Gelombang yang Tak Pernah Mereda
Anisa menggigil. Ia mendekap kedua lututnya hingga menyentuh dagu. Selimut yang serat kainnya telah tipis tidak mampu menghalau demam yang membekapnya. Dinding gedek bambu memberi celah bagi angin malam menelusup masuk. Kupeluk gadis berusia sembilan tahun itu sambil berlinang airmata dan terus merapal doa agar penyakitnya mereda.
Pada saat yang sama, otakku berpikir keras untuk bisa mencari cara bagi kesembuhan atau setidaknya meredakan demamnya malam ini. Kami tidak memiliki kain yang layak untuk menjadi selimut. Juga tak memiliki ruangan yang cukup hangat atau setidaknya berdinding layak dan dapat menahan angin malam. Obat yang diberi oleh bidan desa dua hari yang lalu pun telah habis.
Semestinya, untuk penyakit yang diderita Anisa, aku harus membawanya ke Puskesmas Kecamatan untuk di rawat inap. Namun saat aku tiba di sana, Puskemas menolak karena aku tidak memiliki biaya. Kartu jaminan kesehatanpun tidak punya. Pak RT menolak memberikan rekomendasi untuk mendapat kartu sehat karena aparat desa hanya mendata kerabatnya saja.
Bapak seorang nelayan, anak buah kapal lebih tepatnya karena Bapak tidak memiliki kapal dan ikut melaut bersama nelayan lain. Penghasilan Bapak hanya cukup untuk makan setiap hari. Bahkan terkadang kami harus rela menahan lapar manakala hasil tangkapan ikan tidak sesuai harapan. Kemarin, kami hanya makan dua bungkus mie instan untuk berempat. Angin dan gelombang membuat hasil tangkapan nelayan terlampau sedikit, hanya cukup membeli solar dan sedikit jatah makan bagi anak buah kapal. Bapak pulang hanya membawa dua mie instan yang dibelinya dari warung dekat tempat pelelangan ikan.
*
Suara gelombang dari laut yang hanya berjarak 500 meter dari tempat tinggal kami terdengar menderu, bersaing dengan suara hujan yang mengecup atap. Aroma amis dari tempat pelelangan ikan yang tidak jauh dari rumah ini pun menggenapi malam kami yang basah. Aku mendengkus, entah kapan kehidupan pesisir yang sulit ini sanggup kami tahankan.
Namaku Rahma, usiaku 15 tahun. Enam bulan lalu baru menerima ijazah SMP, namun terpaksa menyimpan ijazah dalam lemari kayu yang kacanya telah pecah beberapa tahun lalu itu. Selain letak SMA yang jauh dari kampungku, ketiadaan biaya membuat aku harus ikhlas menggantung cita-cita di langit nan tinggi. Tak teraih dan bahkan harus direlakan terbawa angin hingga jauh.
Anisa adalah adikku, anak kedua tepatnya karena setelah Anisa masih ada Habi yang berusia 4 tahun. Kami tinggal berempat di gubuk ini. Tempat yang cukup sempit dan juga pengap. Ruangan berukuran 5×4 meter yang hanya ada sekat untuk dapur dan tirai lusuh untuk memisahkan ruang tamu dan kamar tidur. Kami menumpang mandi pada kamar mandi umum di tempat pelelangan ikan. Mungkin itulah yang menyebabkan kulit kami kerap kali amis dengan beberapa sisik ikan yang terkadang menempel di badan.
Setelah ibu meninggal dua tahun lalu, aku menjadi kakak sekaligus ibu bagi mereka. Kehidupan kami sepenuhnya tergantung dari hasil laut yang dibawa Bapak. Sesekali, jika ada pekerjaan rumah tangga, Bu Haji Imran memintaku membersihkan rumah serta pekarangannya yang luas. Dari uang hasil bekerja itulah aku bisa menabung jika sewaktu-waktu penghasilan dari laut tak cukup untuk membeli beras juga lauk.
Aku memeluk Anisa yang masih menggigil. Giginya beradu menimbulkan bunyi tak nyaman di telinga. Malam ini kami hanya tinggal bertiga, Bapak sedang bertaruh nyawa di laut. Tiba-tiba saja terlintas dalam benak untuk meminta pertolongan dari Bu Haji Imran, barangkali ada kemurahan hatinya memberiku pinjaman uang untuk membawa Anisa ke Puskesmas terdekat.
*
Hatiku penuh dengan harapan. Tak kuhiraukan hujan yang nanti akan membasahi kepala juga badan. Dengan hanya mengenakan caping sebagai penangkal hujan, aku menembus tetesan air yang cukup deras turun dari langit. Berjalan melewati gang sempit di antara rumah penduduk.
Rumah besar bercat kuning gading itu masih benderang, meski telah sepi. Mungkin penghuninya lebih memilih meringkuk dalam selimut hangat di kamar yang luas. Ukuran kamar yang jauh lebih luas dari rumahku. Perabotan, lampu, tirai bahkan vas bunganya pun terlihat mewah dan mahal. Rumahnya yang besar nampak kontras sekali dengan rumah nelayan di sekitarnya.
Aku memberanikan diri mengetuk pintu jati berukuran besar itu. Satu kali, hening. Dua kali, masih hening. Kuketuk lagi untuk kali ketiga. Kugigit bibirku untuk meredakan cemas. Bu Haji Imran satu-satunya harapan, juragan ikan sekaligus pemilik kapal tempat di mana para nelayan kecil berhutang.
Setelah menunggu cukup lama dari ketukan ketiga, kuputar haluan. Tampaknya harapanku belum terkabulkan. Suara deru hujan mungkin menyamarkan ketukan pintu hingga pemilik rumah tak mendengarnya. Langkahku terhenti saat sebuah suara berat memanggil namaku.
Aku membalikkan badan dan mendapati Bu Haji Imran berdiri dengan kening berkerut. Tanpa menunggunya mempersilahkanku masuk, kusampaikan maksud kedatanganku malam ini. Raut wajahnya kentara sekali tidak suka. Ia menatapku dari kepala hingga kaki. Ia ragu aku bisa membayar sejumlah uang yang kuminta yang akan digunakan untuk pengobatan Anisa.
Aku mulai bersimpuh, berupaya keras agar ia percaya bahwa aku memang berniat mengembalikan uangnya. Ia bisa mempekerjakanku tanpa upah selama satu tahun. Perempuan paruh baya itu masih bergeming. Keningnya berkerut seolah menghitung. Jika dalam satu minggu ia memanggilku bekerja sebanyak 2 kali dan setiap kali kedatangan upahku 50 ribu, maka dalam satu tahun aku bisa membayar Rp 4.800.000. Jumlah uang yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan uang yang kupinjam sebanyak 2 juta rupiah.
*
Bu Haji Imran tersenyum, pastilah penawaran itu menguntungkan hingga akhirnya ia setuju untuk memberikan sejumlah uang yang kubutuhkan. Aku menarik napas lega. Suara gemerincing terdengar saat Bu Haji berjalan masuk ke rumahnya untuk mengambil uang. Suara yang ditimbulkan dari gelang-gelang emas yang saling beradu yang dikenakan hampir menutupi lengan kanannya.
Tak lama, perempuan bertubuh subur itu kembali dengan uang berwarna merah di tangan. Ia menegaskan bahwa mulai besok aku harus datang ke rumahnya setiap hari Senin dan Kamis. Aku mengangguk setuju. Bersyukur tiada henti atas kemurahan hatinya.
Aku berlari menembus hujan, bergegas untuk membawa Anisa secepatnya ke Puskesmas. Sebelum tiba di rumah, kusempatkan melewati rumah Pak Narto, pemilik becak yang jasanya sering digunakan Bu Haji Imran untuk ke pasar. Pak Narto bersedia membantu dengan ongkos 50 ribu hingga tiba di Puskesmas Kecamatan. Aku mengangguk setuju. Aku kembali berlari pulang ke rumah untuk menjemput Anisa.
Saat kubuka pintu rumah, hanya terdengar suara hujan dan deru gelombang yang belum mereda. Tak kudapati rintihan Anisa menahan suhu tubuhnya yang meninggi. Si kecil Habi masih lelap dalam tidurnya. Sedangkan Anisa masih meringkuk dalam selimut lusuhnya.
Kuraba keningnya, tubuhnya mulai mendingin. Aku tak lagi mendapati suhu badannya yang panas. Tidak juga ada suara-suara menahan gigil. Mungkin Anisa sudah kelelahan dan tertidur. Aku mengemasi pakaian yang harus di bawa.
Saat Pak Narto tiba di depan rumah, hujan telah reda. Aku menggendong Anisa. Tubuhnya terasa berat. Kuletakkan Anisa di atas becak dan bergegas kembali masuk ke dalam rumah untuk menggendong Habi. Kupasang selendang untuk menopang tubuh Habi yang cukup berat.
Setelah semua siap, Pak Narto mengayuh becak menuju Puskesmas. Jarak antara Puskesmas dan kampungku cukup jauh. Kami harus meninggalkan pemukiman nelayan di pesisir untuk kemudian menembus pekatnya persawahan yang memisahkan desaku dengan desa lain. Pak Narto mengayuh secepat yang ia bisa. Aku mengatakan kepadanya akan memberi uang lebih jika bisa tiba secepatnya di Puskesmas.
*
Anisa butuh pertolongan cepat. Sakitnya sudah ia derita hampir satu minggu ini. Badannya semakin lemah, setiap sore hingga malam hari selalu demam. Aku memandang adik perempuanku yang terkulai lemas di sebelahku. Anak rambutnya bergerak-gerak dipermainkan angin.
Setelah 30 menit berada di atas becak, lampu papan nama Puskesmas sudah terlihat. Aku bersyukur sebentar lagi Anisah akan mendapatkan pengobatan. Pak Narto menghentikan becak tepat di depan ruangan bertuliskan Instalasi Gawat Darurat yang tertera pada pintunya. Pak Narto membantuku memanggil perawat. Dua orang perawat bergegas menuju becak dan memindahkan Anisa pada brankar.
Kedua perawat nampak mengernyitkan dahi saat mengangkat tubuh Anisa. Mereka serempak menoleh ke arahku. Aku yang masih menggendong Habi bersegera turun dari becak dan membayar ongkos yang telah kujanjikan pada Pak Narto. Setelah membayar, kuikuti kedua perawat yang membawa Anisa menuju ke dalam ruangan.
Salah satu perawat nampak berbisik pada seorang laki-laki muda yang mengenakan jas putih. Mungkin ia dokternya. Aku masih diam mematung sambil memperhatikan mereka. Lelaki itu berjalan menuju Anisa dan mulai mengecek kondisinya. Dokter itu mengangguk pada perawat yang tadi membisikinya.
Mereka berjalan pelan menuju tempatku berdiri. Mereka menatapku dengan pandangan yang sulit kuterjemahkan. Hatiku terasa tidak nyaman. Aku menoleh pada Anisa yang terbaring di atas pembaringan. Lama kutatap gadis kecil itu. Aku baru menyadarinya, Anisa tidur terlalu tenang, karena tiadanya tarikan napas pada jantungnya yang tak lagi memompa darah.


Maiza Marsya
Kerennnn 👍👍👍
Yuni Safitri
Aku terharu membaca ceritanya.. Sangat menyentuh kak…. Jadi ingat adik sepupu yang telah tiada…😔
Yudaningsih
Sebuah hikayat kehidupan masa kini yg sarat individualistik kafitalistik…mengharu biru menggelitik mereka yg msih pny nurani