Sisi Lain Gemerlap Kota
Suara bising kendaraan beradu dengan terik matahari. Lalu lalang orang berjubel memenuhi jalanan kota. Siang yang begitu panas. Terlihat Seorang gadis kecil mengamen dengan suara lirihnya berkeliling dari kendaraan satu ke kendaraan lain.
Naila namanya. Ia biasa mengamen di perempatan lampu merah. Ketika semua kendaraan berhenti, ia akan bernyanyi dengan kecrekan ditangannya. Setelah selesai, ia akan meminta imbalan berupa koin atau selembar uang.
Sudah biasa di kota besar seperti Jakarta dipenuhi pemandangan miris ini, adanya kesenjangan sosial. Orang tua yang menadahkan tangan hanya untuk sesuap makan. Anak kecil yang menjual suara untuk mengisi perut keroncongan atau bapak-bapak yang memungut sampah untuk segenggam rupiah. Pedagang asongan yang menjajakan dagangannya atau penjual koran mencari pelanggan.
Kota besar seperti Jakarta, banyak orang merantau ke sana untuk mencari peruntungan tapi tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Mencari pekerjaan yang begitu susah sampai akhirnya tidak heran ada yang mencari jalan pintas untuk mendapatkan rupiah.
***
Naila. Nama yang indah namun, tidak dengan kehidupannya. Seorang gadis yang harus berjuang melawan kerasnya kehidupan. Seorang gadis yang masih menginjak usia 8 tahun harus memeras keringat demi segenggam harapan. Menahan segala perih dan kesakitan.
Melihat keadaannya sangat miris dan minim dari kata layak. Di usia belia, pendidikannya sudah direnggut keadaan.
Dari gadis kecil itu, aku belajar banyak hal menjadi tegar dan selalu bersyukur atas apa yang kita punya saat ini. Pertemuan yang singkat dengannya membuatku berkesan.
Pernah suatu ketika aku berbincang dengannya menanyakan perihal kehidupannya. Dengan tersenyum malu dia menceritakannya padaku. Naila adalah seorang gadis yatim yang hanya hidup berdua dengan ayahnya. Dia juga tumbuh tanpa seorang ibu. Ibunya pergi ke pangkuan-Nya saat melahirkannya.
Aku masih ingat gadis kecil itu bercerita kepadaku dengan mata berkaca-kaca. Dia tumbuh hanya dengan sesosok ayah. Dia pernah bilang bahwa Tuhan sangat sayang kepada ibunya dan sekarang ibunya sudah di surga. Jadi, untuk apa harus bersedih. Ibunya sudah bahagia di sana. Begitulah perkataannya sambil menahan senyum getirnya.
Mendengar Naila berkata seperti itu, hatiku terenyuh.
***
Hujan deras mengguyur jalanan kota. Suara petir dan guruh beradu dalam gelapnya malam. Jauh di sudut perkotaan, dua orang sedang berteduh di dalam rumah kardus dengan kedinginan. Mereka adalah Naila dan ayahnya. Sudah lama sekali mereka tinggal di rumah kardus.
Sebelum ibunya meninggal, mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil sebagai tempat teduh. Sejak ibunya meninggal dan ayahnya yang sakit-sakitan, mereka terpaksa tinggal di rumah kardus karena tidak mampu membayar biaya sewa rumah kontrakan.
Sebelumnya, ayah Naila bekerja sebagai cleaning service. Semenjak peristiwa tragis hari itu, kecelakaan yang menimpa kaki kanan ayahnya, ia dipecat. Ia dianggap tidak akan mampu melakukan pekerjaan orang normal karena kini kakinya mengalami kelumpuhan. Sudah jatuh tertimpa tangga, seketika itu juga mereka diusir dari rumah kontrakan.
Karena keadaan, mereka terpaksa membangun rumah kardus di kolong jembatan. Dengan keadaan yang begitu menyedihkan, mereka masih mampu untuk bersyukur dan tersenyum.
Setiap hari, ayahnya kini bekerja sebagai pemulung jalanan dengan memakai tongkat sebagai penopang tubuhnya. Sedang Naila, menjadi pengamen yang menjajakan suaranya dari satu rumah ke rumah lain atau dari satu kendaraan ke kendaraan lain.
Kalau Naila beruntung, satu hari ia bisa mendapatkan tiga puluh sampai lima puluh ribu. Namun jika nasib tidak berpihak padanya, sehari dia hanya mendapat lima atau sepuluh ribu. Sudah lama sekali aku tidak melihat Naila.
***
Mengingat bulan lalu aku pindah kontrakan. Biasanya dulu saat aku melihatnya setelah pulang kerja, aku membelikannya makanan atau memberinya beberapa lembar uang. Aku hanya ingin sedikit berbagi dengannya. Berbagi dengan orang yang membutuhkan tidak akan membuat miskin bukan?
Melihatnya, aku seperti mengingat masa kecilku dulu. Keadaanku dulu tidak jauh berbeda dengan Naila. Bedanya aku masih beruntung memiliki kedua orang tua yang masih lengkap. Sejak kecil aku sering membantu ibu berjualan kue kering keliling kompleks. Demi menyekolahkanku, ibuku rela menjadi buruh cuci.
Kehidupan memang kadang terasa tidak adil. Tapi, meskipun begitu, ibuku tetap optimis dan pantang menyerah sampai akhirnya aku bisa menjadi seperti ini. Menjadi Editor di salah satu majalah bergengsi di kota ini
Hidup adakalanya memang tidak mudah tapi selama kita tidak menyerah, Tuhan pasti memberi jalan keluarnya. Itulah prinsip yang kuyakini. Nasib memang tiada yang tahu. Sudah ku putuskan setelah pulang kerja nanti aku akan mengunjungi Naila dan ayahnya. Aku ingin memberinya hadiah dan beberapa pakaian. Sudah lama sekali aku tidak melihat senyum manisnya.
Melihatnya, aku jadi teringat pesan ibu. Bersyukurlah atas apa yang kita punya karena bisa jadi, di luar sana masih ada yang lebih membutuhkan daripada kita. Selama Tuhan masih meminjamkan nafas, perbanyaklah berbuat kebaikan karena kekayaan sebenarnya, bukanlah diukur dari banyaknya harta melainkan kepedulian antar sesama.
seorang gadis pluviophile yang berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Memiliki hobi membaca, menulis dan menggambar seni kaligrafi. Sampai saat ini masih tergabung menjadi anggota COMPETER (Community Pena Terbang). Masih aktif juga menjadi author di redaksi IB.Times.id. Penulis bisa disapa melalui akun ig @indranys345
