f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Kisah Para Pria Bersarung (3)

Inilah kisah para pria bersarung. Kisah ini dimulai dari cerita senja yang berujung pada kata maaf.

Usai sholat shubuh, bau anyir hujan bercapur darah masih tersisa. Ribuan dendam masih tersusun disana, ia lebih dulu membunuh Ramadhannya. Rahmad segera menempatkan jenazah kakeknya di atas batu dekat mata air. Ia memandikan jenazah kakeknya. Setelah selesai, dia mengambil kain yang seingatnya pernah diletakkan kakeknya di dekat mimbar.

Dia menemukannya. Jenazah kakeknya ia kafani. Sampai pada akhirnya, ia berujar sekali lagi pada kakeknya. “Aku akan membunuh para pria bersarung itu kek, aku akan membunuh tawa mereka, aku akan potong kepala mereka, akan kubalaskan dendammu pada mereka, itu janjiku”

Ia bangkit dan bersiap mendirikan sholat jenazah. Ia sendiri, berdiri di antara ribuan amarah. Sudah tidak ada lagi tangisan di dalam hatinya. Bulir bulir darah memenuhi hati kecilnya. Hujan hujan dendam. Aliran aliran pembalasan. Hatinya seperti lautan merah. Ia darah.  

Ia mencari batu untuk menggali makam kakeknya di sebelah masjid. Kurang lebih satu jam ia berjibaku dengan tanah. Dan akhirnya, jenazah kakeknya ia makamkan disamping masjidnya. Ia berjalan ke bibir sungai.

****

Tak disangka, banyak mata memandang disana. Mata-mata picik. Mata-mata licik. Mereka semua bersarung. Rahmad tak mengenal mereka. Tangannya masih membawa batu, bekas untuk menggali kubur kakeknya. Matanya telah buta. Ia memutuskan untuk melawan aliran sungai.

Sementara di seberang sungai. Para pria bersarung itu masih terkekeh kekeh menertawakan Rahmad yang mulai turun ke tepi sungai. Mereka percaya Rahmad akan mati ditelan sungai seganas itu.

Dengan mengumpulkan segenap kebenciannya ia berenang. Ia terus berenang dan berenang. Ia berhasil mencapai tengah sungai. Sedangkan para pria bersarung itu bersiap-siap menyambutnya dengan parang, pisau dan benda tajam lainnya. Mereka akan membunuhnya pada saat Rahmad sampai di tepi.

Allah berpihak lain. Rahmad tak kuat lagi dan terseret arus tidak jauh dari tempatnya. Kedua kalinya rahmad berusaha. Kali ini ia berenang dengan mengumpulkan segala bentuk dendamnya. Ia berenang dan terus berenang. Belum sampai ditengah, tawa para pria bersarung itu pecah. Mereka tertawa melihat perjuangan anak sekecil Rahmad melawan arus sungai. Rahmad kalah. Rahmah terseret arus.

Tapi kali ini, untuk ketiga kalinya. Ia mengumpulkan segala kekuatannya, wajah kakeknya, darahnya, dan lautan dendamnya. Ia ingin mengalahkan sungai itu dengan dendam yang membara.

****

Rahmad sudah melewati tengah-tengah sungai. Ia hampir sampai ke tepian. Para pria bersarung itu menunggunya. Raut muka mereka sangat jelas, memerah dan siap menerkam mangsa. Tiba tiba sebuah ranting pohon besar menabraknya. Dia tak sadarkan diri dan terseret arus sampai jauh.

Para pria bersarung itu tertawa terkekeh kekeh. Mereka tertawa sepuasnya. Sejadi jadinya, mereka yakin rahmad sudah mati. Mereka menang. Sebentar lagi masjid akan mereka kuasai.

****

Satu hari berlalu.

Seharusnya para penduduk desa bayan malam ini melangsungkan tarawih pertamanya. Mereka berbeda pemahaman dari Mbah Dul. Rencananya mereka akan melangsungkan tarawih di balai desa, setelah akses ke masjid Mbah Dul diputus.

Maghrib sedang bercengkrama mesra dengan senja. Desa bayan riuh, mereka kedatangan seorang anak yang dikira sudah mati tadi malam. Anak itu dengan tenangnya melaksanakan sholat maghrib ditengah tengah jalan poros desa. Semua penduduk berkumpul. Semua obor dinyalakan. Mereka mengelilingi anak itu.

Sementara anak itu belum juga beranjak dari sholatnya. Ia sujud lama sekali. Sekali kali terdengar terisak isak, menghayati bacaan sujudnya. Ia akhiri sholatnya dengan salam dan istighfar. Ia bersila.

Kemudian ia membaca sebuah ayat  dalam surat At Thur 35-43,

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun  ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan) ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan. Tuhanmu ataukah merekalah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan hal-hal yang gaib? Karena itu, hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak laki laki? Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani hutang? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Orang-orang yang kafir itulah yang kena tipudaya. Ataukah mereka mempunyai illah selain Allah? Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Setelah membaca ayat itu, anak itu mengeluarkan surat dari dalam sajadahnya. Ia mendapatkan surat itu dari saku kakeknya. Ia letakkan begitu saja. Semua mata menangis. Mereka bersujud. Dan maaf menjadi kata yang paling pertama diucapkan dan terakhir kalinya untuk dimaafkan.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment