Mungkin ini pertanyaan yang dipikirkan rekan-rekan, utamanya yang sekarang berstatus sebagai karyawan. Apakah harus resign? atau merasa cukup dan bertahan? Kalau harus, kapan waktu terbaik untuk resign?
“Ah, cari pekerjaan sekarang sulit. Boro-boro berpikir resign, nanti malah enggak dapat kerja”. It’s okey. Tapi barangkali ada rekan netizen yang membutuhkan advice sebagaimana yang saya uraikan ini.
Bagi mereka yang belum berumah tangga, keputusan resign atau tidak mungkin tidak terlalu membebani pikiran dibandingkan dengan mereka yang sudah berumah tangga. Apalagi jika seseorang itu lelaki kepala rumah tangga yang sudah memiliki beberapa anak. Maka keputusan untuk resign atau bertahan cukup membingungkan.
Jadi, Apakah harus Resign? atau Bertahan?
Tentu ini bergantung dari kondisi tempat kamu bekerja. Dua pertanyaan yang perlu dijawab terkait keputusan apakah perlu resign atau tidak adalah:
Pertama, apakah tempat kerja kamu sekarang bisa memenuhi kebutuhanmu secara material maupun mental? Jika tempat kamu bekerja relatif bisa memberikan kamu kepuasan material seperti gaji yang memadai serta kepuasan mental seperti kenyamanan, apresiasi, dan rekan kerja yang saling mendukung maka resign bukan sebuah pilihan yang urgen. Kecuali ada situasi khusus yang memaksa seperti mengikuti keluarga untuk pindah domisili, dan sebagainya. Tapi jika jawabannya adalah tidak, maka kamu perlu berpikir untuk segera resign.
Kedua, apakah kamu memiliki impian tertentu dalam jangka waktu tertentu di masa mendatang? dan apakah pekerjaanmu di tempat kerja yang sekarang memadai untuk mendukungmu mencapai impian itu? Misalnya, kamu ingin punya rumah berhalaman luas atau studi lanjut atau keliling ke luar negeri atau naik haji, misalnya. Jika jawabannya iya, maka resign agaknya tidak akan terlintas sama sekali dalam pikiranmu. Tapi jika kondisi pekerjaanmu secara logis agaknya tidak memungkinkan impian itu terealisasi maka kamu harus merancang waktu yang tepat untuk resign.
Selanjutnya jika resign adalah pilihan yang perlu diambil, maka kapan waktu yang tepat ditentukan oleh kesiapan diri. Btw, bagi sebagian besar orang yang dimaksud dengan “kesiapan” tentu bukan kondisi di mana “benar-benar” siap. Artinya tentu perlu ada “kenekatan” tertentu.
Apa yang Perlu Disiapkan?
Ada beberapa hal: (1) yang paling utama tentu alternatif pekerjaan. Jangan sampai ketika kamu resign masih bingung mau kerja apa. Alternatif pekerjaan ini bisa pindah ke tempat kerja baru yang lebih memadai untuk pemenuhan kebutuhanmu di masa mendatang, atau membuka usaha sendiri. Jadi sambil kamu bekerja di tempat kerja lama, kamu harus menemukan alternatif pekerjaan yang prospektif. (2) kesiapan mental. Sebagaimana yang saya singgung di awal, utamanya bagi lelaki kepala rumah tangga, pindah tempat kerja atau membuka usaha sendiri memiliki risiko terhadap situasi keluarga.
Ppastikan kamu mendapatkan dukungan dari orang terdekatmu dalam pengambilan keputusan. Sehingga apa pun nanti kondisinya setelah resign tidak menjadi bibit perselisihan. Terakhir, saya ingat satu pesan singkat istri saya yang cantik, salihah dan tidak njajanan waktu mau ambil keputusan resign: “Kalau berani jangan takut-takut. Kalau takut jangan berani-berani.”
Semoga sukses.
