f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
julia

Yang Tak Terdefinisikan (2)

Yang Tak Terdefininisikan (1)

Seseorang tolong jawab pertanyaan Anggara, apakah lima puluh km/jam untuk kecepatan sebuah mobil di jalan kosong melompong bisa dikategorikan sebagai kebut-kebutan? Otak Anggara memprotes, tapi si kaki justru mengikuti instruksi perempuan di belakangnya, menurunkan kecepatan. “Apa salahnya, sih, bawa mobil pelan-pelan?” Julia memicingkan mata ke spion. “Enggak dosa, kan?”

“Ini aku udah pelanin loh. Cuma empat puluh, tuh, lihat!” Anggara menunjuk-nunjuk speedometer walau dapat dipastikan perempuan di belakangnya tak akan melihat.

“Lagian kamu bawel banget, sih,” Anggara kembali bicara. “Kayak mama aku, deh!”

Tiba-tiba saja Andin bersiul keras memunculkan suara “Uhuy!” ke seluruh penjuru.

“Eh Angga, tahu enggak,” kata Andin dengan nada misteriusnya. “Gue pernah baca artikel, katanya, cowok itu kalau nyari istri, biasanya yang sifatnya mirip mirip gitu sama ibunya, ciyee!” Godaan Andin membuat Dean ikut bersiul, sedangkan Anggara susah payah membuat ekspresinya tetap terlihat cool.

Julia tak berminat. Dicarinya posisi bersandar ternyaman, lalu memilih diam menghadap jendela samping kanan mobil. Astaghfirulllah, astaghfirullah, astaghfirullah. Jangan baper, Julia. Jangan. Sayangnya, harapan untuk bisa duduk tenang nampaknya hanya tinggal kenangan ketika Anggara membuka suara.

“Gimana nih, Jul?” tanya Anggara. “Nikah sama aku, yuk!”

Andin dan Dean berteriak seketika, membuat telinga Julia terasa pengang. Mereka mulai bersorak, seolah apa yang baru saja terjadi adalah adegan paling romantis sejagad raya. Anggara masih memainkan peran stay cool-nya meski sesekali mencuri pandang ke arah spion.

Tiga detik sudah Julia menatap lekat spion itu, mencari keseriusan dalam kalimat Anggara, tapi hasilnya nihil, dan harusnya ia tahu itu sejak awal. Anggara memang tersenyum, tapi bukan senyum seperti itu yang dicari. Julia meringis. Nahas, ternyata ia mengalami ini juga. Menjadi objek lelucon yang disandingkan dengan sebuah kata kerja bernama menikah, rasanya begitu menyedihkan.

*

Ingin sekali Julia tanyakan pada laki-laki di balik kemudi itu. Apakah karena ini hanya bercanda, lantas ia juga harus ikut tertawa? Menertawakan perasaannya yang sekarang sedang dipermainkan? Hah! Lucu sekali!

Tolong jawab, apa di dunia ini tidak ada guyonan lain sampai sampai harus mempertaruhkan perasaan demi membuat suasana yang asik? Yang riuh ramai seperti saat ini? Apa perasaan Julia setidak penting itu, sampai sampai gagasan menikahinya setara dengan lelucon? Atau, apakah bagi Anggara—yang entah menganggapnya sebagai apa itu—Julia memang tidak pantas untuk diseriusi? Untuk dijaga perasaannya? Susah payah Julia menahan luapan pertanyaan yang bercokol di kepala, yang mungkin tidak akan bertemu jawabnya.

Tiba-tiba Andin menyenggol sikut Julia dengan sikutnya, menghentak Julia kembali pada kenyataan. “Jul, gimana ih, ditanya Anggara tuh,” masih dengan nada menggodanya, lengkap dengan alis yang dinaikturunkan. Julia melirik sekilas pada Andin, lalu menarik nafas dalam-dalam.

“Jangan bercanda sama kata nikah, Anggara,” tatapan Julia berpindah arah pada spion. “Allah enggak suka.”

“Dan jangan katain aku baperan atau enggak asik!” lanjutnya seolah bisa menebak yang dipikirkan tiga manusia di dalam sana. “Aku yakin kita udah cukup dewasa, buat ngerti bahwa nikah bukan bahan bercandaan,” riuh ramai yang sebelumnya memenuhi ruangan seketika menghilang. Detik itu juga, Julia harap semua manusia di bumi ini mengerti, bahwa ada hal-hal yang dilarang untuk dibercandai, termasuk pernikahan. Catat baik-baik. Di-la-rang.

*

“Berarti kalau aku seriusin,” Anggara kembali melihat ke arah spion, “Kamu mau?”

Julia kembali melihat spion, menatap mata yang setiap berapa detik sekali mencuri pandang padanya. Kali ini, kali ini saja. Apa boleh Julia berharap tidak ada candaan dalam kalimat tanya itu? Dan lima detik, hanya lima detik waktu yang mampu ia berikan pada hatinya untuk mencari keseriusan dari manusia yang bayangannya dipantulkan cermin kecil itu.

Jika saja percakapan di café siang tadi tidak pernah ada, Julia akan berani berharap telah menemukannya tepat ketika mata keduanya bertemu di detik terakhir. Tapi sekarang? Apa lagi yang bisa diharapkan? Satu-satunya yang boleh ia simpulkan adalah, mereka hanya sedang dalam zona bercanda. Ah, harusnya Julia memang tidak pernah memberi hatinya kesempatan untuk berharap.

 Julia kembali memalingkan wajah dan menatap ke luar jendela. Perempuan itu memilih diam, lagi. Dirapatkannya kedua tangan, memeluk diri sendiri. Ia terlalu takut berjalan lebih jauh dalam percakapan ini. Bukan hanya karena substansinya, tapi karena orang itu adalah Anggara. Untuk apa bertahan di jalan yang abu-abu, kalau hitam dan putih sudah jelas di depan mata? Manusia tinggal menentukan pilihan, lalu bertanggungjawab atasnya, kan?

Dan Anggara, kenapa harus memberi pilihan, kalau satu di antaranya tidak mampu kamu berikan? Ah, tapi sudah lah. Suatu hari nanti, ini semua akan sama-sama terlupakan, kan? Atau, yaa, setidaknya, tidak lagi kita pedulikan.

*

Dua tahun. Apakah itu cukup untuk dikatakan sebagai “suatu hari nanti” bagi hari ini? Karena jika iya, maka langit yang sedang sendu itu bertanya-tanya, sudahkah yang terjadi dua tahun lalu, berhasil dilupakan atau tidak dipedulikan lagi oleh Julia dan Anggara?

Julia sedang mengetuk-ngetuk layar gawai ketika langit semakin murung menatapnya. Tangannya menggantung, membiarkan matanya menyaksikan sebuah video yang tak lebih dari lima belas detik pada sebuah akun bernama dean_p.

Pada gambar bergerak itu, disaksikannya Dean, Andin, dan teman-temannya yang lain sedang saling berseru dan tertawa bahagia. Dari tampilannya, Julia yakin, mereka sedang menghadiri sebuah acara yang cukup formal. Lagi kondangan. Batinnya.

Julia tersenyum dalam. Ah, sudah lama sekali rasanya, tidak bertemu mereka, pergi ke suatu tempat yang cukup jauh hanya untuk sarapan bersama, makan siang, atau mungkin mencicipi makanan di tempat yang baru. Diabsennya satu per satu teman sepermainannya itu dan kalau tak salah, maka hanya dua orang tidak ada di sana—dirinya dan Anggara. Hey, apa kabar orang itu sekarang?

*

Jempol Julia sudah siap menggeser tampilan pada layar ponsel itu, ketika tiba-tiba kalimat Dean membuatnya terdiam. Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna maksud dari kalimat itu.

“Demi si Anggara, gue balik ke Indo, padahal kaga dapet cuti!”

Video itu kini berpindah. Julia masih terdiam, menanti akan seperti apa kelanjutannya.

Kali ini, Dean menggunakan kamera belakangnya. Disorotnya bagian dalam sebuah gedung yang penuh hiasan di sana sini, mencipta kesan haru bahwa ini adalah hari spesial bagi seseorang dan, oh! apakah tadi Julia sudah bilang bahwa yang tidak ada di sana hanya dirinya dan Anggara? Ternyata salah. Hanya satu yang tidak ada, dan orang itu adalah Julia. Karena Anggara ada, sebagai mempelai pria dari wanita cantik di sampingnya itu. Mereka berjalan, pelan, mengikuti irama saxophone, dan sesekali saling menatap sembari tersenyum, seolah hanya ada mereka berdua di dalam sana.

Julia menggeser jempolnya ke arah bawah. Ditekannya cepat-cepat tombol di bagian samping kanan atas benda pipih itu, dan layar pun gelap. Terlalu banyak perasaan merasuk satu ruang yang sama, membuat hatinya sesak. Ia mengatur nafas sepelan mungkin, memastikan orang-orang di sekitarnya tidak menyadari perubahan apa pun. Tiba-tiba, bunyi kling mengetuk telinganya. Sebuah pesan masuk.

Dari Indah, teman barunya di kota ini, kota yang tak ada Anggara di dalamnya.

Anggara nikah! Kok lo enggak dateng?

Julia menghembuskan nafas, dan sedikit menyunggingkan senyum getir.

Iya, gue ada acara soalnya.

Julia tidak berbohong. Tapi sungguh, jika saja ia tahu, jika saja kabar itu sampai, meski hanya sekadar kabar burung, atau bisikan rumput yang bergoyang, ia bersedia mengorbankan kegiatan apa pun itu demi menghadiri hari bahagia si Ombak Bumi. Bukankah keduanya pernah berjanji akan saling mengundang juga menghadiri hari bahagia satu sama lain? Kenapa laki-laki itu memilih ingkar? Ah, Julia mengerti, temannya itu tidak bermaksud ingkar. Hanya saja, Anggara berhasil melupakannya lebih dulu.

Lebih tepatnya, gue enggak diundang, hehe. Kirimnya lagi pada Indah, lalu disimpannya kembali ponsel ke dalam tas.

~

Anggara, terima kasih. Terima kasih karena telah menyadarkanku bahwa persahabatan “murni” antara laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa terjadi. Kamu bukan nabi, dan aku bukan shahabiyah. Kita hanya manusia biasa, yang terlalu bodoh memahami batas aman menjaga hati, lalu berlindung di balik kata sahabat hanya untuk membenarkan cara kita berkomunikasi, cara kita… “berteman”? Ah, aku lupa. Kamu bahkan enggak tahu, aku ini apa, kan? Tapi, yaa, anggap saja kamu sepakat denganku.

Anggara, akan kusampaikan pada anak cucuku kelak, agar lebih berhati-hati menggunakan hati, lebih hati-hati memberi hati. Dan, kalau suatu hari nanti teman-temannya berkata bahwa laki-laki dan perempuan bisa bersahabat, akan kukatakan bahwa itu bohong. Kuharap, kamu juga melakukan yang sama pada anak cucumu. Selamat berbahagia, Anggara!

*

Dua tahun lalu, di café saat matahari sedang bahagia-bahagianya.

“Aku dijodohin, Jul,” kata Anggara sambil memainkan kuah mie miliknya.

Julia mendongak. Nasi goreng yang baru saja hendak dilahapnya menggantung di udara.

“Oh iya?” Julia menjaga intonasinya senormal mungkin. “Sama siapa?”

“Belum tahu,” Anggara menatap Julia sekilas, lalu, “Bunda bilang, aku boleh deket sama siapa aja, tapi nikahnya tetep sama pilihan bunda”

Julia tersenyum—lagi-lagi berusaha—setulus mungkin yang ia bisa. “Sama siapa pun itu, aku yakin, bunda kamu pasti nyariin yang terbaik, buat dunia akhirat kamu”

“Gitu ya?”

Julia mengangguk pelan. “Lagian, alhamdulillah dong. Seenggaknya kamu enggak usah lagi pe-de-ka-te sana sini, gonta-ganti pacar dengan alasan penjajakan atau apa pun itu. Kasian juga kali, Ngga, cewek yang kamu deketin, nunggu yang enggak pasti. Mending, kamu fokus mempersiapkan diri buat jadi imam keluarga kecil kamu nanti”

Anggara menatap Julia, mencari ketulusan dalam kalimat perempuan itu, dan, Julia tersenyum.

“Kalau kamu nikah duluan,” Julia melipat kedua tangannya di meja. “Kabarin aku, ya! Undang, loh!”

Anggara bergumam pelan.

“Anggara,” panggil Julia. “Janji?”

“Insyaallah”

Julia tersenyum, lalu menyesap milkshake cokelatnya yang tak lagi terasa manis.

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Bagikan
Post a Comment