f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
orang tua

Empat Hal yang Banyak Diinginkan Orang Tua Terhadap Anak Perempuan

Menjadi anak perempuan dalam sebuah keluarga, adalah urusan yang sedikit berbeda dengan anak laki-laki. Entah itu dari segi perhatian, kasih sayang, penjagaan, hingga kekhawatiran yang berlebih. Akan lebih banyak hal yang dikhawatirkan orang tua ketika memiliki anak perempuan, sedikit merepotkan istilah gamblangnya. Begitu anggapan saya.

Sebagai anak perempuan dan sulung dalam keluarga, tidak jarang saya mendapatkan petuah dan nasehat-nasehat berkaitan dengan kehidupan. Saya yakin setiap anak perempuan akan mendapat lebih banyak nasehat daripada anak laki-laki, karena mudah mendengarkan dan mudah manut. Namun, kedua alasan tersebut bukan menjadi alasan utama mengapa orang tua mendidik anak perempuannya lebih intens daripada anak laki-laki.

Di samping nantinya dia (anak perempuan) itu berperan sebagai istri dan ibu, dia juga akan berperan dalam dinamika lingkungan di sekitarnya. Dari sini lah kemudian anaknya akan melihat sosok ibu sebagai literasi lain untuk dicontoh, bahwa ibunya tidak hanya berperan hebat menjadi seorang istri dan mendidik anak, akan tetapi juga mampu menjadi figur yang layak di tengah-tengah masyarakat.

Menasehati anak perempuan menjadi sebuah keharusan setiap orang tua, seperti homeschooling yang khusus diajarkan secara pribadi. Jadi, ada baiknya bagi kita untuk berpikir kembali sebelum membuat kesimpulan, bahwa kita hanya menjadi objek untuk dimarah-marahi. Sekarang mari saya uraikan beberapa hal yang kerap membuat kita mungkin saja kesal ketika disuruh begini dan begitu oleh orang tua.

Sehat dan cantik secara jasmani

Ini menjadi syarat penting bagi setiap perempuan, saya tidak menyebutnya sebagai syarat utama karena meskipun tidak diutamakan oleh setiap anak perempuan, akan tetapi hal ini sangat penting untuk dimiliki. Saya yakin setiap orang tua juga menginginkan anak perempuannya terlihat cantik secara jasmani.

Baca Juga  Menjadi Suami Kualitas Ori di Kala Pandemi

Setidaknya dengan bermodalkan cantik (baik turunan orang tua atau turunan skincare) akan sedikit mengurangi rasa khawatir orang tua, ketika meletakkan anaknya di tengah-tengah masyarakat. Tidak dipungkiri, kecantikan seseorang bisa menjadi modal pintu gerbang untuk segala urusan dunianya. Baik dunia nyata atau dunia instagram.

Lebih-lebih selain cantik, orang tua juga sangat menginginkan anak perempuannya hidup dengan tubuh yang sehat. Baik cantik maupun sehat, keduanya penting. Karena, cantik itu adalah sehat, dan orang sehat pastinya cantik. Percayalah dan yakin dengan definisi cantik dan sehat kalian masing-masing. Tanpa perlu overthinking dengan pendapat orang lain.

Memiliki sisi kerohanian yang baik

Ini saya jadikan landasan utama dan penting, sudah jelas bahwa anak perempuan kelak akan dilirik laki-laki dengan salah satu opsinya yang ditarik dari segi keagamaan. Di samping dilihat dari segi kecantikan, keturunan, dan harta, yang harus diutamakan adalah agamanya. Tapi tentunya sisi rohani ini tak cukup dilihat dari penampilan yang bermodalkan gamis dan kerudung syar’i.Melainkan sesuatu yang memang benar-benar bisa memancarkan  beauty inside anak perempuan.

Orang tua yang benar-benar ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak perempuannya, tak segan-segan akan menjebloskan anak perempuannya ke dalam pendidikan pesantren sejak usia dini. Ya… karena kita tak punya modal sholihah sejak dari dalam kandungan, ukhty. Maka dari itu orang tua kita mempercayakan pendidikan anak perempuannya pada sebuah pesantren.

“Sudah, kamu mondok saja. Ndak usah masuk sekolah-sekolah umum”, “Tapikan… tapi…”.sebanyak apapun kata ‘tapi’-mu itu, akan ditolak jika orang tuamu tidak setuju. Jadi, mbak-mbak santri ndak usah merasa terbuang jika masuk ke sebuah pesantren. Yang disuruh ngaji lama-lama, mondok bertahun-tahun, hingga tembus pada saat ada yang mau ngajak rabi. Kalian itu disayang, bukan dibuang.

Baca Juga  Orang Tua Bahagia di Usia Senja
Pendidikan mental

Berbicara tentang mental kita akan masuk pada sisi psikologis anak perempuan dalam mengahadapi beberapa hal disekitarnya. Orang tua juga harus menimbang pendidikan yang satu ini. Menyangkut mental anak perempuan yang mayoritas dipandang labil dan lemah. Faktanya mayoritas dari mereka memang selalu dipandang lemah baik fisik maupun psikisnya. Tapi, tidak salah jika kemudian orang tua mau membangun mental anak perempuannya supaya tidak mlempem, melainkan juga bisa sekuat mental laki-laki.

Misalnya, ketika anak perempuannya gagal dalam mencapai target nilai disekolah, atau gagal dalam melakukan pencapaian-pencapaian lainnya. Jangan langsung mengintimidasi anak perempuannya dengan kalimat-kalimat memojokkan dan dalih ‘ini semua salahmu’. Toh, orang tua bisa menggantinya dengan kalimat-kalimat pembangkit, seperti ‘tidak apa-apa, nanti dicoba lagi yah’. Saya rasa kalimat itu akan menjadi obat penguat untuk anak perempuannya.

Memiliki kemampuan untuk bersosialisasi

Sebagai perempuan, nantinya kita akan dipandang dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan tentunya tidak ingin dipandang buruk, orang tua juga melakukan pendidikan berbasis kemasyarakatan ini kepada anak perempuannya secara khusus di rumah. Tidak perlu sekolah jauh-jauh kalau urusan penilaian moral di masyarakat, karena ibu akan mengajarkan kita apapun, yang berkenaan dengan tatakrama sosial, tanpa refrensi buku tebal-tebal.

Sebagai anak perempuan kadang kita ditiuntut untuk serba bisa dan biasa. Misalnya, saya ketika libur kuliah, di rumah dapat kuliah tambahan dari ibu. Jauh di luar materi-materi perkuliahan, seperti cara mengupas bawang, goreng ikan, masak nasi, dan masih banyak lagi. Mengapa dituntut demikian?

Selain karena untuk bekal membangun rumah tangga di masa depan, hal itu juga dibutuhkan saat kita terjun dimasyarakat.  Ketika ada acara dirumah tetangga atau sanak saudara, ibu akan membawa anak perempuannya untuk turun tangan membantu pekerjaan di sana.

Baca Juga  Belajar Imbang dari Siti Baroroh Baried

Apalagi bagi mereka yang tinggal di desa, dengan budaya tolong menolongnya yang sangat kental. Bayangkan saja, bagaimana rasanya tiba-tiba merasa menjadi alien di tengah-tengah mereka, karena tidak bisa sekadar disuruh mengupas bawang.  Meski tidak ada dimata kuliah yang saya tempuh, tapi ini skill alamiah yang seharusnya semua perempuan bisa.   

Perempuan membutuhkan lingkungan yang kondusif dan suppportif  

Empat hal di atas menurut saya adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang tua terhadap anak perempuannya. Mungkin masih banyak hal-hal lain yang orang tua inginkan dalam membentuk sebaik-baik anak perempuannya. Karena dimana pun, orang tua akan tetap menginginkan anaknya menjadi baik, sehingga nantinya tanggung jawab mereka dalam membesarkan anak perempuan, tak hanya selesai dengan puncak pernikahan anak perempuannya, tapi juga hasilnya akan tetap terasa ketika mereka sudah melepas anak perempuannya.

Dalam proses bentukan karakter anak perempuan penting pula dicatat bahwa ketika menamakan hal tersebut, seorang anak perempuan membutukan lingkungan yang kondusif dan supportif. Demi terlaksananya dan terwujudnya keinginan orang tua. Karena tak jarang, ketika seorang anak perempuan memiliki kesempatan untuk bersikap dan bersifat dengan tiga hal di atas, tapi tak mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya, akan menjadi hal yang sia-sia belaka, utamanya adalah dukungan orang tua.

Bagikan
Post a Comment