f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mahabbah

Antara Kamu dan Mahabbah Kepada-Nya

Pemuda dengan tangan membawa bunga mawar putih itu melihat nanar pada pusara yang nisannya bertuliskan “Aya Shafiyyah binti Abdurrahman”.

Ya, orang yang sudah beristirahat dengan tenang itu adalah Aya Shafiyyah, sosok perempuan anggun yang senantiasa mengejar cintanya Gus Alif yang pada akhirnya menyerah, dan memilih untuk lebih mengejar Mahabbah Nya Allah. Ternyata Allah pun mencintai perempuan yang bernama Aya Shafiyyah ini hingga tak menginginkan manusia fana memiliki Aya. Bukan karena tanpa alasan, Allah tidak menginginkan Aya tersakiti lagi hatinya. Ialah puncak Mahabbah yang Allah berikan pada gadis anggun yang semasa mudanya mengejar cintanya Allah.

“Ay, aku terlambat mengungkapkan rasa cinta ini, tapi ternyata cinta Allah lebih besar dari ku sehingga Allah tidak sabar bertemu dengan mu. Aku cemburu Ay, walaupun di sisi lain aku bahagia karena aku dan Allah mencintai orang yang sama.” Monolog Alif pada pusara bertanah merah itu.

***

Namanya Aya Shafiyyah, mahasiswi semester akhir Pendidikan Bahasa Arab di salah satu Universitas Islam besar di Indonesia, yakni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Saat ini Aya sedang menggarap tugas akhirnya, skripsi. Buruknya saat ini pikirannya stuck di satu orang, cinta pertamanya di kampus hijau ini. Ya, Gus Alifurrahman. Anak kyai yang masyhur di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur. Tentunya sholeh, baik, ramah nan rupawan.

Siapa gadis yang tidak jatuh hati padanya? Tak terkecuali Aya Shafiyyah. Selama hampir empat tahun memendam rasa, Aya merasa harus mengungkapkan perasaannya itu. Tak peduli bagaimana balasannya nanti, Aya hanya ingin dirinya tenang, mendapatkan kepastian walau pahit itu lebih baik daripada selalu merasa spesial atas ekspektasi yang dibangun oleh diri sendiri.

Gumpalan gumpalan kertas memenuhi kamar kost Aya, sesulit itukah menulis surat?

Bukan sulit yang menjadi pertanyaan, tapi keberanian. Pada akhirnya, Aya kalah dari kompetisi calon istri Gus Alif, tepatnya mengalah.

Dan kertas terakhir akhirnya jadilah surat untuk penghuni hati Aya Shafiyyah.

Assalamu’alaikum

Teruntuk

Seseorang yang ada di sana. Lama aku memendam rasa. Jauh ku simpan harap. Memandangmu dari kejauhan. Mengagumi dalam diam.

I’tikadku mengirim surat ini, bukan untuk berharap perasaan ini terbalaskan, melainkan agar angan tentangmu perlahan memudar.

Bolehkah ku katakan suka sekarang?

Menjadi makmummu memanglah impianku, walaupun belum tentu aku yang melengkapi tulang rusukmu.

Aku hanya ingin diriku tidak berekspektasi lebih, atas segala kebaikanmu padaku.

Maka dari itu aku meminta kepastian, agar nantinya aku bisa mundur perlahan.

Aku hanya ingin kau tau perasaanku, terima atau tertolaknya ku serahkan pada Yang Maha Cinta.

Salam kasih

Wassalamu’alaikum

Sebulan kemudian, Aya dan Alif tidak sengaja bertemu di perpustakaan.

Baca Juga  Perempuan sebagai Rumah Cinta

“Mba Aya, Alif ingin menjawab surat yang Mba titipkan ke Aliza kemarin. Maaf Mba, Alif ingin fokus ke pendidikan Alif, karena Alif jadi satu satunya penerus Abi, Setelah lulus Alif akan pergi ke Negeri Timur, Alif tidak bisa berjanji banyak ke Mba. Mohon maaf Mba.” Tutur Alif, dan Aya hanya senyum menanggapi. “Ga perlu merasa terbebani Gus, saya hanya ingin mengutarakan perasaan saya agar saya bisa bersikap rasional kedepannya, perasaan yang saya utarakan tidak harus berbalas, terimakasih ya Gus.” Aya terseyum sembari berpamitan.

Awalnya memang sakit, mengetahui bahwa hatinya memang bukan untuk dirinya. Akan tetapi, karena kenyataan itu Aya bisa berdiri lebih tegak, menyibukkan diri untuk persiapan tugas akhir, hingga mengikuti pengabdian ke pulau pulau terpencil.

Berharap pada manusia memang sakit, Aya tahu itu. Dengan kesibukannya mengisi acara-acara di panti asuhan, mengabdi di pulau-pulau terkecil di Indonesia membuat Aya sadar, banyak hal yang harus ia cintai, banyak hal yang harus lebih ia perhatikan. Dimanapun Aya berada, melihat tempat-tempat eksotis nan indah di pedalaman Indonesia sana, membuat Aya mentadaburi alam dengan semakin mencintai segala ciptaan-Nya dan semakin dekat dengan Tuhan.

Tasbih digital tidak pernah lepas dari jemarinya, lantunan sholawat dan istighfar tidak pernah luput dari lisannya walau sehari.

Qiyamul lail, bukan lagi ajang siapa yang beribadah pada malam hari. Akan tetapi cengkrama yang intens dengan Tuhan sudah menjadi keseharian Aya setelah Lelah dengan segala aktivitas yang ada.

Aya hanyalah gadis desa biasa, siapapun yang melihat Aya tidak akan mengira bahwa gadis desa itu sangatlah mendapat cinta dari Allah. Aura keibuan yang Aya miliki sudah menjadi title yang melekat dalam dirinya.

Baca Juga  Merayu Tuhan di Surau Kakek

Allah memiliki cara tersendiri untuk mencintai hambanya, tak luput Aya Shafiyyah.

Aya Shafiyyah sakit sesakitnya karena manusia, dan Allah selalu hadir kala susah senang nya. Ini adalah bagian terpenting, Allah menunjukkan bahwa berharap pada manusia hanyalah memperdalam luka yang ada, dan Allah adalah sebaik baiknya penyembuh. Aya berhasil sembuh dari sakit hatinya dan berjalan sesuai koridor yang memang sudah Allah tentukan.  

Aya lulus dengan predikat cumlaude, tapi baginya hari itu hanya menambah title yang akan melekat pada dirinya, hari itu tidak begitu spesial. Hanya satu sahabatnya Ayyiva, teman-teman dari Komunitas Peduli Alam, dan beberapa anak dari panti asuhan yang datang untuk menghadiri acara sakral tersebut. Orangtuanya? Malang merupakan tempat yang cukup jauh dari kampung halaman Aya, yakni Bangka. Karena ekonomi kurang memadai membuat Aya wisuda seorang diri, tanpa ada keluarganya yang menemani.

Gus Alif? Ia sudah berada di benua lain, jauh dari kehidupan Aya, kabarnya pun Aya sudah tak peduli.

Walaupun tidak ada orangtua, Aya berbahagia masih ada sahabat, partner kerja, dan anak-anak panti yang selalu hadir dalam acara sakralnya. Mulai dari sidang sempro hingga sidang kelulusan akhir nya.

“Dorrrr!!!” candaan anak panti itu mengejutkan Aya hingga lemas, Aya yang notabene nya memiliki penyakit jantung turunan, sangat sensitif ketika merasa kaget.

Tak berselang lama “CTARRRRR!!” suara petasan itu mengagetkan semua orang, beda hal nya dengan Aya, Ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Aya kesulitan bernapas, nyeri dada, dan keringat dingin. Mungkin sepele, tapi tidak untuk Aya yang punya penyakit jantung turunan itu.

Perjalanan yang cukup jauh dari kampus ke rumah sakit membuat Aya kehilangan nyawa nya. Awalnya, dilarikan ke klinik ummi tapi karena fasilitas kurang memadai akhirnya dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar, akan tetapi Aya tidak sekuat itu untuk menahan rasa sesak di dadanya, Aya Shafiyyah tiada dalam perjalanan ke rumah sakit, pada tanggal 11 Desember 2020, hari Jum’at.

Baca Juga  Enam Tahun Merawat RahmaID: Refleksi Tentang Cinta, Ketangguhan, dan Masa Depan

Dikebumikan pada hari sabtu, 12 Desember 2020, hari sabtu di kampung halamannya, Bangka.

Orang tuanya tentu saja shock, anaknya tidak hanya pulang membawa gelar S.Pd tapi juga gelar baru yakni  almarhumah. Sebegitu besarnya Allah mencintai hamba Nya.

                                                                                                          Di belahan benua lain, negeri timur.

Gus Alif menelpon Abinya, meminta izin bolehkah iya meminang Aya sembari melanjutkan studinya di sini. Pada akhirnya Abinya mengizinkan. Gus Alif sudah lama memendam rasa pada Aya sejak Aya masih menjadi santriwati di pondoknya, akan tetapi Aya tidak pernah sadar bahwa Gus Alif adalah anak dari Kyai di pondoknya, yang Aya tahu Gus Alif merupakan anak kyai.

Gus Alif berkuliah di Universitas Maulana Malik Ibrahim, Malang karena Aya. Padahal dari awal Gus Alif mendapat perintah untuk melanjutkan pendidikan di Negeri Timur.

Gus Alif tahu bahwa hari ini kelulusan Aya, dan Ia ingin menghadiahkan mahar, menginginkan Aya untuk menjadi partner hidup hingga akhiratnya.

Sayang, sesampainya di Indonesia Gus Alif mendapatkan kabar tidak mengenakkan, dan segera terbang ke Bangka, padahal Ia belum bertemu sama sekali dengan keluarganya.

Gus Alif memastikan kabar burung tersebut, dan ternyata benar. Belahan hatinya sudah tiada.

Orang yang ia tunggu-tunggu selama awal sekolah menengah atas hingga kuliah pergi meninggalkannya begitu saja, apakah ini yang disebut karma? Ia meninggalkan Aya, dan sekarang Aya yang meninggalkan Gus Alif selama-lamanya. Hidup memang tak selalu sejalan apa yang kita inginkan, Gus Alif punya keinginan tapi Allah punya rencana.

Gus Alif meletakkan bunga mawar putih itu ke tempat peristirahatan terakhir Aya Shafiyyah.

Mahabbah ibarat pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya berada di langit, buahnya mensucikan hati, lisan, dan semua anggota dalam badan. Mahabbah dalam tasawuf Imam al-Ghazali tidak terlepas dari moralitas-moralitas yang didasarkan pada ajaran islam, yakni moral yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Dan Aya telah mendapatkan mahabbahnya Allah.

Editor : Itsna Naziihah

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Maa Syaa Allah… Ceritanya bagus bangett😭.. Keren bgt author💖

    Oktober 19, 2023
Post a Comment