Seperangkat Masjid dan Panti Asuhan
Sore itu, angin yang begitu lembut mengelus wajahku. Angin itu menjadikan lamunanku semakin dalam. Menjadikan ingatanku semakin deras pada sesosok perempuan. Perempuan yang terus melintas dalam ketidaksadaran ketika aku menatap masjid yang berada tepat di depan rumah sederhanaku.
Perempuan itu menjadi bagian dari masa lalu pertemanan yang biasa saja. Aku dan dia tidak pernah menjalin sebuah hubungan kasih yang serius seperti anak-anak muda pada umumnya.
“Pacaran itu ribet, Gam” serunya selalu saat aku singgung tentang hubungan romatisme yang lebih jelas.
Tentu aku tidak bisa membantah. Selalu saja aku meng-iya-kan apa yang ia katakan. Entah mengapa, saat berdua bersamanya, bibirku tidak mampu membantah setiap celotehnya. Terlebih, celotehnya begitu merdu seperti suara burung bul-bul dari surga yang sering diceritakan mamaku saat aku kecil.
Suatu ketika, kami sedang berjalan menuju perpustakaan. Lalu, tanpa diduga ia mengajukan sebuah kegelisahan yang amat remeh. Barangkali, hanya berniat untuk menggodaku.
“Aku penasaran deh, Gam, kira-kira, suatu saat nanti kamu akan menikah dan menjatuhkan cinta sejatimu pada siapa ya?” tanya dia begitu santai sambil berjalan.
“Hah?” aku bertanya kaget. Memang, dia kadang se abstrak itu dalam membuat topik obrolan. Kadang, aku dibuat pusing oleh pertanyaan-pertanyaan polosnya.
“Iyaaa, Gam. Kamu kan ganteng, baik, banyak disukai perempuan, kalau gak salah, mantan pacarmu juga banyak. Hmmm petualang asmaralah. Jadinya, aku penasaran, sang petualang asmara sepertimu akan melabuhkan hati terakhirnya pada siapa?”
Aku terdiam sejenak. Tipis-tipis merenungi pertanyaannya yang barangkali untuk kali ini cukup membuatku serius.
Aku coba menjawabnya,
“Gina, bagaimana mungkin kamu merasa penasaran dengan suatu hal yang jelas-jelas jawabannya adalah ‘kamu’” Jawabku cukup serius dan datar.
Seketika Gina berhenti berjalan, akupun mengikuti. Lalu, dia menatapku, akupun demikian. Situasi hening sejenak. Kemudian, kami berdua tertawa terbahak-bahak di tengah jalan kampus. Sungguh aneh.
**
Gina tertawa mendengar jawabanku yang menurutnya bercanda. Aku tertawa bahagia karena bisa membuatnya tertawa. Meskipun sebenarnya, jawabanku adalah bagian dari harapanku sendiri. Hmmm. Iyaaa, aku berharap suatu saat dapat menikah dengan Gina Fajrina Ulya. Perempuan mungil, berkacamata, dan bersuara merdu itu telah memikat hatiku sejak lama.
Suatu Ketika, di kantin kampus, aku iseng menanyakan suatu hal yang cukup imajinatif padanya.
“Gin! Kalau misalnya suatu saat ada seorang laki-laki sejati melamarmu untuk menikah, apa yang perlu laki-laki itu persiapkan untuk dijadikan mahar perniakahan denganmu?”
Gina terkejut seketika. Tapi, tidak lama. Dengan santai, dia mencoba mencari jawaban.
“Masjid dan panti asuhan”. Jawabannya santai.
“Haa? Sulit sekali, Gin?”
“Hmmmm. Entahlah. Tapi, sejauh ini pikiran menikah begitu jauh bagiku. Pacaran saja aku anggap ribet, apalagi menikah yaa kan? Tapi, jikapun suatu saat aku harus menikah dan menemukan sosok laki-laki yang membuatku nyaman dan bisa menerimaku dengan baik, yaa aku ingin seperangkat masjid dan panti asuhan sebagai saksi keputusan besarku itu. Agar setidak-tidaknya, Ketika kami sedang kesulitann dalam menjalani sebuah hubungan sakral itu, para jamaah di masjid dan para anak-anak di panti asuhan turut serta membantu kesulitan kami melalui do’a-do’a mereka. Do’a dengan suara yang langsung menembus surga”. Jelas Gina cukup serius.
Seketika, aku tertegun mendengarnya. Alasan yang luar biasa. Terlebih, alasan luar biasa itu dibalut indah dengan suaranya yang merdu. Sungguh, aku benar-benar merasa mendengar suara surga.
“Woooow” hanya itu suara yang bisa aku keluarkan.
“Hakakakakakakaa” Ia tertawa terbahak bahak melihat aku bengong mendengar celotehnya.
“Apasih, Gam. Kita ini masih jauh dari pernikahan. Kuliah saja masih semester 4. masih bocil;” Lanjutnya bercanda.
Tapi, aku memasukkan alasan menikah dan mahar yang diharapkan Gina ke salah satu misi besarku dalam hidup. Tentu memang sulit. Tapi, aku kembali ingat kata-kata khas Gina padaku,
“Insyaallah, pasti bisa, Gam”.
Kalimat itu selalu terngiang dalam kepalaku saat aku ingin menyerah atas suatu hal. Sungguh luar biasa perempuan itu. Dia telah benar-benar memikatku dengan daya magisnya.
Hingga, suatu momen yang ditunggu-tunggu setiap mahasiswa pun tiba, yaitu wisuda. Kami berdua lulus dengan hasil yang memuaskan dan tepat waktu. Beruntungnya, saat itu kami bisa mengikuti wisuda bersama-sama. Bersama teman-teman yang lain juga.
Tapi, rasanya ada yang harus tanggal. Di satu sisi, aku senang dengan kelulusanku. Tapi, di sisi lain, aku bersedih karena tidak bisa lagi bertemu Gina. Perempuan yang selalu duduk di depan kursiku saat kuliah berlangsung di kelas. Perempuan yang selalu memperingatkanku agar tidak bergadang jika esok harinya ada kuliah pagi. Dan, perempuan yang telah membuatku jatuh cinta. Sungguh, benar-benar jatuh cinta. Meskipun sayangnya, cinta itu tidak pernah ia gubris dengan serius pada saat itu. Aku pun tak memaksakannya. Karena tentu, aku menghargai setiap keputusan dan pandangannya tentang hidup.
“Makasi yaaa, Gama, untuk 4 (empat) tahunnya. Kamu partner kuliah terbaikku”
“Heheh iyaaa, Gin. Kembali kasih untuk yang terkasih tentunya” Jawabku dengan senyum dilema, anatra bahagia dan sedih.
Akhirnya kami berpisah. Sejak wisuda berakhir. Kami pulang ke kampung halaman masing-masing.
Tapi, pada saat itu, sebelum kita benar-benar berpisah setelah Wisuda, aku mengingat kalimat yang betul-betul melekat di benakku hingga hari ini.
“Aku tunggu masjid dan panti asuhannya yaaa, Gam” ia berteriak dari kejauhan saat itu sembari melambaikan tangan.
Sungguh, aku benar-benar memikirkannya. Semenjak itu, aku berniat ingin membangun masjid dan panti asuhan. Memang, pemicunya dari Gina. Tapi, tentu ketulusanku menyertainya.
Akhirnya, hari ini, aku benar-benar bisa menyaksikan masjid itu berdiri tepat beberapa meter di depan rumahku sendiri. Begitupun panti asuhan yang kokoh tegak di sebelahnya. Dan, hari ini juga aku sedang melamun di hadapan dua bangunan suci itu.
Setiap hari aku mendengarkan lantunan ayat suci yang begitu merdu. Mengingatkanku pada alasan yang begitu kuat tentang pentingnya sebuah masjid, panti asuhan, dan do’a para penghuni surga untuk kehidupan kita di dunia.
Adzan magrib berkumandang.
Lamunanku disadarkan oleh istriku yang menggubris untuk segera mengambil Wudhu.
“Sayang, sudah wudhu?”teriak merdu istriku membuyarkan lamunanku.
Mendengar itu, aku langsung bergegas dan segera menuju masjid bersamanya.
Lepas sholat magrib kami langsung pulang. Lalu, aku mengajukan sebuah pertanyaan padanya (istriku).
“Kira-kira, bisa tidak yaa kalau kita membuat masjid dan panti asuhan satu lagi?”
Kemudian, ia menjawab dengan santai seperti biasa.
“Insyaallah, pasti bisaa, sayang”
Seperti biasa, suaranya begitu merdu. Semerdu suara burung bul-bul dari surga yang sering diceritakan mamaku saat aku kecil. Juga semerdua suara keabadian. Dan, berkat rezeki dari Tuhan dengan masjid dan panti asuhan, aku bisa mendengar suara merdu keabadian itu setiap hari di rumah yang hangat dengan do’a-do’a surga di sekitarnya.
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya asal Bangkalan
