f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ketupat terakhir

Ketupat Terakhir

Sepekan usai lebaran Idulfitri, langit masih juga mendung padahal sudah dua hari berturut-turut memuntahkan hujan yang lumayan deras. Bisa jadi hujan akan turun lagi. Udara yang dingin membuat Simbah tak berani mandi, hanya cuci muka, tangan dan kaki.

Hari itu hari pertama Tono masuk sekolah setelah libur hari raya. Tak ada kegiatan belajar mengajar selain bertemu dengan bapak ibu guru dan teman-teman yang dilanjutkan dengan acara salam-salaman saling memaafkan. Hanya sekitar tiga jam di sekolah, semua murid dari kelas satu sampai kelas enam kemudian diijinkan pulang.

Sambil bersiul riang, Tono melepas sepatu di teras dan mengucap salam ketika masuk rumah. Ada jawaban lirih dari sebuah kamar tempat neneknya yang biasa ia panggil Simbah berada, menghabiskan hari-harinya lima bulan terakhir ini.

Tono yang bernama lengkap Sugihartono, kini duduk di kelas lima SD Negeri. Nama yang kental akan falsafah Jawa pemberian orang tuanya dari bapak yang asli Sumatera dan ibu asli Jawa.

Di saat orang-orang memberi nama putra putrinya dengan nama yang terdengar keren, misalnya: Aldi, Andre, Miko, Joni, Peggy dan lain-lain, Sugihartono adalah nama agung penuh makna menurut kedua orangtuanya.

Dari asal kata sugih yang berarti kaya dan harto yang berati harta. Adapun no hanya sebagai ciri khas nama seorang lelaki. Harapan ibu bapaknya kelak Tono menjadi orang yang berkecukupan. Begitulah kira-kira.

Ketika Simbah (nenek) dan ibu Tono merantau ke Lampung, di sanalah gadis Jawa, ibu Tono, bertemu dengan lelaki pujaan hati lalu menikah dan lahirlah Tono. Untung tak bisa diraih dan malang tak bisa ditolak.

Bayi Tono merah harus kehilangan sosok bapak. Bapak Tono meninggal usai jatuh terpeleset saat bekerja sebagai tukang batu di sebuah bangunan gedung sekolah bertingkat di Lampung.

Baca Juga  Energi Senyuman untuk Lara

Tak satu pun keluarga ayah Tono yang peduli akan nasib Tono dan ibunya. Hidup di tanah rantau tanpa sosok lelaki yang mampu melindungi dan mengayomi membuat Tono bayi, ibu dan neneknya kembali ke Jawa dengan bekal yang tak seberapa.

“Mak, aku harus bekerja demi Tono dan Emak. Dia harus sekolah, Emak tak keberatan ‘kan bila aku titip Tono?”

Suatu hari ibu Tono mengutarakan niatnya ingin bekerja sebagai TKW setelah beberapa tahun bekerja di pabrik rokok yang dirasa belum bisa mengubah nasib.

“Tahun ini dia akan masuk SD, apa sudah kau pikir masak-masak?” Emak balik bertanya.

Ibu Tono tak menjawab selain menunjukkan roman muka yang memelas namun penuh tekad ingin bekerja di luar negeri. Emak tak mampu mencegah dan hanya bisa melepas putrinya dengan air mata berderai sambil memeluk Tono.

Genap dua tahun di Arab Saudi, Tono menerima kiriman uang dari ibunya yang pertama, cukup untuk kebutuhan dia sehari-hari bersama Simbah. Disusul tahun berikutnya masih ada kiriman buat biaya Tono khitan hingga tiba-tiba tidak ada kabar sama sekali.

Mungkin karena terlalu memikirkan putrinya yang tak kunjung kirim kabar, kesehatan Simbah makin menurun. Katarak yang menyerang kedua matanya pelan-pelan makin mengaburkan pandangannya. Petugas kesehatan setempat sudah mengusahakan untuk operasi gratis tapi simbah tak mau. Takut.

Hari-hari selanjutnya Tono lalui bersama Simbah dengan penuh keprihatinan. Biaya hidup mereka sehari-hari bergantung pada bantuan dari pemerintah, dinas sosial setempat dan bantuan dari para dermawan.

Tono sendiri atas permintaan Ustaz Arif, tetangganya, diminta ikut bantu-bantu membersihkan masjid terdekat usai sekolah. Semua kebutuhan sekolahnya, Ustaz Arif yang menanggung termasuk uang saku sehari-hari.

Baca Juga  Gara-gara Suara Terbanyak

Lima kali lebaran dan puasa Ramadan ia lalui tanpa kehadiran ibunya. Seperti hari raya Idulfitri tahun ini, ia benar-benar merasa sedih. Apalagi ketika melihat teman-temannya bersuka ria bersama ayah ibu mereka. Tono merasa iri dan tak terasa matanya pun membasah, perih.

Dia hanya menunduk ketika temannya satu per satu saling bercerita kemana saja saat liburan. Keinginannya hanya satu. Dia ingin ibunya pulang lalu memeluknya penuh kehangatan.

“Tono sudah pulang, Mbah. Tadi di sekolah hanya salam-salaman dengan bapak ibu guru dan teman-teman.” Tono bercerita kepada Simbah tanpa diminta sambil meletakkan tas sekolah pada sebuah meja butut di sudut ruangan.

Simbah hanya tersenyum di kamar  mendengarkan cerita cucunya. Lima bulan terakhir penglihatan Simbah dari remang-remang menjadi gelap total sehingga untuk hal-hal tertentu Tonolah yang mengerjakannya.

Tono menuju dapur setelah berganti pakaian. Dia ingat kemarin sore Bu Atun depan rumah memberi beberapa lepet, ketupat dan sayur opor. Sengaja ia sisakan dua ketupat yang agak besar untuk makan siang Simbah dan dia.

Oh ya, kebiasaan di desa Tono, ada satu hari yang biasa disebut lebaran kupatan (dari asal kata ketupat) yang jatuh pada hari kedelapan bulan Syawal. Di hari itu banyak warga yang membuat lepet dan ketupat. Lepet dari bahan ketan sedang ketupat dari beras seperti membuat lontong.

“Simbah masih kenyang, Ton. Ketupatnya buat kamu saja,” kata Simbah dari kamar untuk memastikan hari itu cucunya harus kenyang.

Tono sudah mengambil pisau untuk memotong ketupat, tangannya menyentuh sesuatu yang lengket sekaligus basah. Ya, ketupatnya ternyata sudah tak layak dimakan. Secepat kilat ia ambil magicom lalu secepat kilat pula ia menanak nasi agar Simbah tidak terlambat makan.

Baca Juga  Pagi Menghilang Ketika Malam Datang

“Ya, Mbah, ketupatnya dikerubuti semut. Tadi Tono lupa menutupnya.” Tono terpaksa berbohong pada Simbah karena ia yakin Simbah tidak mungkin melihat semut yang ia maksud.

Sambil mengelap magicom yang dibeli ibunya ketika masih di rumah, ia melamun berharap ibunya cepat kembali. Dia tidak tahu, apakah tahun depan masih bisa menikmati ketupat dan sayur opor bersama ibu seperti pemberian Bu Atun yang baik hati atau tidak. Dua ketupat terakhir yang urung ia santap makin mengingatkannya akan sosok ibu yang sangat dia rindukan.

Tono juga tidak pernah tahu, di puncak lelap dan mimpinya setiap malam, Simbah senantiasa melangitkan doa. Memohon agar putrinya segera keluar dari penjara setelah terlibat sebuah kasus pembunuhan demi mempertahankan kehormatan.

Terjemahan :

Lepet: makanan dari ketan dan kelapa parut yang dibungkus janur berbentuk seperti lontong sebagai pasangan ketupat di hari lebaran kupatan.

Bagikan
Post a Comment