Orang-Orang Baik di Sekitar Kita
Pertama kali membaca hasil Swab Antigen saya dengan istri pada 9 Januari 2021 di PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dada terasa sesak, cemas, perut mulas. Kami berdua positif. Empat hari kemudian, pada 13 Januari 2021, kami Swab PCR di tempat yang sama, hasilnya tidak berubah, kami positif Covid-19.
Sejak demam dan flu yang terasa agak berbeda dari biasanya, saya mulai menduga-duga bahwa ini adalah gejala Covid-19. Protokol kesehatan yang selama ini telah dijalankan semakin diperketat meskipun belum tahu kepastiannya sakit apa. Di dalam rumah, saya berpisah kamar dengan istri. Sebelumnya istri juga jatuh sakit dengan gejala yang serupa.
Selang tiga hari, saat badan terasa semakin pulih, saya mengajak istri untuk Swab Antigen. Jujur, saat itu kami belum terlalu yakin dan siap. Malam sebelum ke PKU, rasanya sulit sekali untuk bisa tidur. Kekhawatiran terus saja menggelayut di kepala. Khawatir dengan kesehatan diri, khawatir dengan respon keluarga, rekan kerja, teman-teman, hingga hal-hal yang mungkin tidak perlu dipikirkan. Ya Allah, semoga saja bukan Covid.
***
Hasil Swab Antigen telah keluar, dan kami berdua positif. Dokter menyarankan kami untuk isolasi mandiri di rumah. Rasa bingung dan cemas campur aduk. Tidak mungkin hasil Swab ini kami rahasiakan. Tapi bagaimana respon orang-orang nanti? Bagaimana dengan orang-orang yang kontak fisik dengan kami? Ya Allah, kami pasrah.
Pertama-tama kami menyampaikan situasi ini kepada orang tua. Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, mereka kaget dan cemas. Tapi itu tidak berlangsung lama. Segera saja ibu dan bapak menenangkan dan menyemangati kami. Alhamdulillah, pelan-pelan napas terasa lega. Sejak saat itu orang tua terus memantau perkembangan kami setiap hari.
Pak RT diberi tahu, sehingga dengan segera tetangga di lingkungan tempat kami tinggal, di kampung Suronatan, mengetahui berita ini. Keluarga besar Univ. Ahmad Dahlan, khususnya FSBK, LPSI, dan Persada, Keluarga besar Mu’allimin, dan Suara Muhammadiyah juga diberi tahu. Sedangkan istri memberitahu Mu’allimaat tempat ia mengajar.
Di luar dugaan, respon mereka semua menunjukkan rasa kasih sayang sebagai keluarga. Ucapan doa dan semangat dari orang tua, para guru, tetangga, rekan kerja, dan kawan-kawan menjadi suntikan optimisme untuk segera sembuh. Setiap hari selalu saja ada yang menyemangati dan mengingatkan agar tetap bahagia dan optimis.
***
Sejak hari pertama berita ini kami kabarkan, sembako, buah-buahan, suplemen dan vitamin datang dari mana-mana silih berganti. Bahkan hingga di hari tulisan ini dibuat, orang-orang baik ini datang bergantian sekadar mengantarkan lauk-pauk dan sayur-mayur. Budhe Pive Fauziyah, guru senior di Mu’allimaat, rutin mengantarkan bahan makanan setiap harinya.
Setiap kali sembako dan makanan itu dicantelkan di pagar depan rumah, panggilan dan kata-kata penyemangat selalu terucap dari orang-orang yang amat tulus dalam membantu saudaranya yang sedang berjuang melawan wabah Covid-19.
Dengan apa kami harus membalas budi mereka? Saat ini barangkali hanya doa yang bisa diberikan untuk mereka. Semoga dibalas oleh Allah dengan yang terbaik, selalu dalam lindungan-Nya, dan dijauhkan dari segala mara bahaya, termasuk wabah Covid-19.
Setiap kali kami menengadah dalam doa atas apa yang menimpa kami, selalunya kami teringat bahwa di sebalik itu ada saja orang-orang baik yang menjadi pelipur lara. Di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Insya Allah segera pulih, kata Buya Syafii melalui pesan WA. Orang-orang yang istiqamah dalam ketakwaan akan selalu dilindungi Allah, kata Ustaz Anhar juga melalui pesan WA.
Doa dari orang tua, para guru, tetangga, rekan kerja, dan kawan-kawan juga terus mengalir. Respon Kak Muallim Hawary, dokter PKU Muhammadiyah Yogya, saat saya kabari via WA sekaligus bermaksud untuk konsultasi, ia pertama kali mengatakan Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Ucapan yang menentramkan. Demikian juga dengan dokter Jagaddhito Probokusumo, sahabat saya, yang juga selalu menyemangati dan memantau perkembangan kami.
***
Begitu banyak orang-orang baik di sekitar kita yang mungkin sering luput dari perhatian saat dalam keadaan normal. Situasi ini menyadarkan kami bahwa menjadi orang baik bagi mereka adalah hal terbaik yang mesti kita lakukan sekarang dan untuk seterusnya.
Wabah ini telah merenggut begitu banyak nyawa. Sebagian mungkin orang-orang dekat kita. Kepada mereka yang telah mendahului kita semua, semoga Allah memberikan husnul khatimah. Untuk mereka yang masih berjuang untuk segera sembuh, semoga Allah melimpahkan kesembuhan, kesehatan, dan keadaan normal seperti sediakala. Kepada yang masih sehat, semoga Allah melindungi kita semua dari wabah ini.
Kini, 23 Januari 2021, keadaan kami berdua terasa pulih seperti sedia kala, Alhamdulillah. Kami masih harus menjalani isolasi mandiri di rumah dan menunggu Swab PCR selanjutnya. Semoga hasilnya negatif.
Mari kita jalankan protokol kesehatan dengan tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta senantiasa berdoa kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
