f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tempe

Tempe Mendoan dan Pencarianku (2)

Faisal menyodorkan menu untuk Cakra pilih. Seperti yang sudah-sudah matanya selalu lebih cepat menemukan tempe mendoan. Tempe favorit Riani yang tak pernah luput dari meja makannya dulu sekaligus lauk yang paling enak. Cakra memilih tempe mendoan dan sayur lodeh.

Sambil menunggu makanan dihidangkan, mereka melanjutkan obrolan. Cakra seolah melihat dirinya dalam diri Faisal. Seperti tidak ada sekat, seperti dua sahabat, seperti anak dan bapak. Kemudian ia bercerita tentang istrinya yang hilang, rasa penyesalan juga kerinduannya. Mungkin ini balasan baginya yang telah dzalim. “Bapak yang sabar ya.” ucap Faisal. Pria muda di depannya menyimak dengan tatapan penuh iba.   

“Ayo dimakan dulu, sampek lupa sarapannya,” timpal Faisal. Seketika Cakra tersadar makanan di depannya hampir dingin. Karena terlalu asik mengobrol dirinya luput menyadari tampilan tempe mendoan di depannya. Lama mengamati dan ia terkesima. Setelah mencoba dua ratus kali  menu tempe mendoan, baru kali ini ia merasa sebagian memorinya kembali. Tekstur dan warnanya akrab di benaknya, Cakra tak mungkin melupakan meskipun tiga puluh tahun telah berlalu.

***

Ia menyantapnya perlahan sembari menikmati kunyahan tempe mendoan dalam mulutnya. Rasa gurih dengan tambahan bumbu petis menyatu dalam ingatannya. Faisal yang sedari tadi melihatnya hanya terheran-heran. Sebelum sepotong tempe kandas, Cakra menatap lurus ke arah Faisal sembari bertanya, “Siapa yang masak?.”

“Untuk menu sayur ada dua karyawan pak, tapi kalau gorengan seperti tempe mendoan itu ibu saya,” jawab Faisal.

“Boleh saya bertemu ibumu?” Mata Cakra berbinar. Hatinya diselimuti penasaran sekaligus dibumbung harapan. Dari tempat duduknya ia sedikit berdiri, celingukan mencari seseorang di dapur.

“Boleh, saya panggilkan dulu ya.” Jawab Faisal. Cakra mengangguk kemudian menoleh ke arah jarum jam, teringat jadwal pesawatnya. Baginya sudah tak penting lagi, sebelum rasa penasarannya terjawab.

Baca Juga  Bertemu Kakek Pincang

Seorang perempuan paruh baya keluar memakai celemek menghampiri tempat duduknya. Paras ayu nan teduh itu tidak berubah meski rambutnya mulai beruban. Cakra diliputi rasa haru yang luar biasa. Tanpa terasa air matanya menitik.

“Riani,” panggilnya lirih.

“Mas Cakra,” Riani balas memanggilnya menerbitkan cahaya di sorot matanya yang coklat.

“Maafkan aku Riani,” ucap Cakra, nada suaranya terdengar penuh penyesalan.  Keduanya terpaku saling diam.  Faisal yang masih tak mengerti bertanya,“Ibu kenal dengan Pak Cakra?” Riani menatap Faisal sambal berkata “Dia bapakmu le.” Mendengarnya Cakra terkejut, raut wajahnya penuh pertanyaan. “Faisal anakmu Mas, saat kita berpisah ternyata saya sedang hamil.” Ucap Riani.

“Astaghfirullah!” Batin Cakra. Rasa penyesalan itu kian dalam di hati Cakra. Spontan Faisal memeluknya. “Maafkan bapak Sal,” ucap Cakra, air matanya tak dapat dibendung lagi. “Faisal sudah memaafkannya pak,” balas Faisal. Di momen yang penuh mengharukan itu ponsel Cakra berdering namun diabaikan. Kini, pencariannya telah berujung.

Mereka bertiga duduk dalam satu meja.

***

“Bagaimana kabarmu?” Cakra membuka percakapan. “Alhamdulillah, baik mas,” jawab Riani. Jawaban yang membuat Cakra sedikit lega.

“Bertahun-tahun saya mencarimu, saya kunjungi semua tempat yang menjual tempe mendoan di seluruh penjuru ibukota hingga luar kota. Suatu hari Dika memberi kabar tentang buku masak yang kamu tulis, dan saya memutuskan untuk mencarimu di kota Malang. Ternyata kita dipertemukan di sini. Jadi kamu sudah lama tinggal di Jogja?” Ucap Cakra Panjang lebar.

 “Awalnya saya memang tinggal di Malang, tapi sejak Faisal memutuskan membangun bisnis kuliner kami pindah ke Jogja Mas. Buku masakan itu sudah terbit lama. Hampir tiga tahun kami tinggal di sini,” balas Riani.

Baca Juga  Nasihatmu Membangkitkan Semangatku, Bu (1)

Faisal memperhatikan raut kedua orang tuanya yang sama-sama memendam rindu. “Sejak Mas Cakra ceraikan saya, saya memutuskan untuk jualan tempe mendoan dan gorengan, alhamdulillah sempat berkembang kemudian musibah datang mengharuskan saya menjual rumah itu. Terpaksa kami harus pulang ke rumah nenek di Malang,” Riani bercerita.

***

Mendengarnya Cakra merasa bersalah, telah membiarkan perempuan sebaik Riani menderita.

“Saya menyesal sekali Rin, aku memang laki-laki bodoh,” ucap Cakra. Ia hanya menunduk tak kuasa menatap Riani.

“Pasti dia merawatmu dengan baik Mas,” ucap Riani. Tetiba Cakra yang sedari tadi menunduk menatap Riani penuh tanya.

“Ranti,” tambah Riani yang menyebut istri keduanya.

“Saya sudah lama bercerai, dia bukan wanita yang baik,” ucap Cakra menegaskan.

Tatapan iba Riani bertambah dua kali lipat mendengarnya.

“Suamimu pasti orang hebat Rin,” Cakra berkelakar. Riani diam tak lama suaranya terdengar lirih, “Suami saya cuman sampeyan Mas, setiap hari saya merasa bayangan Mas Cakra hadir. Selama bertahun-tahun, saya tidak bisa menghilangkan perasaan ini dan betapa saya masih mencintai Mas hingga detik ini.” ucap Riani. Kalimat itu sempurna menumpahkan lagi kristal yang sudah membumbung di pelupuk mata Cakra.

“Saya benar-benar minta maaf Rin.” ucap Cakra sambil menggenggam tangan Riani. “Yang berlalu biarlah berlalu. Saya sudah memaafkannya Mas.” balas Riani. Ucapan Riani ini membuat hati Cakra sedikit lega.

***

“Ibu selalu bilang seburuk apapun perlakuan seseorang terhadapmu, Kita harus selalu berlapang dada memaafkan. Terlebih jika dia adalah orang tuamu,” ucap Faisal di tengah-tengah suara haru itu. Kata-kata Faisal barusan menerbitkan rasa bangga dalam hati Cakra. Riani telah mendidiknya dengan baik.

“Faisal, Riani ikutlah denganku,” ucap Cakra sambil menatap keduanya bergantian. “Rin, maukah kau menerimaku lagi? Kita memulai hidup baru.” Ucap Cakra serius. Riani menunduk setelah sekilas menatapnya, tak lama ia mengangguk kecil. “Pantas saja tidak ada yang kenal ibuk. Foto ibuk di sini bikin pangleng,” ucap Faisal sembari menunjukkan foto Riani yang dirias cantik pada selebaran itu. Riani hanya tersipu malu.

Bagikan
Post a Comment