f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
membaca buku

Bagaimana Abah Mendidik Saya agar Gemar Membaca Buku

Membiasakan hal positif tentu perlu untuk ditanamkan sedini mungkin. Orang tua sebagai ‘madrasah pertama’ memiliki peran penting bagi perkembangan seorang anak. Tak terkecuali kebiasaan membaca buku.

Bagi generasi sebelum-millenial, masa remaja dan kanak-kanaknya belum begitu akrab dengan internet dan media sosial. Buku dan media cetak lainnya dapat menjadi sarana hiburan, informasi, komunikasi, dan lain sebagainya. Maka wajar bila generasi tersebut sebagian besar tidak asing dengan kebiasaan membaca buku.

Namun berbeda halnya dengan generasi sekarang yang bahkan saat ini disebut “digital-native”, mereka adalah generasi yang akrab dengan internet, medsos, game-online, dan media digital lainnya.

Di sinilah kesulitan yang sering dihadapi orang tua dalam mengasah kemampuan literasi bagi anak. Dalam hal ini, ialah kebiasaan membaca. Terkadang beberapa orang tua juga latah, menginstruksi tanpa keteladanan atau bahkan menjadikan baca buku dalam sebagai bentuk reward and punishment.

Ketika saya mengingat-ingat bagaimana membaca buku menjadi kebiasaan tersendiri bagi saya, ternyata ‘Abah’ (panggilan ayah bagi orang Banjar-Kalimantan) memiliki pola yang unik. Bahkan saking uniknya, biasanya untuk menghibur anak selama pemulihan pasca-sunat (khitan); ketimbang membelikan mainan, Abah memilih komik untuk diberikan pada anaknya. Meskipun sebenarnya itu karena permintaan saya.

Keteladanan adalah Kunci

Pendidikan yang paling baik adalah dengan keteladanan karena “anak lebih mudah meniru daripada menurut”. Kutipan ini saya temukan  dari buku “like father like son”, buku tersebut biasanya berada di kantong belakang jok mobil Abah saya ketika saya masih SMP.

Sejak saya SD, setiap kami pergi belanja bulanan sembari menunggu mama membeli kebutuhan keluarga, saya diajak Abah untuk menemaninya ke toko buku.

Awalnya saya hanya melihat ia memilih buku, dari buku agama, sosial, teknologi, bahkan  majalah fotografi sampai otomotif. Kemudian, Abah menunjukkan di mana bagian rak buku untuk anak-anak. Komik.

Baca Juga  Membaca dan Menulis: Seni Melatih Kesabaran

Sejak saat itu setiap kali bersama Abah ke toko buku, Abah membiarkan saya keluyuran di sana. Visual sampul dari komik selalu mampu memanjakan mata saya.

Saya suka melihat buku-buku dibungkus oleh mbak-mbak kasir. Sayangnya bingkisan itu bukan untuk saya, tapi untuk Abah. Sampai pada suatu hari saya meminta Abah untuk membelikan komik Yu-Gi-Oh. Itulah bingkisan pertama yang saya terima dari mbak-mbak kasir.

Setiap pulang dari belanja bulanan, Abah membantu mama membawa kantong belanja bulanan. Saya dengan girang sekali menenteng sekantong buku milik Abah dan saya.

Sampai usia 12 tahun saya sangat hobi membaca komik. Secara tidak langsung, Abah menunjukkan pada saya bahwa membaca buku tidak kalah asyik dari main PS.

Berangkat dari Rekomendasi bukan Instruksi

Algoritma media sosial hanya merekomendasikan informasi yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan. Kita memilih untuk melihat satu konten dengan konten lainnya hingga habis, lantaran karena kita tertarik pada apa yang direkomendasikan oleh algoritma. Bukan paksaan.

Begitu pula yang dilakukan Abah ketika saya mulai masuk SMP, karena saya tinggal di asrama saya sudah mulai jarang membeli komik. Warnet mulai berkembang dan saya menjadi salah satu peminatnya. Namun kegemaran membaca komik tetap tidak saya tinggalkan.

Suatu waktu saya melihat Abah membaca novel. Mungkin itu bukan kali pertama ia membaca novel. Tapi saat itu, novel yang ia pegang cukup menarik bagi saya. Judulnya “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi.

Tak puas hanya melihatnya asyik membolak-balik lembaran novelnya. Saya bertanya, “bah, bagus kah novelnya?”. Kemudian ia menceritakan isi novel tersebut dan merekomendasikan agar saya juga membacanya. Namun saya menjawab, “tapi itu novel, ndak banyak gambarnya ya kan? Kayaknya nda suka hizba…” pungkas saya.

Baca Juga  Memutuskan untuk Menjadi Santri Kembali

Novel itu mengisahkan tentang Alif yang melanjutkan sekolah di pesantren, hal itu kemudian membangkitkan rasa penasaran saya sebagai anak asrama. Belum habis Abah membaca, ternyata saya sangat penasaran dan tidak sabar ingin mengetahui ceritanya. Tidak sampai hitungan hari, saya meminjam novel itu. Dan itulah novel pertama yang saya baca.

Sejak saat itu, saya mulai meninggalkan komik dan lebih menyukai novel. Karena saya suka sekali cerita Detektif Conan, saya tahu benar bahwa Conan diambil dari potongan nama Arthur Conan Doyle, penulis novel “Sherlock Holmes”; saya akhirnya juga penasaran membaca novel-novelnya.

Pada saat itu bagi saya novel hanya ada dua genre. Genre pertama, yang inspiratif seperti karya Ahmad Fuadi dan Dahlan Iskan (Sepatu Dahlan) yang ditulis Khrisna Pabhicara. Genre kedua, Sherloc Holmes dari kisahnya melawan Moriarti sampai Arsene Lupin.

Sekali lagi, saya baru paham bahwa saat itu Abah hanya merekomendasikan agar saya mulai membaca novel. Baru saya sadari bahwa Abah melakukan upgrading level bacaan sesuai dengan psikologi perkembangan saya.

Kegemaran itu Bukan Tentang Reward and Punishment

Mungkin sebagian dari kita pernah merasakan dihukum oleh guru atau orang tua dengan bentuk hukuman belajar, menulis, menghafal, atau membaca. Namun sadarkah bahwa pada akhirnya kita memandang kegiatan tersebut justru merupakan buah dari ‘kenakalan’ yang kita perbuat. Tidak mungkin ‘punishment’ dapat menjadi kegemaran.

Atau sebaliknya, setiap kita belajar, menulis, atau membaca kemudian kita diberikan sesuatu yang kita sukai. Akibatnya kita menganggap bahwa hal tersebut merupakan suatu pekerjaan demi mendapatkan upah. Lagi-lagi justru memberlakukan ‘rewarding’ tidak mampu mendorong kita agar memiliki ketertarikan pada membaca.

Dari kelas 4 SD sampai kelas 9 SMP saya masih membeli buku bersama Abah setiap kali menemani mama belanja bulanan. Sejak usia SMA, saya mulai beli buku sendiri; pergi ke toko buku sendiri, pilih buku sendiri, membayar sendiri, meskipun uangnya masih pakai uang Abah.

Baca Juga  Buku yang Mengubah Pandangan terhadap Perempuan

Sepanjang saya hidup sampai sekarang, seingat saya Abah tak satu kali pun pernah menyuruh saya untuk gemar membaca buku. Abah juga tidak pernah menggunakan ‘membaca’ sebagai bentuk hukuman atas kenakalan saya.

Begitu pula ia tidak pernah memberikan saya reward atau upah selepas saya menghabiskan satu buku. Ia hanya menghimbau agar tidak mubadzir membeli buku lagi, sedangkan buku yang sudah dibeli belum habis dibaca.

Catatan Penutup

Kemampuan literasi harus dilatih sejak dini. Kebiasaan atau kegemaran membaca perlu kiranya untuk ditanamkan sedari kecil. Saya menyadari bahwa menjadi orang tua bukanlah mudah. Pola pikir, sikap, dan tingkah laku yang terbentuk pada anak merupakan manifestasi dari pendidikan oleh orang tua sejak usia dini.

Media sosial memberi kemudahan bagi kita untuk mencari, menerima, dan menyebarkan informasi. Namun konten media sosial justru lebih banyak hiburan, iklan, bahkan ‘’sampah”. Memang ada yang edukatif, namun itu minim. Bagaimana pun membaca buku masih menjadi medium literasi terbaik yang tak tergantikan.

Terima kasih, Abah…

Bagikan
Post tags:
Post a Comment