri. Menunjukkan bahwa ada alasan-alasan umum yang menggelayuti pikiran pelaku menjelang pengeksekusian niatan bunuh-diri yang dapat diungkap melaui pertanyaan-pertanyaan spesifik. Uniknya, dengan menangkap kegamangan calon pelaku dari caranya menjawab dan juga muatan jawabannya. Orang-orang di sekitarnya dapat menjadi penyelamat jiwanya bahkan fasilitator pemulihan kesehatan mentalnya.
Sejak tahun 2003 Association for Suicide Prevention (IASP) mendapat dukungan penuh dari WHO dan World Federation for Mental Health (WFMH) ; untuk mencanangkan hari pencegahan bunuh diri sedunia setiap tanggal 10 September.
Di tahun 2020, IASP konsisten mengangkat tema “Working together to prevent suicide” sejak tahun 2018. Setiap tahunnya, peringatan tersebut dilakukan untuk membangkitkan selalu kesadaran, komitmen dan tindakan pencegahan bunuh diri. Melalui beragam aktivitas tematik pada skala internasional, nasional hingga lokal-individual.
Makin banyak negara mengambil komitmen untuk menurunkan 10% angka kematian karena bunuh diri (suicide rate) hingga tahun 2020 saat ini. Harapannya, sesuai target Sustainable Developmental Goal (SDG)s, pada tahun 2030, sepertiga kasus bunuh diri dapat ditekan.
Berdasarkan Atlas Kesehatan Mental WHO, tidak ada satupun negara berpenghasilan rendah yang memiliki strategi pencegahan bunuh diri. Sedangkan kurang dari 10% kalangan negara berpenghasilan menengah dan hampir sepertiga negara makmur tercatat telah memilikinya.
Australia adalah salah satu negara yang memiliki strategi pencegahan bunuh diri terutama di kalangan usia anak yang dapat dijadikan referensi. Berdasarkan hasil riset Nasional Australia, bunuh diri merupakan penyebab tertinggi kematian di Australia paling tidak sejak tahun 2002.
Pendekatan Student Learning and Student Wellbeing
Pelaku bunuh diri laki-laki tiga kali lebih banyak daripada perempuan. Lebih dari sepertiga laki-laki yang melakukan bunuh diri merupakan penyalahguna narkoba disertai pengalaman kesehatan mental yang tidak baik. Adapun lebih dari 38% perempuan yang meninggal karena bunuh diri ditengarai mengalami depresi.
Dengan demikian pemerintah Australia menangkap bahwa bunuh diri di kalangan anak dan usia produktif terasosiasi erat dengan persoalan kesehatan mental. Oleh karena itu strategi pencegahannya pun dipandang harus ditempuh secara sistemik, sistematik dan kolaboratif. Mulai dari level federal, state, hingga individu di sekolah dan komunitas (Rumah Sakit, pusat rehabilitasi dan masyarakat).
Autralia melakukan pengalokasian dana khusus untuk pelayanan kesehatan mental. Selain itu Department of Education di Brisbane, Queensland, misalnya mengembangkan sebuah kerangka kerja dan implementasi pendidikan. Dengan pendekatan student learning and student wellbeing di semua sekolah.
Porsi pembelajaran dan kesejahteraan psikologis diformulasikan setara sebagai pengalaman yang harus seimbang diperoleh anak selama bersekolah. Secara teknis, pimpinan sekolah diharapkan dapat ; pertama, menciptakan sekolah sebagai lingkungan yang aman, mendukung dan inklusif untuk semua anak.
Kedua, mengembangkan kapabilitas staf, guru, peserta didik dan warga sekolah. Ketiga, mengembangkan sistem manajemen yang kuat. Agar mampu mengambil tindakan intervensi dini terhadap setiap bentuk kendala pembelajaran dan pencapaian kebahagiaan peserta didik.
Program Mental Health Coach
Sebagai inovasi program sejak tahun 2016, Departemen Pendidikan Pemerintah Queensland mencanangkan program Mental Health Coach. Dimana secara progresif menyasar pengembangan kapasitas peserta didik, guru, pekerja sosial hingga tokoh masyarakat. Dengan menggandeng kemitraan lembaga profesi dan industri.
Harapannya, ketika peserta didik belajar menguatkan karakternya, ada guru, kawan sebaya dan orang dewasa lain yang mengembangkan skill fasilitatif untuknya; dan pimpinan sekolah, masyarakat dan negara yang mengokohkan sistem penjamin kelangsungan hidupnya.
Selama masa pandemi Ikatan Psikolog Klinis (IPK) mencatat banyak individu, keluarga dan komunitas yang mendatangi psikolog. Sebagian besar dengan keluhkan klien adalah kesulitan belajar.
Selain itu, kebanyakan klien anak usia sekolah menyatakan memiliki masalah stress, kecemasan, masalah mood, gangguan kecemasan, hingga melukai diri (self-harm). Self harm merupakan tindakan melukai diri secara sengaja yang hampir selalu berawal dari anggapan kesulitan memahami situasi secara adaptif.
Dengan gambaran masalah yang dialami anak selama pandemik tersebut. Maka upaya pemulihan kesehatan mental untuk mencegah bunuh diri anak merupakan hal yang menjadi keharusan. Selain itu, riset menunjukkan bahwa anak yang sehat mental, akan dapat menerapkan perilaku hidup sehat. Sehingga kualitas hidupnya lebih bagus yang ditandai dengan peningkatan taraf kebahagiaan. Konsekuensinya daya imun anak meningkat potensi terinfeksi virus menurun. Anak dapat menerima kenyataan serta menjalani aktivitas di era baru dengan adaptif.
Pencegahan Bunuh Diri Anak di Masa Pandemi
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (2019) menggagas empat upaya pencegahan bunuh diri anak dan remaja. Upaya pecegahan ini dapat ditempuh orangtua, guru juga sebaya dengan cara-cara ; (1) kenali tanda-tandanya, (2) ajak bicara, (3) dengarkan), dan (4) dapatkan bantuan.
Berkaca dari pengalaman konseling, seseorang yang memiliki pikiran bunuh diri memandang situasi hidup yang dihadapinya teramat keras. Serta mengalami kesulitan dalam membingkai pemahaman terhadap situasi tersebut. Tidak sedikit lingkugan mempengaruhi seseorang mempunyai pikiran bunuh diri. Diantaranya orang tua yang toxic, teman sebaya yang merusak dan orang dewasa yang diskriminatif.
Berbagi pikiran dan perasaan tentang kecenderungan bunuh diri tidak selalu mudah bagi anak mengingat kentalnya stigma sosial dan anggapan tabu. Kehadiran seseorang yang dapat dipercaya untuk sesaat saja bersedia mendengarkan ungkapan rasa dengan saksama seringkali menjadi alasan diurungkannya niat tersebut.
Makin banyak orang-orang dengan karakter tersebut tersedia dan bersinergi di lingkungan kita. Maka makin besarlah peluang anak mendapatkan fasilitas kesehatan mental yang berkualitas. Memang, it takes a village to raise a child. Tentunya “kampung” dengan penduduk yang melek, berani take action secara kolaboratif melindungi kesehatan mental anak yang diharap dapat mencegah bunuh diri anak. (editor : Vika)

Guru bimbingan dan konseling dengan pengalaman lebih dari 10 tahun melayani di SMKN 1 Soreang dan SMKN 1 Kota Sukabumi. Selain tercatat sebagai anggota Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), pengurus Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Kabupaten Bandung, dan MGBK Indonesia, penulis juga merupakan Creative Director Komunitas Guru BK Belajar dan Ketua Dewan Pengurus Pusat Rumah Produktif Indonesia (DPP RPI) Departemen Penguatan Karakter.

Karyadi
Tulisan yang bergizi utk guru BK