f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
canberra

Suatu Hari di Canberra

Oleh : Monica Novianti*

Aku masih termangu memandangi cangkir kopi kosong di hadapanku. Pun sepotong kue vanila juga telah ludes. Perutku sudah lebih dari kenyang tetapi mulutku masih ingin mengunyah makanan.

Segera pikiranku menyuruh untuk mengingat saldo yang masih tersimpan di rekening. Ada sekitar AUD $600. Cukup untuk kebutuhan hidup dua minggu sebelum beasiswa suamiku cair. Sejak mengikuti suami ke Canberra, Australia, aku belajar untuk hidup lebih hemat. Hidup di luar negeri tidaklah murah untuk ukuran kami yang hidup mengandalkan beasiswa. Untuk sekedar menikmati makan dan minum di kafe ataupun restoran, hanya cukup untuk sesekali, seperti siang ini contohnya.

 Aku berjalan keluar dari Groove Cafe dan melangkah menuju halte bus. Bus nomor 4 ke arah Woden Interchange akan datang sekitar lima belas menit lagi. Aku memutuskan untuk membaca buku yang dipinjam dari Civic Library. Meminjam buku di perpustakaan menjadi salah satu hiburan selama menjalani kehidupan di Australia.

…

Dulu sebelum menikah, aku memang mempunyai keinginan untuk menjalani kehidupan di negeri orang. Tidak hanya sekedar merasakan pengalaman hidup di luar negeri, namun juga menuliskannya agar apa yang aku alami bisa dibaca oleh orang lain.

Tetapi keinginan tersebut hanya sekedar keinginan. Nilai kuliahku bisa dikatakan biasa saja, jauh dari level cumlaude. Pun untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, ibuku sangat keberatan. Katanya, beliau lebih tenang melepaskan aku hidup di luar Jogja jika aku sudah menikah. Tentunya keinginan ibu terdengar konyol bagiku. Kala itu aku sama sekali belum memikirkan tentang pernikahan. Aku bahkan tidak tahu dengan siapa aku akan menikah. Diriku masih ingin menjalani banyak hal sebagai seorang lajang.

Akhirnya aku melamar posisi sebagai guru di salah satu sekolah dasar swasta tidak jauh dari rumah. Cukup membutuhkan waktu lima belas menit dengan mengendarai motor. Alhamdulillah, aku diterima sebagai guru di sana. Awalnya aku bekerja sebagai guru magang dengan tugas mendampingi wali kelas. Di sanalah aku mulai sedikit belajar mengenai dunia pendidikan yang ternyata tidak se-hitam putih di berbagai buku dan teori. Pun aku mulai belajar untuk bergaul dengan orang-orang yang usianya terpaut jauh di atasku serta hampir semuanya telah berkeluarga. Belum lagi aku juga mesti mulai melatih keberanianku untuk berkomunikasi dengan orang tua murid. Bukan hal mudah menjalin perbincangan dengan mereka. Muncul perasaan bahwa diriku yang belum menikah tentulah sangat tidak sepadan dalam hal mendidik anak dibanding mereka yang bertahun-tahun mengarungi rumah tangga.

Baca Juga  Ayah: Sosok Pelindung Telah Kembali

Ada satu hal yang masih kuingat ketika hari pertama menjadi guru. Salah satu guru senior menasihatiku untuk berhati-hati dalam berbicara dengan wali murid serta mendidik anak-anaknya. Katanya, banyak dari mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi di luar negeri sehingga kapasitas keilmuan mereka dianggap jauh lebih mumpuni. Tidak dipungkiri diriku sempat merasa rendah diri lantaran aku hanyalah seorang lulusan S1 kampus lokal yang bahkan belum pernah berpegian ke luar Pulau Jawa.

Tahun-tahun berikutnya aku diminta menjadi wali kelas. Sebuah amanah yang tidak mudah tapi juga menantang. Aku mulai lebih giat belajar mengenai teori pendidikan secara otodidak. Diri ini juga harus mulai lebih peka dengan kebutuhan anak beserta keinginan orang tuanya.

Pastinya juga harus mampu menata hati secepat mungkin usai mendengar hal tidak enak dari wali murid mengenai kinerjaku sebagai guru.

Pernah suatu ketika lantaran hampir semua murid di kelasku harus mengikuti remidi ulangan matematika karena nilai mereka di bawah standar minimal. Salah satu orang tua murid ingin menemuiku. Saat bertemu, beliau banyak bertanya mengenai apa saja upaya yang sudah aku lakukan dalam memahamkan murid agar mengerti materi yang kusampaikan. Bahkan sampai pula beliau menanyakan dari kampus dan jurusan apa aku lulus. Aku tahu bahwa inilah risiko menjadi guru tetapi pertanyaan beliau terasa sebagai penghakiman serta hukuman akan ketidakbecusanku dalam bekerja. Padahal melihat siswa yang gagal mendapat nilai yang baik saja sudah merupakan pukulan bagiku, ada rasa bahwa diri ini gagal dalam mengajar.

Di tengah-tengah aktivitas bekerja, aku kembali tertarik dengan menulis sebagai pelampiasan kelelahanku. Entah mengapa, dengan menulis, pikiranku terasa lebih tenang. Aku mulai menganggap bahwa menulis merupakan terapi yang manjur dalam meredakan rasa penat usai mengajar. Tidak lupa menguatnya kegemaran menulis juga memicu meningkatnya kebutuhanku akan membaca buku dari berbagai genre, baik fiksi maupun non-fiksi. Ketika benakku sudah penuh dengan bacaan dan kesibukan, mulailah jemari ini lancar menuliskan kata demi kata.

Baca Juga  Si Jalak dan Si Kerbau

Lambat laun aku memberanikan diri ikut lomba menulis. Ada beberapa yang menang, tapi ada juga yang belum berhasil. Pun aku mulai mencoba untuk menulis buku. Awalnya berupa antologi cerita pendek, lalu berlanjut ke novel. Kegiatan menulisku ini mulai dikenal oleh kolega, atasan, dan orang tua murid. Tidak jarang aku diminta menulis artikel untuk media sekolah.

Di tengah kesibukanku sebagai guru dan manusia yang suka menulis, tiba-tiba seorang kakak angkatan yang aku kenal saat masih mahasiswa mengontakku. Awalnya ia tertarik membaca tulisanku. Aku tahu ia pun juga sering menulis untuk berbagai media nasional, bahkan media di luar negeri. Aku  mulai tahu pula bahwa saat ini ia tengah melanjutkan studi pasca sarjana di Australian National University, Canberra. Beberapa minggu setelah ia mengontakku dan menanyakan kabar, ia bertanya apakah ia boleh melamarku sebagai istrinya.

  Aku sempat tidak percaya dengan pertanyaannya. Segera aku menanyakan orang tuaku. Mereka bertanya siapa ia dan dari mana aku mengenalnya. Ibuku antusias melihat fotonya di media sosial dan mencermati tulisan-tulisannya. Hal yang lebih membuatku terkejut ialah, ayah yang biasanya paling tidak tertarik untuk membicarakan soal pernikahan kepadaku, langsung menyetujui ia menjadi suamiku.

Lima bulan kemudian, acara lamaran pun dilaksanakan. Akad nikah diadakan empat bulan sesudahnya, bulan Desember. Kami sengaja menikah pada akhir tahun karena saat itu merupakan libur panjang di Australia, jadi ia yang kemudian menjadi suamiku tidak perlu mengajukan izin cuti ke kampus. Tidak lama kemudian aku mengundurkan diri sebagai guru lantaran akan mendampingi suami di negeri seberang.

Bulan Mei tahun berikutnya, aku menyusul suami ke Canberra. Saat pesawat mendarat di bandara, mendadak aku teringat pesan ibuku yang mengatakan bahwa ia hanya bersedia melepaskanku tinggal di luar Jogja ketika aku sudah bersuami.

Baca Juga  Buya Syafii dalam Catatan Perempuan Agen Perdamaian
Wejangan ibuku menjadi kenyataan.

…

Bis berhenti tidak jauh dari Weston Creek Lake, sebuah danau tidak jauh dari rumah. Hanya membutuhkan lima belas menit jika ditempuh dengan jalan kaki.

 Aku memutuskan untuk mampir ke danau terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Selama perjalanan, aku menikmati suasana Canberra yang senantiasa sunyi. Walaupun berstatus ibu kota, namun tidak banyak manusia yang tinggal di sini. Canberra lebih didominasi oleh hutan, pegunungan, taman, dan danau daripada suasana perkotaan.

 Sampailah aku di tepi danau. Kulihat ada sebuah tempat duduk kosong, langsung saja aku menempatinya. Terlihat beberapa orang sedang berjalan kaki bersama anjingnya. Ada pula sepasang orang tua bersama tiga anaknya yang masih kecil, asyik berbincang di salah satu titik di tepi danau.

 Pelan-pelan aku menghembuskan nafas. Sudah sekitar satu setengah tahun aku tinggal di Canberra. Satu setengah tahun yang penuh dengan adaptasi, mengenal suami dan menjalankan peran sebagai istri, belajar budaya berbeda, melatih berkomunikasi dalam bahasa Inggris, menyusuri berbagai destinasi menarik, dan sesekali terlibat sebagai relawan di berbagai acara agar punya kesempatan bekerja dengan warga lokal.

Tetapi satu hal pasti yang aku pelajari sejauh ini ialah antara Australia dan Indonesia punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Pun aku juga menyaksikan bagaimana orang Australia yang notabene tinggal di negara maju ternyata memiliki kepelikan tersendiri dalam setiap masalahnya, tidak jauh beda dengan orang Indonesia. Aku harap jikalau suatu saat nanti mampir ke tanah air, aku mampu melihat negeriku beserta isinya dengan perspektif yang lebih positif dan mencerahkan.

*) Penulis adalah perempuan yang hobi membaca, menulis, menonton film, dan jalan-jalan. Kini menetap di Brisbane, Australia.

Bagikan
Post a Comment