Surat Untuk Calon Anakku
Anakku, saat ini ibumu masih menyandang status mahasiswa di perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Tepatnya sedang duduk di semester dua nak. Ibumu, saat ini juga belum dipersatukan dengan Ayahmu. Dia masih menjadi satu misteri terbesar dalam hidup ibu saat ini. Namun ibu percaya, bahwa Allah, Tuhan kita selalu bersama Ayahmu, dan semoga setiap langkah selalu dalam petunjuk-Nya.
Anakku, kau termasuk ke dalam impian dan visi terbesar Ibu untuk membangun peradaban. Bagaimana pun juga, Ibu ini yang turut mengajarimu segala hal yang ada di dunia. Kau amanah terbesar yang Allah titipkan pada Ibu dan Ayahmu. Hal ini yang menyadarkan Ibu bahwa mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendidik dan membesarkanmu tidak membutuhkan waktu yang singkat.
Anakku, kau harus tahu…
Apa yang Ibu lakukan saat ini tidak lain dan tidak bukan ialah berjuang untuk mencari bekal sebanyak mungkin untukmu. Kau dan adik-adikmu adalah satria kecil dan bidadari penyejuk mata Ayah dan Ibumu kelak. Bukan hanya sekedar dambaan Ayah Ibu, tapi Ibu berharap kau bisa melebarkan sayapmu seluas-luasnya. Menebar manfaat ke pelosok negeri. Kau investasi terbesar dunia akhirat kami.
Ibu sadar, untuk memberikan kalian bekal agar menjadi manusia insan kamil itu tidak mudah. Semua harus berawal dari orang tuanya, yaitu Ibu dan Ayahmu. Persiapannya tidak hanya memakan waktu yang singkat, karena kita tahu semua butuh proses. Maka dari itu, saat ini Ibu harus melakukan yang terbaik apapun yang ada di depan mata. Kesia-siaan tidak akan Ibu ajarkan pada mu.
Ibu tidak akan mengekang dan meminta mu untuk meneruskan cita-cita dan impian Ibu yang belum tercapai. Ibu hanya minta untuk diajak berbincang-bincang. Meski Ibu sadar jamanmu nanti dan jaman Ibu saat ini, berbeda. Ibu memang tidak sempurna, masih banyak celah keluputan meski telah berusaha yang terbaik.
Dikau yang kelak Ibu kandung 9 bulan dengan penuh harap cemas dan penantian…
Hal sama yang dilakukan nenekmu saat mengharapkan kehadiran Ibumu di dunia kala itu. Bertaruh nyawa demi melahirkan Ibu. Membesarkan dengan segala ketangguhannya yang membuat Ibu mu menjadi sekarang ini. Setelah, kakekmu meninggal, saat Ibu mu masih kelas satu SD (Sekolah Dasar). Sungguh tidak terbayangkan bagi anak usia 6 tahun kehilangan sosok Ayah dalam hidupnya
Namun, beruntungnya Ibu dulu, karena ada nenekmu yang tangguh dan rela berjuang apapun demi kebahagiaan anaknya yaitu Ibu dan Pamanmu. Dan hal itu yang menjadi motivasi terbesar Ibu saat ini untuk membuat nenekmu bangga. Bukan hanya di dunia dan semoga bangga di akhirat juga.
Terkadang, Ibu juga tidak mengejar peringkat atau predikat, Ibu hanya ingin memantaskan diri dari hari ke hari. Berusaha menjadi garam seperti kata bijak dari tokoh besar yang Ibu idolakan, yaitu Buya Syafi’i Ma’arif, “Jadilah seperti garam dari pada menjadi seperti gincu.”
Kita meski tidak terlihat dan terkenal di mata manusia, tapi pengaruh yang kita berikan terasa. Jangan seperti gincu, yang terlihat jelas, namun tidak dapat kita rasakan. Berusaha melakukan yang terbaik untuk orang sekitar dan berusaha mengambil pelajaran setiap peristiwa yang ada. Berjuang untuk ber-fastabiqul khairot di jaman yang kompleksitas ini.
Bermanfaat bagi sesama yang ingin adalah keinginan Ibu padamu, jangan tergiur dengan segala gemerlap kehormatan dunia. Lakukan yang terbaik dengan segala kesadaran bahwa waktu kita sangat berharga untuk dihabiskan demi sesuatu yang bermakna sia-sia. Niatkan segalanya untuk Allah semata.
Ayah yang bisa menjadi teladan bagimu…
Ini juga harapan Ibu, seorang Ayah terbaik untukmu. Tegas dengan segala keputusan dan keberpihakannya pada kebenaran, mengarahkan kita untuk selalu berjalan dalam koridor Islam.
Ibu tidak berhak menuntut banyak dari Ayahmu. Hanya saja, satu permintaan teruntuk Ayahmu. Sebagai seorang hamba, alangkah indahnya jika kita saling memperbaiki dan menghiasi diri dengan ketaqwaan serta selalu berusaha mendekatkan diri pada-Nya.
Mendidik anak yang akan mencari penegak visi-misi peradaban tidak memakan waktu yang singkat. Tidak bisa mendidikmu sejak di dalam rahim Ibu.
Mendidikmu, dimulai saat mencari Ayah yang tepat untuk kau, anakku. Menurut beberapa penelitian psikologi, 70% sikapmu saat ini adalah warisan dari Ayahmu, sedangkan 60% kecerdasanmu itu dipengaruhi dari Ibu.
Sampai saat ini, kau motivasi terbesar saat Ibu dilanda kemalasan. Kau berhak dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang cerdas.

Mahasiswi yang lebih suka merefleksi goresan hati melalui bait tinta ini.
Instagram @rfwulan__
