f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
meDionaea Muscipula

IKAN ASAP SAMBAL TERASI

Oleh: Ali Audah

Malam ini saya terpaksa mempercepat sahur. Sejak sore tadi saya diminta isteri bersiap-siap mencegat truk pengantar ikan-segar-dari-Tuban, ternyata baru menjelang azan Isya’ truk tersebut memasuki Jogja. Sang juragan ikan, Lek Tamaji, adalah penjual ikan segar dari Tuban yang sudah lama menekuni bisnis ini.

Saat ditelpon tadi, Tamaji menjanjikan akan menyuruh supirnya menunggu di depan jalan raya Candi Prambanan. Maka meluncurlah kami ke titik yang disepakati, dan berhasil membawa dua kantong keresek ikan yang sudah diasapi. Sebagai penggemar ikan laut, saya dan isteri tentu senang mendapat kiriman dari Ibu Mertua ini.

Sesampai di rumah, isteri langsung sibuk membersihkan dan menata ikan-ikan tersebut di lemari es. Saya segera mengambil bawang merah tiga siung, cabe merah empat tangkai, dan sesendok teh terasi Bangka. Racikan sambal terasi saya sering mendapat pujian isteri dan Ahsan, anak bungsu kami.

Terasi Bangka memang menjadi salah satu benda yang harus selalu tersedia di antara jejeran bumbu dapur, demikian pula dengan petis Tuban. Saya harus berterimakasih kepada Yuk Ijah di Toboali Bangka yang sudah berkenan mengirim satu kilo terasi udang beberapa minggu lalu sehingga stok bahan pembuat sambal kami menjadi aman, dan malam ini saya dapat membuat sambal.

Tentu saja sambal ini saya maksudkan untuk ‘teman’ ikan asap yang sebentar lagi akan saya santap. Tidak membutuhkan waktu lama ‘mengulek’ sambal tersebut, juga menggoreng dua ekor ikan asap. Dengan semangat anak-anak millennials yang berdemo di Gejayan dan Jakarta, saya ‘membantai’ dua ekor ikan asap tersebut hingga ‘ludas’. Sahur saya menjadi lebih cepat beberapa jam di malam ini.

Baca Juga  Kaibon, Tanah Syuhada Cinta

Isteri saya adalah seorang motivator handal, tidak saja untuk anak-anak didiknya, tetapi juga bagi para orangtua murid. Daya kritisnya sering tidak dapat dikendalikan jika melihat sesuatu yang berjalan dengan ‘sembrono’, ‘berbahaya’, dan ‘tidak rapi’.

Satu-satunya kelemahan yang cukup serius dari ibu anak-anak saya ini adalah ketidakyakinannya dalam navigasi rute perjalanan, sehingga kami sudah terbiasa tersesat mencari satu alamat rumah jika menyerahkan urusan navigasi tersebut kepadanya.

Nah, sebagai guru yang sangat ‘concern’ dengan daya kritis dan nalar, isteri saya telah menghimpun sejumlah siswa di sekolahnya ke dalam suatu kelompok belajar khusus bernama ‘scriboers’. Saya berjanji akan menulis kisah khusus tentang kelompok ini.

Sesudah menyantap dua potong ikan asap dengan sambal terasi yang lezat, saya mencuci langsung piring dan sendok yang saya gunakan. Di rumah kami ada tradisi mencuci piring sendiri sehabis makan agar pring kotor tidak menumpuk di dapur. Sudah setahun ini kami tidak lagi mempekerjakan Mba Nem sebagai asisten rumah tangga, sehingga apa-apa harus kami lakukan dan siapkan sendiri.

Rasanya saya masih ingin menambah makan lagi, tetapi berat badan saya sudah 70 kg. Makan malam justeru akan meningkatkan tambahan lemak karena tidak ada aktifitas mengeluarkan keringat sebanyak di siang hari.

Ketika mengecek konten di twitter, saya tertarik dengan undangan Virtual Seminar tentang “Perlindungan Sosial dan Ketahanan Masyarakat”. Segera undangan itu saya bagikan ke Grup Scriboers. “Itu ada Budiman Sudjatmiko, ya?”tanya salah seorang anggota grup. Ya, jawab saya, kenapa? “Aku sebenarnya tertarik mau memgikuti diskusi itu, tetapi Ayah melarang karena takut saya terpengaruh ideologi Budiman Sudjatmiko,” jawabnya kembali. Saya terdiam.

Ingatan saya segera membuka file-file bersama Ketua Gerakan Inivator 4.0 ini saat kami masih siswa SMA. Saya tersenyum, lalu menjawab kekhawatiran anak murid Bu Nazilah dengan mengatakan,” jangan takut. Kan ada saya.”

Baca Juga  Setelah Berpisah dengan Ramadan

Daya kritis memang musuh besar ketakutan, sekalipun sering juga menumpang ketakutan itu untuk membangun kecurigaan. Masalahnya, daya kritis tidak boleh berakhir pada ketakutan dan kecurigaan, tetapi justru awal langkah untuk menghilangkan ketakutan dan menjawab kecurigaan.

Kekuasaan yang dibangun dengan menebarkan ketakutan agar orang tidak mempertanyakan kebenaran sang penguasa dan selalu curiga kepada setiap pertanyaan yang ditujukan kepada kebijakannya adalah kekuasaan yang dibangun di atas ‘jaring laba-laba’, sebuah perumpamaan di Kitab Suci surah Al Ankabut ayat 41. Laba-laba jelas tidak enak dimakan, setidaknya menurut saya. Lebih enak menyantap ikan asap dengan sambal terasi sebagai temannya.

Oh, ya. Saya lupa menambahkan kucuran air perasan jeruk kunci atau jeruk sambal ke dalam sambal tersebut. Selamat mencoba.

Bagikan
Comments
  • Abu Muchsin

    Mantab tulisannya bang Ali…

    Mei 5, 2020
    • Ali Audah

      Terimakasih mas Abu

      Mei 7, 2020
  • MuL

    Mantap Bang Ali, renyah … bagi dong Ikan asapnya he..he…

    Mei 17, 2020
  • Ali Audah

    Ayo main ke rumah, Mas Mul..hehe

    November 11, 2021
  • Ali Audah

    Apa kabar, Mas

    November 11, 2021
Post a Comment