Gadis Korea dan Hafalan Hijaiyahnya
“Ini permintaan Mama yang terakhir, Nak.” Seorang perempuan paruh baya berkata lemah, lirih.
Jawaban Irma pada ibunya yang sekarat itu hanyalah isak tangis.
Selama ini memang Irma bukan anak yang selalu menuruti kata ibunya itu. Irma hanya pura-pura manut, namun di belakang ibunya ia tidak mengerjakan apa yang diminta. Selama ini ia hanya bermain-main dan bersenang-senang. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film Korea lalu berceracau di depan Chalia yang juga mengidolakan Korea.
“Kalau aku menuruti Mama, Mama berjanji akan sembuh?” Giliran bu Yeni yang tak menjawab, matanya terpejam sangat lama, dan kemudian tak pernah bangun lagi. Ibunya hanya meminta Irma untuk menjadi penghafal Quran. Itu saja.
***
Tergopoh Irma membawa kitab suci di dadanya dan menyandang ransel besar yang kalau dilihat, sangat tidak sesuai dengan tubuhnya yang kurus. Sepeninggal ibunya ia pun meminta paman mengantarkannya ke rumah tahfidz itu.
“Aku ingin hafal Quran Bu.” tukas Irma sambil tersengal-sengal.
Bu Ratih mengarahkan pandang, menurunkan kacamatanya, dan sedikit berkerut di keningnya.
“Sudah bisa baca Quran, Dik?”
“Belum sama sekali.”
“Selama ini tidak belajar?”
“Lebih suka menonton film Korea.”
“Mana orang tuamu, mengapa sendiri saja?”
“Ayah sudah pergi sejak kecil. Ibu meninggal seminggu lalu.”
Bu Ratih diam sejenak, hening.
“Masuk!”
Berbinar-binar mata Irma, tergopoh ia masuk ke ruangan kantor itu, lalu Bu Ratih mengantarkannya ke kamar santriwati. Kebetulan rumah tahfidz itu menerima santri yatim piatu.
***
“Alif, ba, ta, tsa, jim, ha, kho.” Rajin Irma menghafal. Namun mungkin karena umur sudah belasan sementara teman-temannya masih kecil sudah bisa baca Quran, nyali Irma agak ciut, minder. Menghafal huruf hijaiyah saja ia tak mampu. Ah, kalaulah ia harus menghafal huruf Korea mungkin lebih mudah.
“Menghafal hijaiyah saja kau gagal, Dik!” Kata Bu Ratih sambil menggeleng-geleng. Namun Irma tidak menyerah, ia mantap melanjutkan hafalannya.
Kemanapun ia pergi yang dibawanya juz amma dan yang ia baca huruf hijaiyah. Saat antre mandi ia baca hijaiyah dan pada saat ganti baju di kamar, baca hijaiyah. Saat sarapan di dapur umum yang disediakan rumah tahfidz, baca hijaiyah. Diajak jalan keliling oleh Risa, baca hijaiyah. Makan malam, hijaiyah. Sebelum tidur pun bahkan menggigau pun ia baca hijaiyah.
Dengan terseok-seok selama sebulan akhirnya Irma berhasil menghapal hijaiyah itu. Yei! Katanya.
Selanjutnya Irma mulai belajar membaca ayat-ayat pendek dengan tanda baca. Namun barangkali memang ia hanya punya IQ jongkok, belajarnya merangkak, membacanya lama, setengah baris ayat bisa menghabiskan dua sampai tiga menit. Siapapun yang mengajarinya jadi kesal.
“Kau membaca seperti keong, banyak salah pula!” Bu Ratih mulai kehilangan kesabarannya.
Irma sering terbalik-balik membaca huruf Arab itu. Ta dibaca Tsa, jim dibaca kho, ‘ain dibaca ghain, dan sebaliknya, tentu dengan kesalahan-kesalahan huruf lain juga. Bu Ratih menyuruh Irma mengulang-ulang sebaris ayat saja dan itu pun masih selalu salah meski seharian ia mengulang.
“Kau pulang saja sana! Belajar dengan teman-teman sekamarmu dulu, baru ke saya.”
“Tapi saya mau langsung belajar sama Ibu.”
“Kalau begitu benarkan sebaris ayat itu dulu, kalau belum jangan berani kemari.”
***
Sore itu Irma pulang ke asrama santri yang berjarak sekitar delapan puluh meter dari rumah Bu Ratih. Bu Ratih berharap esok sore Irma tidak datang ke rumahnya dulu, pasalnya karena terlalu susah mengajari Irma yang IQ jongkok, tensi Bu Ratih mulai naik.
Namun apa daya, esok sore Irma sudah berdiri dekat pohon cemara udang di depan rumah Bu Ratih.
“Sudah kubilang jangan kesini kalau belum bisa baris pertama, pulang!” teriak Bu Ratih dari dalam rumah tanpa membuka pintu.
Irma tetap berdiri di sana memeluk kitab suci yang dibawanya. Hingga senja mulai mengintip dari ufuk timur Irma masih disitu. Maghrib hampir tiba. Saat Irma hendak beranjak meninggalkan rumah Bu Ratih, dengan perasaan iba Bu Ratih membuka pintu itu.
“Masuk! Kita mulai belajar bakda maghrib.”
Sebercak cahaya berbinar di mata Irma, buru-buru ia masuk sambil menyungging senyum. Dan, malam itu Irma menghabiskan waktu maghrib sampai isya hanya untuk dimarahi Bu Ratih karena belum samasekali bisa membaca sebaris ayat. Bu Ratih yakin Irma takut dan tak akan kembali esoknya.
Tapi itu salah. Selepas ashar Irma sudah berdiri di depan rumah Bu Ratih. “Masuk!” Lalu Bu Ratih kembali mengejakan sebaris ayat itu pada Irma. Masih salah. Kali ini huruf kaf dibaca qaf, huruf nun dibaca ba, dan sebaliknya.
***
“Apa otakmu sudah tidak bisa masuk pelajaran lagi, Dik?”
“Maaf, Bu.”
“Dulu otakmu pernah terbentur?”
“Maaf, Bu.”
“Memang susah belajar di waktu dewasa.”
“Maaf, Bu.”
“Bagai mengukir diatas air.”
“Maaf, Bu.”
“Tidak bisakah menyebut kata lain selain, ‘maaf’?”
“Ma.. Iya, tidak, Bu.”
“Iya atau tidak, Irma?”
“Pertanyaannya apa, Bu?”
Malam itu tensi Bu Ratih naik lagi.
***
Sebulan berlalu dan setiap sore Bu Ratih harus minum obat tensi. Irma baru berhasil membaca tiga baris ayat lalu mendadak mengerem di baris keempat, penyakit IQ jongkoknya kambuh lagi.
“Perhatikan baik-baik, huruf per huruf, tanda baca per tanda baca, Dik!”
“Bu, hurufnya menari-nari.”
Malam itu Bu Ratih harus menelan dua pil pereda hipertensi sekaligus.
“Ok. Kita libur tiga hari.” Ketus Bu Ratih, karena tak sanggup mengajari Irma.
***
Bulan ketiga Irma belajar membaca Quran pada Bu Ratih, ia masih sering salah baca huruf dan menukar-nukarkan bunyinya dengan huruf lain. Bu Ratih masih meneriaki Irma setiap sore hari, dan malamnya Bu Ratih masih menelan dua butir obat tensi.
Malam itu anak paling bungsu Bu Ratih baru dibelikan speaker kecil yang berisi muratal Quran. Karna lelah mengajari Irma dan selalu salah di baris keenam, Bu Ratih meminta istirahat, lalu menyalakan speaker itu. Lantunan surah Ar-Rahman mulai terdengar. Memasuki ayat kelima, Bu Ratih langsung melayangkan pandang pada Irma saat Irma menirukan suara pelantun Quran itu tepat sekali. Ayat keenam, ketujuh, kedelapan dan seterusnya Irma selalu menirukan bunyi bacaan Quran itu. Tepat tiada salah, hanya makhrajul huruf-nya belum sempurna.
“Oh.” kata Bu Ratih tersenyum, yang sangat amat jarang tersenyum, “Begitu rupanya cara kerja otakmu.” lanjut Bu Ratih pada Irma.
***
Perempuan berkacamata itu menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Hari ini adalah wisuda tahfidz yang dinanti-nanti oleh beberapa santri yang lulus hafalan Quran tiga puluh juz.
“Santriwati terbaik ketiga, kita sambut, Irma Aurora!”
Tetiba suasana riuh. Air mata haru semakin tumpah di pipi Bu Ratih, teringat ia empat tahun lalu akan seorang anak bebal dengan otak merangkak itu, namun kini menjadi wisudawati terbaik ketiga.

Ingin terus berkarya. Seorang pendidik yang terus belajar.

Ern
Good