f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bahasa idonesia

Naik Haji

Oleh : Affan Safani Adham*

“Menunaikan ibadah haji itu bisa ditunda dulu. Pelan-pelan. Mengumpulkan uang agar bisa berangkat bareng-bareng,” kata Agus.

Imah manggut-manggut seperti ayam. Ia sepakat dengan perkataan suaminya. Menurutnya, suami-istri itu seharusnya susah senang bersama. Suaminya rela menunda keberangkatan hajinya hanya karena ia merasa belum siap.

Kata Imah istrinya, “Haji itu bukan perkara mudah. Pergi haji itu sama dengan pergi mati. Haji punya beban moral dan sosial yang berat. Jadi haji itu harus siap menjadi imam di masjid tiap saat. Harus siap jadi penasihat masyarakat. Kalau jadi haji itu tidak bisa seenaknya pakai celana pendek dan singlet sembarangan, aku juga tidak bisa pakai rok dan harus pakai kerudung. Jadi haji juga harus pinter mimpin, pinter ngaji, pinter doa-doa bahasa Arab. Nah, kita?”

Agus percaya, seiring berjalannya waktu, istrinya bisa mempersiapkan mental dan segala risiko menjadi bu haji. Ia tak mau berangkat tanpa istrinya yang sudah setia menemani dan mencintainya.

Haji Di Kala Pandemi

Pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih berlangsung menjadikan Pemerintah memutuskan tidak ada pemberangkatan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Sejumlah calon jemaah haji tidak sedikit yang kecewa. Termasuk Pak Agus dan Bu Imah, orang tua Sofia. Namun juga ada yang ikhlas dan menerimanya dengan lapang dada.

Ayah dan ibunya Sofia tahun 2020 ini salah seorang calon jemaah haji asal Kota Yogyakarta, yang menjadi salah seorang warga yang menerima keputusan tersebut dengan ikhlas. “Pemberangkatan ke tanah suci memang tidak mungkin dipaksakan di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum teratasi,” kata pak Agus.

“Ya, ini artinya bahwa saat ini memang belum ada panggilan dari Allah SWT,” kata bu Imah sambil menceritakan bagaimana perasaannya saat tahu ibadah yang ia idam-idamkan harus tertunda.

Baca Juga  Ayah dan Anak Perempuannya

Pak Agus dan Bu Imah sebagai calon jemaah haji sudah menerima dengan ikhlas. “Karena ini pasti bagian dari rencana Allah SWT juga,” ujar bu Imah.

Awalnya, Bu Imah mengaku sempat kecewa saat mengetahui tidak ada pemberangkatan ibadah haji tahun ini. “Bagaimana tidak, saya yang sudah mendaftar sejak tahun 2012 bersama suami serta saudara gagal berangkat karena situasi ini,” ujar bu Imah.

Ya, sejak awal 2020 Pak Agus dan Bu Imah sudah mempersiapkan berbagai perlengkapan. Namun, dengan adanya pembatalan pemberangkatan di tahun ini, segala persiapan yang sudah dilakukan menjadi sia-sia saja.

“Ada beban psikologis saat ada tetangga yang menanyakan bagaimana kepastian ibadah haji,” kata pak Agus.

Tapi karena sudah menjadi keputusan pemerintah, akhirnya pak Agus harus mengikuti apa yang telah diputuskan pemerintah. “Keputusan yang diambil pasti yang terbaik setelah memperhatikan kemaslahatan bagi masyarakat juga,” kata pak Agus.

Kekecewaan Karena Gagal Berangkat

Kedua orang tua Sofia sempat kecewa juga. Tapi di sisi lain ia lega dan menerima. Kelegaan yang dirasakan kedua orangtuanya, diakui Sofia. “Karena selama ini orangtuaku bersama sejumlah calon jemaah lainnya menunggu kepastian terkait keberangkatan ibadah haji ke tanah suci,” ungkap Sofia.

Dengan adanya pengumuman resmi dari pemerintah, kini ayah-ibunya bersama calon jemaah haji lainnya bisa fokus kepada hal lainnya: berdagang. Meski dipastikan gagal berangkat tahun ini, tapi pemerintah sudah memberikan jaminan kepada orang tua Sofia akan diberangkatkan di tahun depan.

“Ayah dan ibu sudah berniat untuk menunaikan ibadah haji,” tandas Sofia.

“Mudah-mudahan saya tahun depan masih diberi umur oleh Allah SWT,” kata pak Agus.

Pak Agus dan Bu Imah sudah delapan tahun menunggu untuk berangkat haji. Awalnya, pak Agus harus menyisihkan sebagian rezekinya dari berjualan sayur di pasar agar bisa mendaftar haji. Akan tetapi, sejak insiden yang menyebabkan kakinya patah lima tahun lalu, ia tidak lagi berjualan sayuran. Beruntung bagi Pak Agus, sebelum insiden tersebut terjadi ia sudah mendaftar haji.

Baca Juga  Peran Ibu untuk Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi

Pada mulanya, tiga tahun setelah mendaftar haji, pak Hamdan akan berangkat haji. Namun karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, akhirnya pak Agus menunda keberangkatannya.

Keputusan Pemerintah Tentang Ibadah Haji 2020

Keputusan Kemenag RI untuk membatalkan pemberangkatan haji tahun ini dipahami pak Agus. Terpenting ia berharap agar selalu diberi kesehatan sehingga dapat menunaikan ibadah haji tahun depan. “Tahun depan juga tidak masalah. Saya siap. Semoga saya selalu sehat dan bisa menunaikan ibadah haji,” tuturnya.

Tahun depan Pak Agus dan Bu Imah akan menunaikan ibadah haji. Segala persiapan sejak jauh hari pun dilakukan. Apalagi ini momen indah yang lama ditunggu Bu Imah. “Lebih bahagia lagi saya bakal melengkapi Rukun Islam ke lima bersama sang suami,” kata Bu Imah.

Bagi Bu Imah, menunaikan ibadah di depan Kakbah akan menjadi kesempatan berharga. “Ini akan menjadi pertama kalinya saya menyentuh tempat yang menjadi impian banyak kaum muslim di dunia,” ungkap bu Imah.

Perjuangannya panjang untuk menuju ke Tanah Suci Mekkah perlu kesabaran ekstra keras. Sedikit demi sedikit uang ditabung. Perlu waktu lama demi impian itu tercapai. “Saya sudah mendambakan pergi haji itu dari anak saya masih kecil,” ungkap Bu Imah.

Akhir Juni 2020 seharusnya Bu Imah dan suami dijadwalkan berangkat ibadah haji bersama. Mereka akan berangkat bareng 200 jemaah lainnya. Terpaksa, semua impian itu harus tertunda.

Kegusaran Saat Pandemi Menyerang

Sejak awal Maret 2020, perasaan Bu Imah sebenarnya mulai gusar. Musibah wabah Covid-19 ketika itu mulai melanda Indonesia. Seiring waktu, seluruh dunia mengalami nasib serupa. Wabah itu berubah status menjadi pandemi.

Arab Saudi pun sampai menyetop kedatangan jemaah haji sementara waktu. Semua area ibadah di sana pun sepi. Tidak seperti biasanya yang selalu dibanjiri banyak jemaah.

Baca Juga  Sari

Kabar dari Arab Saudi tentu membuat Bu Imah merasa cemas. Khawatir tidak bisa ibadah haji bersama dengan sang suami tercinta. Ditambah kabar dari sang adik yang baru saja batal berangkat umroh. Pembatalan terjadi beberapa hari sebelum keberangkatan.

“Dari situ saya sudah mulai khawatir dan feeling tidak enak. Saya sudah mulai merasa cemas. Saya khawatir tidak jadi berangkat,” ujar bu Imah.

Sempat timbul harapan sedikit. Selentingan Bu Imah mendapat kabar bahwa pelaksanaan ibadah haji bakal tetap digelar. Kegiatan itu nantinya melalui protokol kesehatan ketat. Tapi Kementerian Agama memastikan ibadah haji tahun ini mengalami penundaan. Langkah itu dilakukan sebagai upaya penanganan virus Covid-19 yang melanda dunia. (s)

Bagikan
Post tags:
Post a Comment