Selamat Berpulang
Pengamen itu mendekati rumahku. Tampak akan seperti para pengamen di hari-hari sebelumnya; datang, menggenjreng gitar kecil yang sudah hilang satu senarnya, menyodorkan kaleng atau menadahkan tangan, menerima uang koin, lalu pergi tanpa kata.
Sayangnya, semua itu ternyata hanya pikiranku. Pengamen yang mendekati rumahku tidak bernyanyi. Ia malah duduk bersila di teras rumah. Bilang kalau sekarang dia tak akan bernyanyi. Hanya akan memberikan satu-dua cerita menarik tentang hidup. Aku menolaknya halus. Mengatakan kalau hari ini aku sibuk sekali, yang sebenarnya tidak. Itu hanya alasan agar pengamen bertopi biru segera pergi. Meninggalkanku yang kesepian di rumah selama ini.
Aku menyodorkan dua koin lagi sambil bilang “Pak, saya permisi masuk dulu ya” dan dibalas hanya dengan anggukan saja. Cepat-cepat aku masuk rumah. Menutup pintu perlahan. Berjalan menuju kamar di mana film yang kutunda tadi menunggu.
***
Esoknya Ia datang lagi. Kali ini menenteng gitar coklat yang lebih besar dari hari sebelumnya. Aku mulai merogoh saku jaket untuk mengambil dua koin di sana. Tapi ternyata ia tak datang ke rumahku. Ia mengamen di semua rumah kompleks ini, kecuali rumahku. Aku bingung. Apa mungkin sikapku kemaren membuatnya sakit hati?
Sudah seminggu Ia terus mengemis di semua rumah kompleks dan menyisakan rumahku. Hanya dilewati seakan rumahku raib entah kemana. Karena merasa tak enak andai benar aku sudah menyakiti, hari ini aku menyiapkan kopi dan beberapa potong roti yang Ibu beli tadi. Persis saat Ia berjalan di depan rumah, kusapa dia dengan ramah “Bapak, monggo ini pak ada kopi dan roti”.
Lelaki tua bertopi biru itu tak bereaksi seperti dugaanku. Ia hanya menatapku sekilas. Lalu berjalan perlahan menuju teras rumah.
“Mari duduk di dalam Pak.”
“Ndak. Saya tahu kamu sendirian di rumah. Kita bincang-bincang di teras saja. sudah sore juga.”
***
Aku heran kenapa beliau bisa tahu aku di rumah sendirian. Apa karena selama mengamen di daerah sini selalu melihatku sendiri? Ya, benar. Mungkin saja.
“Siapa namamu, Nduk?”
“Ratih, Pak. Anak tunggal yang malas berkumpul dengan teman. Kelas 3 SMA di sekolah negeri rasa swasta 2 km dari sini. Ayah dan Ibu bekerja 6 hari penuh.” Kubalas agak lengkap dengan sedikit membubuhkan candaan. Kuharap Bapak bertopi biru itu mengerti maksudku.
“Haha. Kenapa kau jawab detail begitu? Aku hanya tanya namamu.”
Aku hanya nyengir saja. membiarkan beberapa detik hening.
“Maaf jika kemaren kelakuan saya menyakiti Bapak. Saya tidak bermaksud begitu. Tapi karena saya jarang bertemu orang…”
“Sudah, ndak apa-apa. Gausah dibahas lagi. Saya melewati rumahmu cuma pengen tahu apakah kamu masih punya rasa empati dan simpati kepada orang”.
Lalu kami lanjut saling mengenalkan diri. Beliau bercerita tentang kehidupan masa mudanya yang biasa-biasa saja. Sama sekali tak ada hal spesial. Ayah dan Ibunya tak pernah menjenguknya lagi setelah menaruhnya begitu saja di depan panti asuhan saat masih berumur dua tahun. Ibu panti di sinetron-sinetron negeri ini biasanya digambarkan berwatak keras, cepat marah, dan bersikap tak begitu adil. Ajaibnya, ibu pantinya adalah orang yang paling saba. Ketika Ibu panti sudah begitu lelah dengan kelakuan anak-anaknya, Ia akan menangis sendiri di kamar.
***
Karena hanya lulusan SMP dan tidak pintar-pintar amat; akhirnya kerja serabutan di pasar besar kota jadi salah satu pilihan. Mengangkut beras, tepung, dan sembako dari truk ke warung-warung. Makan-minum seadanya, upah tak pernah mencapai minimum, dan gemar membeli baju bekas di toko pojok pasar. Tiga tahun terakhir, kehidupan yang sudah dijalaninya berpuluh tahun itu Ia tinggalkan. Katanya sudah sangat lelah menjadi babu. Ingin hidup bebas. Tanpa aturan dan tekanan.
“Bapak sekarang tinggal di mana?” tiba-tiba aku menyela di antara cerita dramatis itu.
“Tetap di Panti Asuhan. Mengelolanya bersama dua teman pantiku dulu. Ibu panti yang baik hati sudah meninggal tujuh tahun lalu. Ah, mengenangnya saja bisa membuatku sangat bahagia. Ibu terlalu baik. Tuhan pasti sangat menyayanginya. Tak mau hamba kesayangan berlama-lama di dunia yang kejam ini.”
Aku mengangguk tanda paham.
.
“Aku tertarik padamu, Nak.”
Hah? Maksudnya? Tanpa sadar mataku langsung melotot.
“Bukan tertarik sebagai pria kepada gadis. Bodoh kau! Haha. Aku tertarik pada hidupmu. Hampir sama sepertiku; sendiri, kurang bisa bersosialisasi, dan.. kutebak kesepianmu selama ini sudah membuatmu nyaman. Sangat nyaman hingga malas berinteraksi lama dengan orang lain.”
Aku mengangguk. Bingung harus merespon seperti apa lagi. Bapak ini pintar sekali membaca hidupku. Ajaibnya, aku sama sekali tak risih. Lama-lama pria berumur 40 tahunan di depanku ini terlihat seperti peramal. Lihai dalam dunia tebak-menebak.
“Tapi, ada satu hal yang mengganjal. Meskipun aku sudah hidup bebas, meskipun aku selalu kembali istirahat dan hidup di panti asuhan. Sedetikpun aku tak pernah merasakan makna rumah di sana. Aku tak punya tempat pulang. Makanya aku suka keliling kota. Berkenalan dengan satu-dua orang yang kusukai, mengunjungi tempat ramai hingga kawasan tak berpenghuni, mengintari hutan gedung, melewati bangunan-bangunan terbengkalai. Anehnya, titik lelahku selalu berakhir di makam. Kau tahu kenapa? Di sana aku merasa nyaman. Menyepi bersama orang-orang mati. Berharap Tuhan segera memanggilku. Berharap tanah merah itu segera memelukku hangat.”
***
Entah kenapa bulu kudukku berdiri. Merinding sekali rasanaya mendengar orang yang berharap… ingin cepat-cepat mati? Otakku belum bisa mencerna secara sempurna. Terhenti beberapa detik sampai beliau melanjutkan.
“Kau mungkin belum benar-benar mengerti makna rumah, Nak. Manusia memang berproses dalam segala hal. Tapi saat kau tua nanti, rumah menjadi amat sangat penting. Tempat di mana kau bisa beristirahat dari hiruk-pikuk dunia. Berteduh dari derasnya ujian hidup. Tempat kamu merasa nyaman, aman, dan damai. Kau masih muda, temukanlah definisi pulangmu. Bersabar dan berusaha, itu yang terpenting. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi di tempat pulang masing-masing”
Lamat-lamat, suara azan Magrib terdengar dari musala kompleks sebelah. Seakan mengatakan bahwa perbincangan seru kami harus segera diakhiri.
“Apa kau mau berjanji Nak? Jika aku mati, datanglah membawa tiga bunga melati. Tak boleh kurang atau lebih. Aku suka angka tiga, angka kelahiranku. Jika bingung di mana makamku, kau bisa mengunjungi Panti Asuhan di pinggir kota ini. ‘Rumah Bahagia’ namanya.”
***
Tanpa pamit atau mengatakan kalimat perpisahan lain, pria bertopi biru itu beranjak pergi. Membuka gerbang besi rumah, melewatinya, dan menutupnya kembali. Lalu perlahan menghilang dari pandangan.
Kondisiku? Agak gemetar sebenarnya. Mungkin efek kaget melihat pria yang begitu tenang menghadapi kematian. Terlihat bahagia malah. Tak berselang lama, Ayah dan Ibu pulang dari tempat kerja. berboncengan mesra di atas motor matic seperti biasa. Aku berdiri, berjalan mendekati Ayah dan mencium tangannya. Agak lama sampai Ia berkata “Rat, kamu kenapa?”. Kujawab dengan gelengan kepala. Kembali ke teras. Membereskan kopi yang hanya tersisa ampas dan piring roti.
Aku belum siap kehilangan siapapun. Belum Tuhan. Tolong.
***
Aku terus merasa khawatir tujuh hari ini. Bapak pengamen bertopi biru itu tak kunjung datang seperti hari pertama dan terakhir kami berbincang. Aku ingin bertemu lagi, berbincang lagi, dan memberikan kopi pahit seperti sebelumnya. Kurasa selama perbicangan tak tentu arah itu, aku mendapat banyak pelajaran hidup.
Karna rasa penasaran dan was-was yang kian mengepul di otak, aku memberanikan diri memesan ojek online ke daerah Panti Asuhan di pinggir kota. Lumayan merogoh kocek sebenarnya, tapi tak masalah. Bertemu Bapak topi biru itu lebih penting daripada uang.
Setelah menempuh jarak 60 kilo meter lebih, aku tiba di sebuah Panti Pedesaan yang asri. Terpampang di sana dua rumah tua yang cukup besar, muat untuk puluhan anak yatim dan para pengasuhnya. Bangunan terlihat sudah tua dengan cat putih mengelupas, yang mulai memudar menjadi putih-kekuningan. Teras rumah tertutup penuh oleh rumput hijau.
Kubuka pagar besi setinggi dada yang dipeluk mesra tumbuhan merambat. Entahlah namanya apa, pikiranku tak punya waktu untuk menerka-nerka. Tiba di depan pintu rumah sebelah kiri yang memang sudah terbuka, aku disambut oleh perempuan paruh baya berkerudung coklat, bertanya mencari siapa.
“Bapak bertopi biru Bu. Saya ingin bertemu dengan beliau.”
“Bapaknya sudah meninggal dua hari yang lalu Mbak. Dikubur di sebelah taman belakang Panti. Mari saya antar.”
***
Aku sudah menduganya. Hati ini sudah kupersiapkan menerima kabar buruk perihal Bapak bertopi biru. Aku ikhlas. Mungkin pertemuan kami memang ditetapkan Tuhan menjadi pertama dan terakhir saja. tak kurang, tak lebih.
Kuikuti Ibu berkerudung coklat menuju bagian belakang rumah, melewati ruang tamu, belasan kamar anak panti, ruang makan, dapur, dan pintu belakang. Taman yang disebutkan sebenarnya jauh dari bayangan taman-taman kota yang cantik dan estetik. Taman itu lebih mirip lapangan rumput dengan jejeran kursi di sisi kanan dan kiri.
***
Setelah melewati taman, kami tiba di dua gundukan tanah. Satu gundukan terlihat sudah lama dan tana satunya terlihat masih merah dan basah. Itu mungkin makam Ibu Panti yang baik hati, pikirku.
Aku duduk jongkok di samping kanan nisan. Meletakkan tiga tangkai bunga melati, persis seperti pesanannya seminggu lalu. Aku mulai merapal beberapa doa yang kuhafal. Ibu berkerudung coklat meninggalkanku sendiri. Ingin memberiku ruang lebih mungkin, agar leluasa bercengkrama dengan kayu nisan yang masih bagus itu.
“Assalamualaikum Pak. Kabar Bapak bagaimana? Bapak sudah ndak merasa sedih ya sekarang? Apa terdengar aneh jika saya rindu Bapak meminum kopi pahit buatan saya? Padahal kita hanya pernah berbincang sekali. Tapi rasanya sudah perah berbincang ratusan kali. Maaf ya Pak, jika Ratih ada salah. Maaf kalau percakapan kemaren kurang seru karena saya tidak banyak merespon dengan jawaban-jawaban seperti manusia pada umumnya. Saya hanya kurang bisa mengatakan pikiran dan hati saya pada orang baru. Maaf”
Aku mengelap air mata yang berjatuhan. Tak begitu deras, tapi air mata tetap mengalir lancar.
***
“Terima kasih sudah mau berbagi cerita Bapak tentang jalan pulang. Saya bisa merasakan kekosongan Bapak saat mencari makna pulang. Syukur pada Tuhan. Bapak sekarang sudah bisa pulang. Bapak sudah menemukan definisi dari pulang yang sesungguhnya. Pulang menuju Tuhan, Sang pemilik hidup dan penguasa seluruh alam. Terimakasih. Bapak akan selalu saya kenang. Sebagai guru pelajaran hidup yang berharga. Sebagai salah satu tokoh manusia favorit saya. Selamat sudah pulang, Pak. Semoga saat saya pulang nanti, saya sudah menjadi manusia bermanfaat bagi bumi.”
Tak berselang lama, kutinggalkan tanah merah yang mengubur Bapak topi biru yang baik hati. Aku berjanji, alih-alih bersedih mengingat kepergianmu, aku akan tersenyum telah bertemu makhluk tuhan menakjubkan sepertimu.
Bukankah orang biasa bisa tampak luar biasa di mata orang-orang yang tepat?
Mahasiswi Sastra Inggris UIN Maliki Malang
