f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ayah

Lepas

Musik dangdut koplo di radio masih terdengar seru dari sebuah warung makan satu-satunya di dukuh tempatku lahir. Orang menyebutnya warung pojok karena kebetulan terletak di pojok ladang singkong. Jalanan di sekitar masih basah lantaran hujan semalam cukup deras dan disertai gelegar guntur yang membuat sebagian orang tak bisa memejamkan mata. Ada semacam perasaan takut di setiap usai mendengar gelegarnya. Pikiranku melayang jauh terhadap ingatan masa lalu tentang ayah, ibu, dan saudara-saudaraku.

Hari belum terlalu sore ketika kulangkahkan kaki kurusku menuju sebuah makam desa tak jauh dari warung pojok. Sengaja kumampir dulu di warung itu, siapa tahu ada beberapa info yang bisa menambah khasanah pengetahuanku seputar tanah kelahiranku yang lama kutinggal merantau.

Kopi yang kupesan tinggal setengah. Kuseruput demi sekedar menghangatkan badan. Mendoan hangat di piring juga tinggal beberapa. Aku lupa berapa potong yang sudah kulumat saat kuputuskan tak memesan nasi karena makan siang yang disediakan abangku belum kusentuh.

Langit terlihat sebagian gelap karena mendung, mungkin malam nanti hujan mengguyur lagi. Di warung, ada beberapa bapak muda yang masih menikmati rokoknya sambil bercerita macam-macam topik yang sedang hangat di media sosial. Melihat wajah mereka yang masih muda, kuyakin mereka tak mengenalku. Mungkin, waktu aku pergi dari desaku mereka belum lahir.

Ibu pemilik warung beberapa kali kupergoki memperhatikanku seolah mengenalku. Aku pura-pura tidak tahu padahal aku sangat mengenalnya karena dia temanku semasa kecil waktu SD. Bu Anah namanya. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan menyeruput kopi, ketika tak sengaja pandangan kami bertemu.

Sengaja kubiarkan jenggot dan cambang tumbuh rimbun di dagu dan pipiku. Aku tak ingin ada yang tahu siapa aku sebenarnya dan mengapa aku mesti meninggalkan desa sangat lama. Ah, aku terlalu berprasangka. Segera kutepis perasaan itu, bagaimanapun juga, aku pernah tumbuh dan besar di kampung ini. Untuk apa kututupi? Hati kecilku bahkan menyuruh agar aku segera menyebut nama asliku agar pemilik warung, temanku itu, tahu.

***

Sejak kuputuskan pergi dari rumah 40 tahun lalu, hidupku terlunta-lunta. Pekerjaan apa saja pernah kucoba. Dari kuli panggul di pasar, kernet bis malam, ikut teman jadi sales barang elektronik sampai jadi kuli di sebuah proyek bangunan di ibukota. Semua kulakukan untuk sekedar menyambung hidup. Karena aku pergi tanpa berbekal apa-apa, sekolah SMA juga belum tamat. Rasa malu dan rasa marah yang menguasai batinku saat itu sudah sampai pada ambang batas yang tak bisa dikendalikan. Hatiku benar-benar terluka. Sakit.

Baca Juga  My Unfamiliar Family : Merefleksikan Hubungan dalam Keluarga

Aku dua bersaudara laki-laki dari keluarga yang awalnya baik-baik saja sebelum prahara itu terjadi. Ayahku seorang guru SD. Ibuku adalah ibu rumah tangga biasa yang kata sebagian masyarakat sekitarku, sangat cantik. Kecantikan dan kemolekan ibuku ternyata tak cukup mengisi hari-hari ayahku dengan kebahagiaan.

Masa remajaku kala itu belum mampu berfikir mengapa ayah setega itu terhadap istri dan anak-anaknya. Tak pernah kudengar ayah dan ibu berseteru. Juga tak pernah kulihat ibuku cemburu ataupun menggerutu. Inilah yang justru membuatku tak bisa menerima perlakuan ayah yang tampak kalem dan halus tutur bahasanya tiba-tiba main di belakang. Saking halusnya cara ayah bermain hingga membuat rasa hormat dan sayangku kepadanya berubah drastis menjadi rasa benci yang tak terperi.

***

Aku laki-laki tapi aku perasa. Di usia puberku, aku jatuh hati pada gadis tetangga sebelah rumah yang menjadi adik kelasku si SMP. Dia tidak cantik tapi manis, sederhana, lemah lembut dan cerdas di sekolah. Kepadanya kulabuhkan cinta pertamaku. Meskipun tiap hari bertemu di sekolah, aku lebih suka menulis surat cinta untuk membunuh rasa kangenku.

Dia pun membalas setiap suratku dengan susunan kalimat yang santun dan indah, sehingga membuatku terbuai dan makin kesengsem untuk menjadikan dia sebagai pacarku. Cinta monyet memang indah dirasa dan aku merasa bahagia tak terkira setiap kali membaca surat-surat balasan darinya.

Di saat bersamaan, aku sudah tidak tahan lagi serumah dengan ayah yang telah mempermalukan aku, anaknya, di depan taman-teman sekolahku dan di mata guru-guruku. Jiwa mudaku tak mampu meredam rasa malu dan marah yang hadir setiap hari. Ibu dan abangku seolah bisu atas apa yang telah ayah perbuat. Aku tak kuat lagi, aku pun pergi meninggalkan mereka di tengah malam saat mereka dibuai mimpi. Aku pergi dari rumah dan tak ingin kembali.

***

Tiga malam berturut-turut mimpi buruk selalu menghantuiku. Setelah itu, biasanya aku tak mampu memejamkan mata lagi hingga pagi. Teman-teman sebelah, di rumah bedeng kecil itu, masih mengalunkan dengkurannya setelah capek seharian bekerja. Tak kuhiraukan kulit tubuhku yang bersisik akibat tiap hari bersentuhan dengan pasir dan semen. Sudah hampir 20 tahun aku setia pada bosku bekerja di bangunan perumahan di pinggiran ibukota.

Baca Juga  Komunikasi Suami Istri dalam Rumah Tangga

Beberapa hari ini berkelebatan wajah ibuku, abangku dan juga ayahku. Puluhan tahun tak ada kabar. Aku sengaja tak memberi kabar keberadaanku. Aku terlanjur malu dengan lingkunganku, teman-temanku dan semuanya. Tapi di balik itu, ada rasa bersalah di lubuk hatiku terdalam karena tak pernah memberi kabar kepada abang atau ibuku tercinta.

Kekalutan pikiran membuatku tak mampu menikmati makananku seperti biasa. Mau menelan makanan terasa seret dan sakit. Aku benar-benar tertekan oleh pikiranku sendiri. Antara pulang menengok ibu atau tidak, membuatku tak bisa tidur nyenyak. Sehatkah ia?

Rasa benci karena ulah ayah yang masih bersemayam di hati, ternyata merusak diriku sendiri. Setiap ada hasrat untuk mencintai lawan jenis segera kutepis. Aku khawatir tak mampu membahagiakan pasanganku, karena itu hingga kini aku masih sendiri.

Gelisah hatiku sudah tak tertahankan lagi. Aku pulang. Aku mudik. Menjelang azan subuh berkumandang, sampailah aku di kampung halamanku yang sudah berubah seperti kota. Terang benderang oleh cahaya lampu di sepanjang jalan dan rumah-rumah penduduk tampak makin asri.

Tukang ojek yang mengantarku segera pergi setelah aku minta turun di rumah yang kuyakin rumah abangku. Jantungku berdebar tak beraturan. Sempat sejenak termangu memandang rumah masa kecilku yang sudah berubah bentuk dan ukurannya. Ada keraguan di dadaku, benarkah ini rumah abangku dan juga rumahku yang dulu?

***

Kuketuk pintu sambil mengucap salam. Tak lama kemudian kulihat seraut wajah di balik pintu yang dibuka pelan. Wajah menua, tubuh kurus dan rambut panjang yang dikuncir di belakang leher tampak jelas. Ya, wajah abangku.

Tanpa menunggu dikomando, kupeluk tubuh krempeng itu sambil menangis dan tak mampu berkata-kata. Dia pun menangis dan beberapa saat kami larut dalam pikiran masing-masing. Hampir saja dia tak mengenaliku jika aku tak memanggilnya. Tubuh kurusku, rambut dan jenggotku, cukup membuatnya ragu. Hanya suaraku yang tak asing di telinganya.

Di rumah abangku ternyata sepi. Ketiga ponakanku yang belum pernah kukenal, sudah berumah tangga dan di hari itu aku diberitahu bahwa kakak iparku sudah lama tiada karena sakit. Tak sabar kutanyakan kabar tentang ibu dan ayah. Aku ingin bertemu. Dengan kalem dia menjawab bahwa ibuku telah berpulang pas seminggu yang lalu setelah sakit beberapa hari usai jatuh di kamar mandi. Deg. Ada sensasi hangat yang mengalir di pipiku mendengar kabar itu. Hatiku pilu.

Baca Juga  Keuangan dalam Pernikahan

Penyesalan selalu datang belakangan. Aku sangat merindukan ibu dan aku ingin minta maaf dengan bersimpuh di kakinya. Aku berjanji takkan meninggalkannya lagi. Terlambat. Kupandangi lantai semen yang kupijak serasa berputar-putar. Walau kepalaku pening, namun masih bisa menyimak cerita abangku dengan jelas.

Darinya aku tahu, ibuku dicerai ayah. Ayah memilih yang lebih muda dan ranum untuk menjadi pengganti ibuku. Tak lain dan tak bukan yang dipilih ayah, adalah teman sekelasku waktu SMP, yang sering jadi bahan olok-olok teman-teman karena ia temanku sekaligus ibu tiriku. Hatiku kembali perih.

***

“Kopinya tambah lagi, Pak?” Suara Bu Anah mengagetkanku.

“Emm, makasih, maturnuwun, sampun.” Aku gugup.

Bu Anah akhirnya tahu siapa aku, setelah aku cerita dan kuutarakan maksudku pergi ziarah ke makam ibu yang seda seminggu lalu. Entah karena kasihan melihat tampangku atau karena apa, kopi dan mendoan yang kusikat habis tak mau kuganti alias gratis. Aku pamit ke Bu Anah, langsung menuju makam yang hanya dua menit berjalan kaki. Sebelum pamit, Bu Anah sempat memberi tahu bahwa ayah dan ibu tiriku juga sudah tiada.

Area makam tampak lengang sore itu. Hanya ada beberapa orang yang masih khusyuk berdoa di dekat pusara. Tak jauh dari pusara ibuku, ada dua wanita yang hendak berdiri sehabis berdoa. Tak sengaja kulihat wajah keduanya mirip, mungkin kakak beradik. Yang satu tubuhnya sedikit gemuk dan satunya lagi kurus mungil.

Dadaku berdegup kencang tak menentu saat mereka tiba-tiba menatapku. Mata kami sempat beradu yang hanya berjarak sekitar tiga meter. Aku sangat mengenal wajah si pemilik tubuh mungil itu. Sorot matanya tak berubah, wajahnya lebih tirus dibanding yang dulu. Masihkah ia mengenalku? Haruskah semua yang kurindu, kini lepas dariku?

Bagikan
Post a Comment