f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Necrophillia

Senandika Indurasmi

Kala itu, kau pernah menghilang lama sekali. Aku berharap agar suratku segera berbalas, tapi ternyata tak semudah yang ku kira. Butuh waktu untuk menghadapi semua ini.

Sesaat sebelum mentari mulai beranjak kembali ke peraduannya, kau masih bersamaku menatap horizon yang berada di ufuk barat. Duduk di hamparan pasir putih pantai yang halus itu.

Semburat jingga mulai menampakan kegagahannya, yang seringkali membuatmu nyaman menatapnya lamat-lamat.

Aku pun demikian halnya, mencoba untuk meresapi betapa semilir angin kala itu membuatku nyaman berada di sisimu. Saat kau menatap horizon, aku pernah berkata kepadamu yang mungkin masih tersimpan dalam benakmu.

“As long as I’m here, no one can hurt you….” Begitu ucapku lirih sembari menatap wajahmu yang sendu itu.Senyummu tersungging elok, lalu kau menyenderkan kepalamu dibahuku.

Ah, betapa kita adalah sepasang manusia yang saling memberikan rasa nyaman. Duhai, betapa Tuhan menciptakan rasa ini di setiap hamba-Nya. Kala itu, aku berdoa agar kisah ini tak berhenti hanya sampai sini. Kisah ini harus menemui titik temu.

Perkenalan kita memang singkat, dengan mengandalkan e-mail aku mengenalimu dari jauh, bertegur sapa, saling berkabar, dan sesekali curhat ngalor ngidul dengan pembahasan yang mengalir apa adanya.

Dariku kau belajar banyak hal, dan darimu pula aku semakin mengerti tentang arti sebuah relasi, komunikasi, dan kepercayaan yang harus dirawat agar kisah ini tak lekas usang dimakan usia.

Walau begitu, saling bertelingkah tak dapat dihindari. Selalu ada hal-hal kecil yang membuatmu merajuk yang pada akhirnya tak lagi membalas e-mailku.

Tapi tak apa. Setidaknya aku bisa memahamimu jauh dari yang kau kira. Aku cukup punya kesabaran dalam hal ini. Setidaknya membaca, menulis, dan bepergian ke tempat asing yang ramai dapat membuatku tenang walau sejenak.

Baca Juga  Kotak Kejujuran

Kendati demikian, pikiran ini tak bisa lepas begitu saja darimu.

Kala itu, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya aku selalu mengecek e-mail, berharap ada surat balasan darimu. Tapi nihil belaka, surel yang ku terima hanyalah dari promosi ojek online dan beberapa surel pemberitahuan dari media daring bahwa tulisanku telah tayang, tak sedikit pula yang ditolak.

Namun hei, siapa sangka! Terakhir kali ku mengecek e-mail beberapa hari lalu, kau pun membalas suratku.

Sekira pukul 03.00 pagi, kau melayangkan surat balasan. Seketika hatiku meletup kegirangan, laiknya menang undian sepeda dari acara 17’an yang akan diselenggarakan sebulan lagi.

Walau bukan dari Pak Presiden, setidaknya dengan sepeda itu aku bisa menyusuri jalan setapak menuju rumahmu, walau jauh.

Aku pun bergegas membuka surelmu tanpa peduli tahi mata yang telah ku produksi semalaman, wajah dan tangan yang penuh minyak, nyamuk yang selalu berdengking di telinga.

Dengan basmalah aku mulai membaca suratmu.

Untukmu yang menantikan surat ini dengan penuh gelisah.

“Selamat pagi, mohon maaf sebelumnya karena surelmu yang tak kunjung berbalas. Tapi aku yakin, kau mengerti aku mengapa tak ada balasan sama sekali dan kau pasti menunggu balasan ini lama sekali, bukan? Karenanya sekali lagi maafkan aku.

Pada surel ini, aku mengutarakan sesuatu yang cukup privat, bahwasannya…

Kita memang sudah saling kenal sejak lama, berpijak di bumi yang sama, saling bertukar cerita yang tak jarang membuatku tertawa pada semua cerita konyolmu.

Dan pada titik ini, mungkin kau bertanya-tanya perihal kisah yang kita jalani bersama ini, bukan?

Tapi ku mohon padamu, carilah aku di langit. Di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi untuk mengijabahi segenap doamu. Mintalah aku yang berada di genggaman-Nya.

Percuma saja kau mencariku di bumi, sebab kunci itu ada di langit. Kunci yang akan menghapus garis batas di antara kita. Aku pun mengharapkan yang terbaik, untuk seluruh kisah yang semoga lekas dipertemukan oleh waktu.”

Dariku,

Yang selalu kau jaga disetiap bait puisimu.

Usai membaca surelmu, sejenak aku tak percaya bahwa surat ini darimu. Tapi ini benar darimu, aku tak percaya sebab tidak seperti biasanya kau memilih kata-kata dan diksi seindah ini.

Baca Juga  Ika Mendebat Salat

Ku rasa kau mulai mahir merangkai kata karena setumpuk novel yang ku beri setiap tanggal lahirmu, bacaanmu atas karya Jalaluddin Rumi, dan iringan musik India yang selalu kau dengarkan di tiap pagimu.

Dari suratmu, sedikit banyak ku mulai memahami betapa campur tangan Tuhan atas kisah ini sangatlah berarti.

Aku bersyukur sekali atas sikap dan keputusanmu yang telah membalas suratku. Kau menghilang cukup lama, lantas hadir dengan sepotong hati yang sama sekali baru.

Ya, dulu aku memang orang yang memiliki perangai yang sangat buruk.

Khamer, judi, hingga clubing adalah sederet masa lampau yang teramat getir jika dikenang. Tapi sekarang lihatlah, kau hadir mengubah segala sisi burukku dan menyiram seluruh tinta hitam yang ada di dalam hati ini dengan caramu.

Karenanya, kau takkan tergantikan walau kelak kita tak lagi saling menyapa. Dan aku percaya bahwa yang baik akan dipertemukan dengan yang baik, yang belum baik akan dipertemukan dengan yang pandai memperbaiki.

Dan bagiku, kau adalah wujud dari Senandika Indurasmi, suara hati rembulan yang selalu terpatri di dalam sanubari ini, sampai akhir ku tak lagi bisa membasuh air matamu kala kau bertemankan sepi, berbalut sunyi.

*) Kisah ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan jalan cerita dalam kisah nyata. Itu hanyalah sebuah kebetulan yang tak disengaja.

Bagikan
Post tags:
Comments
  • April

    Jujur, aku terharu bacanya. Barakallah, Kak!

    September 5, 2020
    • r fauzi fuadi

      Terima kasih, kak. Semoga bisa menginspirasi…

      September 6, 2020
Post a Comment