Mendidik Anak untuk Menjadi Pembenci
“Kamu kenapa e ‘nduk, kok dari tadi Bapak lihat sepanjang jalan kamu cemberut terus?”, tanyaku pada Hanum, anak perempuan pertamaku yang saat ini berusia 5,5 tahun. Pagi itu kami baru saja keluar rumah, muter-muter di daerah Kaliurang untuk sekadar “manasi” mobil. Iya, Anda ndak salah baca kok. Benar, manasi mobil.
Jadi selama pandemi Covid-19, kami hanya keluar rumah untuk belanja di warung tetangga, ambil uang tunai di Anjungan Tunai Mandiri, dan memanaskan mesin kendaraan supaya tidak lekas rusak. Bagaimanapun warung kelontong milik tetangga harus tetap dilarisi, tidak semua transaksi bisa dilakukan dengan uang elektronik, dan kendaraan bisa ambyar kalau cuma nongkrong di garasi. Sungguh sebuah privilese yang akan sangat disayangkan jika tidak kami manfaatkan secara maksimal.
***
Selang beberapa waktu keluar suara dari mulut Hanum, “Aku tuh ga suka lihat orang-orang naik motor pada ga pakai helm. Ga pakai masker. Ini kan lagi musim virus. Mereka semua menyebalkan. Aku gak mau temenan sama mereka”, jawab Hanum sambil masih cemberut. Saya tentu saja kaget mendengar jawaban Hanum yang sangat lugas dan tanpa tedeng aling-aling.
Saya dan istri saling memandang, saya bicara dalam hati sambil menatap mata istri. Berharap dia bisa paham maksud saya hanya dengan tatapan mata. Kalau dalam adegan-adegan sinetron televisi, pasti sudah ada suara-suara yang bergema menyuarakan isi hati saya, heuheuheu.
Saya segera tahu ada yang kurang pas dengan cara mendidik kami. Eh sebenarnya lebih ke cara mendidik saya sih. Sebagai seorang pemuda yang sudah menjadi Bapak, saya termasuk orang yang disiplin dan menyukai keteraturan. Tidak ada itu ceritanya saya dimarahi istri gara-gara meletakkan handuk di atas tempat tidur, atau diomeli karena mengambil baju di lemari secara asal. I really can’t relate, hahaha.
Tentu saja kedisiplinan dan keteraturan itu saya tularkan ke Hanum sejak dini. Apalagi Hanum adalah ‘cah Jawa rasa Eropa, lahir di kota Paris, Prancis, dan sempat merasakan atmosfer berkehidupan sosial, daycare,dan sekolah PAUD hingga usianya 3,5 tahun. Usia yang banyak disebut oleh para ahli sebagai masa keemasan seorang anak alias golden age.
Apa yang terjadi pada Hanum sejak dalam kandungan Ibunya hingga usia 3,5 tahun di Prancis tentu saja sangat mempengaruhi perkembangan emosi, intelektual, dan sosialnya. Di Prancis, Hanum sudah terbiasa dengan segala keteraturan dan kedisiplinan, baik di luar maupun dalam rumah. Waktu untuk makan, tidur siang, bermain, tidur malam, dan hal-hal lainnya dilakukan secara disiplin. Tidak ada ceritanya dia tidur larut malam, makan selain jam makan, maupun makan sambil berlarian ngalor ngidul atau sambil mengerjakan kegiatan lain. Disiplin, fokus, dan respecter les autres. Hormati orang lain.
****
Saya ajak Hanum diskusi di sofa. Sofa yang biasa kami pakai sebagai “pojok berpikir” bagi Hanum, meskipun posisinya tidak benar-benar ada di pojokan rumah. Saat itu saya jadi tahu bahwa ternyata selama ini saya lebih sibuk mendidik dan mencontohkan ke Hanum tentang mana hal yang baik, mana yang buruk, tapi lupa mengajari bagaimana Hanum harus bersikap ketika menghadapi kondisi yang menurutnya tidak ideal.
Saya sampaikan ke Hanum bahwa di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol dan itu benar-benar di luar kendali kita sebagai manusia. “Di masa depan, akan banyak hal yang mungkin bertentangan dengan apa yang selama ini Bapak ajarkan ke kamu. Gak semuanya perlu kamu tanggapi dengan emosi, apalagi sampai mbok masukkan ke hati dan membuatnya menjadi benci. Kamu boleh ga suka karena mereka ga pakai helm, ga pakai masker, tapi kan ga perlu sampai ga mau temenan kan?”, jelasku pelan-pelan pada Hanum. Dia pun mengangguk dan kami pun melanjutkan obrolan sambil berpelukan.
Like or dislike. Menyukai dan tidak menyukai sesuatu tentu saja merupakan hal yang wajar. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa pasti pernah merasakan dua perasaan yang saling bertentangan tersebut. Meskipun saya menyadari bahwa rasa tidak suka seorang anak terhadap orang lain tidak akan berlangsung lama, namun apabila hal ini tidak saya luruskan, tentu saja akan rasa ketidaksukaan dapat berisiko terhadap proses berkembang anak. Dia dapat tumbuh menjadi pribadi yang suka membenci orang lain hanya karena orang itu bersikap atau melakukan hal-hal yang berbeda dengan apa yang selama ini dia lakukan dan percayai.
***
Saya tentu saja tidak ingin menempatkan anak dalam suatu kondisi berbahaya yang anak itu belum bisa memahami. Anak adalah kertas putih, bersih dan suci, sebuah amanat yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kami para orang tua. Tuhan juga sudah mengingatkan untuk tidak mengkhianati amanat yang Dia percayakan pada manusia. Meskipun demikian, kita semua tahu bahwa manusia adalah tempat segala macam kesalahan, seperti yang disampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”.
Sambil berpelukan dengan Hanum, saya kembali teringat pesan K.H. Mustofa Bisri, atau yang akrab dipanggil sebagai Gus Mus, dalam salah satu cuitan beliau di Twitter. “Bencilah perilakunya yang tidak baik. Jangan membenci orangnya. Karena orang masih bisa memperbaiki diri dan menjadi baik”. Mari nduk, kita sama-sama belajar untuk tidak membenci orang lain hanya karena perilakunya yang tidak baik. Bapakmu ini juga sakjane masih harus banyak belajar.
Sleman, 19 Januari 2020.
Bapak-Bapak yang berprofesi sebagai Guru Geografi di Bulaksumur.

Muhammad Isa Ismail
Keren Pak. Terimakasih telah berbagi ilmunya