f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Sayap-Sayap Malaikat (1)

Oleh : Nur Fitriana*

Setelah keluar dari pekerjaannya suamiku hanya bisa ngopi di warung depan kampus, suamiku bekerja sebagai karyawan tidak tetap di sebuah universitas. Sudah hampir lima tahun mengabdi di sana. Suamiku memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ingin melamar pekerjaan yang posisinya berbeda dengan yang sebelumnya namun takdir berkata lain, nasib masih tidak bersahabat dengan kami, suamiku tidak diterima ketika melamar pekerjaan baru.

Membangun Ekonomi Bersama

Akhirnya hanya aku yang sebagai pencari nafkah di keluarga kami, aku juga bekerja sebagai karyawan di sebuah universitas yang sama dengan suamiku, namun status pekerjaanku juga masih calon pegawai, gajiku hanya cukup untuk membayar hutang-hutang. Kami mempunyai banyak hutang di bank untuk membayar kuliah, tiap bulan kami harus nyicil angsuran.

Hujan turun semakin lebat, angin bertiup kencang sekencang goncangan hati kami, suamiku duduk termenung di teras rumah, aku menghampirinya, langkah kakiku menuju ke sana.

“Yah, ayo masuk ke dalam, di sini dingin anginnya kencang,” kataku sambil menarik tangannya.

“Dek, bagaimana kalau aku ngojek saja, jadi driver online?” pungkasnya dengan menatap wajahku.

“Nanti dipikirkan lagi ya, ayo masuk ke dalam dulu,” jawabku sambil merangkulnya masuk ke dalam rumah.

Sepertinya aku tidak mengijinkannya jadi driver ojek online karena kondisi kesehatannya harus diperhitungkan, karena suamiku ada masalah dengan imunitas di tubuhnya. Satu bulan sudah kami lewati hidup dengan keterbatasan, kami makan sehari hari mengandalkan pinjaman dari teman-teman.

Saat-Saat Tersulit

Sore hari anakku kelaparan minta makan, air mata ini tiba-tiba menetes di pipi, beras yang ada di kaleng sudah tinggal sedikit, uang untuk belanja sudah habis.

“Sabar ya nak, nasinya habis, nanti Ibu masakin sukun saja ya,” kataku sambil merangkul anakku.

Baca Juga  Sepi

“Iya Bu,” jawab anakku dengan muka sedih.

Aku tak tahan menahan air mata yang menetes di pipi, ku ambil tisu dan mengusapnya, aku bergegas melangkah ke ruang depan menghampiri suamiku.

“Yah, berasnya sudah habis,” kataku sambil membawa ember beras.

“Besuk ayah carikan pinjaman dulu ya,” jawab suamiku dengan santainya sambil meneruskan membaca bukunya, seakan cuwek dengan keadaan.

“Ya gak bisa gitu, kita sudah banyak hutang, masak kita selalu hutang, lama-lama kita ini terlilit hutang,” sahutku dengan rasa sedikit jengkel.

“Sudah tenang saja ya, nanti kita lebih sering shalat dhuha agar kita diberi rizki yang melimpah dan ayah tak mencoba untuk melamar pekerjaan baru di lain tempat,” kata suamiku menenangkanku yang lagi jengkel.

Bulan berganti bulan, Lowongan PNS (Pegawai Negeri Sipil) sudah di buka, suamiku mencoba untuk mendaftar, tes pertama Alhamdulillah diterima, sore itu pengumuman sudah di umumkan, suamiku bergegas melihat pengumuman online, tapi takdir berkata lain, suamiku tidak diterima, raut wajah suamiku yang semula sumringah jadi mengkerut.

“Masih banyak cara untuk membahagiakan kalian,” ucap suamiku sambil memeluk aku dan anakku.

“Tidak apa-apa ayah, masih banyak rizki di lain tempat, yang penting kita sudah usaha,” ujarku untuk menenangkan suamiku.

Hari itu Tiba

Keesokan harinya aku berangkat ke kantor pagi buta karena setiap hari sabtu pagi ada kegiatan halaqoh di kantor, dipertengahan jalan aku sudah berniat untuk shalat dhuha sesampainya kantor, setelah sampai kantor aku meletakkan tas di meja kantorku, lalu aku beranjak ke mushalah untuk melaksanakan shalat dhuha empat rakaat.

Setelah halaqoh selesai, kami menyantap hidangan sarapan pagi yang sudah disediakan panitia, tak lama setelah itu aku kembali ke kantor untuk aktifitas seperti semula, tiba-tiba ada pak Joni menghampiriku, pak Joni itu orang baik, beliau dulu pernah jadi partner kerja sebelum aku dipindah ke unit lain.  

Baca Juga  Berbincang dengan Rumi

“Mbak Salsa, ini titip buat Mas Doni ya,” kata Pak Joni sambil menyodorkan amplop putih ke depanku.

“Apa ini Pak?” tanyaku dengan sedikit bingung.

“Titip saja ke mas Doni,” jawabnya dengan senyum.

Setelah pak Joni keluar dari ruangan, aku bergegas membuka HP-ku untuk menghubungi suamiku.

“Yah, dapat titipan dari pak Joni,” kataku melalui telpon.

“Titipan apa?” jawabnya dengan santai.

“Amplop,”sahutku.

“ Buka saja, apa isi amplopnya?,” kata suamiku.

Bersambung ~

*Nur Fitriana, S.Sy, M.H* adalah Alumni Prodi Hukum Keluarga Islam FAI-UMM dan Staff Administrasi Prodi PAI FAI-UMM

Bagikan
Post a Comment