f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dari bapak

Bersahabat dengan Orang Tua

Saat SMA silam, saya ngebet beli tablet samsung keluaran terbaru, ini sebab gawai saya sudah rusak parah. Tentu atas alasan itu, saya meminta untuk dibelikan tablet keluaran terbaru harapan saya itu, Ibu saya bermuka datar sampai saya usulkan tantangan. “begini saja Bu, saya presentasikan satu buah buku di hadapan Ibu, jika saya fasih, hadianya tablet baru, bagaimana”?, itu adalah diplomasi yang saya anggap elegan dan berhasil. Ibu mengangguk mengiyakan, lalu saya jelasakan isi buku bacaan saya sedikit demi sedikit, dan yeaaay berhasil!. Hari itu juga Samsung keluaran terbaru saya dapatkan sebagai hasil diplomasi yang apik.

Itu hanya satu cerita dari banyak cerita “ bersahabat ” lainnya. Kami memang selekat dan sedekat itu, tidak ada jarak yang berlebihan. Kadang kami saling “mengejek” untuk kadar dan porsi bercandaan yang tepat. Kami berhubungan seperti relasi persahabatan.

Rahmania… Beberapa waktu silam, saya menuliskan artikel di media ini dengan tajuk “Bagaimana Orang Tua Merusak Anaknya” dan catatan kali ini ialah artikel sambungan dari artikel tersebut. Kita akan menjawab, pertanyaan yang banyak hinggap di benak remaja dan anak muda, bagaimana bersahabat dengan orang tua?

Relasi dan Kekerasan Kepada Orang Tua

Pada tahun 1980 silam, menurut Departemen Kehakiman Amerika merilis temuannya, bahwa diperkirakan dalam 1,2 juta kasus, 47000 kasus di antaranya merupakan kekerasan anak terhadap orang tua. Ini tidak saja tentang pemukulan fisik, fenomena ini bahkan kerap beurjung pembunuhan. Pada perode 1977-1986 satu dari sebelas keluarga di seluruh dunia, anak-anak membunuh orang tuanya (Gelles, 1997). Jumlah yang fantatastis meski belum sebanding dengan kenyataan sebaliknya: kekerasan orang tua terhadap anak.

Baca Juga  Cintai Ortu, Yuk!

Melalui catatan di atas, saya ingin memberikan gambaran betapa relasi yang buruk berdampak buruk jua. Saya pikir kita sependepat bahwa ragam kekerasan dan bahkan pembunuhan oleh anak itu ialah dampak dari tali hubungan yang renggang; berjarak berlebihan.

Anda yang sedang membaca catatan ini mungkin merasa tak pernah melakukan (kekerasan) itu, tetapi anda patut memahami, bahwa berucap kasar sekalipun kepada orang tua adalah kekerasan. Anda sering membangun pembelaan, tetapi adillah sejak dini, untuk mengakui bahwa kekerasan secara potensial bahkan menimpa kita, anak kepada orang tua.

Dibandingkan dengan frasa “teman”, sahabat dimaknai lebih dalam; kuantitas hubungan dan kualitas komunikasi menjadikan sahabat lebih karib-akrab, ia sering diidentikkan dengan rasa senang dan sikap yang ramah. Itulah mengapa, demi mengartikulasikan hubungan seseorang lebih akrab, masyarakat lebih banyak menggunakan kata “sahabat” dibanding teman.

Bersahabat dengan OrangTua

Jamak dari kita sependapat bahwa relasi persahabatan antara orangtua dan anak ialah hal yang penting. Pikiran demikian didukung oleh banyak penelitian yang menunjukkan adanya keterkaitan attachment (kelekatan) dengan perkembangan kepribadian, kualitas relasi sosial, kehidupan berorganisasi serta tingkat stress (Rubinstein, Tziner, dan Bilig, 2012). Veira (2013) bahkan menemukan bahwa kurangnya kelekatan dengan ibu menyebabkan agresi dan kenakalan anak laki-laki, sedang kurangnya kelekatan dengan ayah berpengaruh terhadap perilaku menghindar serta depresi pada anak laki-laki.

Tapi mari kita adil sejak dari pikiran hingga perbuatan; bahwa tanggung jawab untuk membangun harmoni dalam keluarga sepenuhnya bukan saja tanggung jawab orang tua, melainkan pula tanggung jawab kita secara dialogis. Hal demikian perlu diperhatikan sebab banyak anak yang menyerahkan tanggung jawab relasi kepada bapak dan ibunya, sehingga kebahagiaan dan kesengsaraan dalam keluarga sering hanya disandarkan kepada orang tua. Ini tidak adil. Pola relasi yang rusak seringkali berjalan dalam pola berikut:

  1. Orang tua memberi jarak yang berlebihan dengan anak.
  2. Anak menjauh dari orangtua.
  3. Konflik relasi
Baca Juga  Allah Jahat, Allah Tidak Adil!

Ini adalah “rantai setan” yang mesti diputuskan, caranya ialah keduanya harus saling menghargai serta saling memanusiakan, dan bila anak mendapati orang tuanya dalam keadaan otoriter, ia mesti terbiasa menjadi subjek yang inisiatif menjalin komunikasi dengan orang tuanya. Demikian sebaliknya, bilamana orang tua melihat sikap anak keras, sebaiknya orang tua mendekati anak dengan komunikasi yang positif, bukan reaktif. Seselow itu sebetulnya, Rahmania…

Tidak ada yang buruk dengan membangun relasi persahabatan dengan orangtua. Orangtua adalah sahabat; tempat mecurahkan segala masalah dan mereka adalah penasihat yang bijak. Mereka mencurahkan waktu tanpa perhitungan dan tentu tanpa timbal balik. Maka ujungnya, segala hal dapat dikompromikan dengan baik. Harmoni, itu adalah puncak kebahagiaan hubungan bersahabat orang tua-anak.

Bagaimana Bersahabat dengan Orang Tua?

Pertama, mulailah dengan asumsi bahwa relasi anak dan orang tua adalah hubungan subjek-subjek. Kedua, belajarlah menjadi inisiator; inisiatif untuk memulai pembicaraan dengan orang tua, jangan kelamaan menunggu apalagi hanya menggerutu. Anda bisa memulainya di pagi hari, seketika selesai sholat subuh mengajak orang tua minum teh sambil bercerita banyak hal. Itu adalah awal yang baik. Kuncinya bangun komunikasi pembicaraan yang dialogis dua arah, jadi pembicara yang bijak dan pendengar yang baik. Ketiga, dalam hidup, berikan sebanyak mungkin prestasi dan kebanggan kepada orangtua, anda harus memastikan diri anda sebagai anak yang baik. Dengan itu, anda tampak berdaya dan layak menjadi subjek yang otonom. Kelebihan dan prestasi anda menandakan kemandirian, dan kemandirian bermakna daya diri.

Keempat, jadilah anak yang layak dijadikan sahabat. Tidak ada sahabat yang keras kepala dan egois, demikian pula bahwa kita harus menjadi lebih lembut dan mampu berkompromi dengan orangtua. Beberapa anak menunjukkan perilaku yang buruk; keras kepala, pembantah dan suka memberontak. Itu merusak hubungan harmonis.

Baca Juga  Lebaran Tanpa Ayah

Keluarga adalah ruang demokrasi paling awal; maka bangunlah dialog harmonis sedari diri, dari rahim keluarga. Selamat mencoba anak muda.

Bagikan
Post a Comment