Stereotip Perempuan dan Memuliakan Tamu
Tangannya asyik membuka lembaran-lembaran buku di atas mejanya. Sesekali, ia menuliskan sesuatu di buku catatannya mengenai beberapa hal yang penting. Saat ini adalah akhir pekan, yang sering banyak orang gunakan untuk berlibur, mengistirahatkan diri dari penatnya beraktivitas di hari-hari kerja. Biasanya, anak-anak sekolah akan menghindari buku dan orang-orang dewasa akan mengabaikan kerjaan sejenak, berusaha menghibur diri dengan melakukan hal-hal yang mereka sukai. Sementara itu, ia pun melakukan hal-hal yang ia sukai di akhir pekan ini. Ia menyukai belajar, entah itu belajar formal seperti pelajaran di sekolah hingga sesuatu yang dapat ia pelajari di lingkungan sekitarnya.
Kini ia sedang membaca buku pelajaran sejarah mengenai peristiwa sebelum kemerdekaan Indonesia. Belajar sejarah selalu menyenangkan untuknya. Dengan mempelajari sejarah, ia bisa mengetahui banyak hal sebelum kehidupannya dimulai. Selain melalui buku, ia suka pergi ke museum atau tempat bersejarah untuk melihat-lihat benda-benda bersejarah dan penjelasannya. Suasana di tempat-tempat semacam itu sangat cocok untuknya. Nuansa retro dan kuno memang sesuai dengan gayanya. Di saat modern ini, ada banyak nuansa gaya, seperti modernistik, futurnistik, hingga chaotic, tetapi gaya kuno nan lama adalah nuansa gaya yang paling ia sukai. Ia menyukai seni-seni zaman dahulu, seperti ia lebih suka membaca buku cetak daripada e-book. Menurutnya, membaca buku cetak lebih penuh arti dibandingkan dalam bentuk elektronik.
***
“Assalamu’alaikum, hai Alifa!”
Alifa tersentak kaget dan mengalihkan perhatiannya menuju sumber suara. Ia bisa melihat lima orang sepupunya memasuki kamarnya berbondong-bondong dan menghampirinya. Ia bisa mendengar ada banyak orang di luar sana. Sepertinya, keluarga besarnya mampir ke rumahnya. Gadis itu membalas sapaan sepupunya ramah. Namun, keramahan itu tidak bertahan lama ketika Nia, salah satu sepupunya, meledeknya begitu mengetahui Alifa sedang belajar. Katanya, akhir pekan itu harusnya digunakan untuk beristirahat, bukannya belajar yang bisa bikin sakit kepala.
Lalu Adi, sepupunya yang lain, bilang kalau Alifa tidak perlu rajin-rajin belajar karena Alifa adalah seorang perempuan yang ujung-ujungnya akan menjadi ibu rumah tangga. Alifa menjadi jengkel mendengarnya. Baru saja ia ingin membalasnya, tiba-tiba suara Ibu memanggilnya, membuatnya tertahan dan bergegas menemui Ibu. Ibu meminta Alifa untuk membantunya memasak karena seluruh keluarga besarnya yang datang mengeluh kelaparan sehabis pulang dari salah satu mall.
Keluarga besar Alifa berasal dari sebuah kabupaten, yang memakan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke kota di mana Alifa dan keluarga kecilnya tinggal. Mereka memang sering kali mampir ke rumah Alifa bila ke kota. Tetapi, Alifa merasa jengkel dengan mereka karena menurutnya, keluarga besarnya itu bersikap seenaknya di rumahnya. Mereka selalu minta disiapkan makanan utama bila datang, lalu setelah kenyang, mereka akan langsung pulang. Alifa selalu merasa direpotkan dan ia harap, Ayah dan Ibunya bersikap demikian. Tetapi, Alifa tidak pernah melihat Ayah ataupun Ibunya mengeluh perihal ini dan gadis itu pun tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapatnya. Namun, di sela-sela aktivitas memasak bersama Ibunya, Alifa merasa terdorong untuk berbicara kepada Ibunya.
“Bu, kenapa kita harus melakukan semua ini?” tanya Alifa dengan muka cemberut, “Mereka selalu datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan selalu meminta dimasakkan ini-itu. Ibu dan Ayah sangat direpotkan oleh mereka.”
“Hussh! Nggak boleh ngomong gitu,” tegur Ibu, takut keluarganya dengar walau Alifa sudah memastikan hanya ada mereka berdua di dapur, “Kita harus berbuat baik pada kerabat, Alifa. Selain itu, kita juga harus memuliakan tamu. Bukankah kita mendengarnya sama-sama ketika pengajian tempo hari?”
Alifa semakin cemberut, “Tapi, Bu, Alifa kesal saja. Mereka datang dan meledekku karena belajar di hari Minggu dan bilang kalau perempuan nggak perlu belajar karena pas besar cuman jadi ibu rumah tangga. Lalu, yang dewasa meminta kita memasak, padahal kita baru saja menyantap makan siang. Jadi ibu harus memasak lagi.”
Ibu tersenyum mendengarnya, lalu menepuk pundak Alifa pelan, “Jika diledek seperti itu, abaikan saja, jangan terlalu dimasukkan ke hati. Menuntut ilmu adalah kewajiban untuk setiap muslim dan muslimah, juga nggak ada larangan kalau tidak boleh menuntut ilmu di akhir pekan.”
“Nggak ada manusia yang bisa mastiin kalau semua perempuan akan jadi ibu rumah tangga ketika dewasa nanti. Jikalau jadi ibu rumah tangga pun, kita juga perlu ilmu untuk menjalankannya.”
“Untuk para dewasa, kita harus bersikap lapang dada, Alifia. Niatkan semata-mata karena Allah dan yakinlah, Allah akan membalasnya berkali-kali lipat.”
***
Perkataan Ibu membuat amarah Alifa mereda. Alifa selalu suka ketika ia berbicara dengan Ibunya, mengobrol sesuatu yang sedikit mengganggunya karena Ibu selalu mempunyai cara untuk menenangkannya. Ibu adalah orang yang paling lembut hatinya, yang pernah Alifa temui. Gadis itu tidak pernah membantah Ibunya karena Ibu selalu berbicara tanpa melukai hatinya. Ibu juga tidak pernah marah kepadanya atau Ayah, bahkan ketika Ayah melarangnya pergi ke reuni SMA yang selalu ingin ia datangi. Kala itu, Ibu antusias sekali dengan reuni SMA-nya dan awalnya, Ayah mengizinkannya. Tetapi, tiba-tiba, kantor Ayah mengadakan acara yang mengharuskan Ayah membawa istri dan anaknya. Alifa tahu Ibu kecewa ketika Ayah melarangnya secara mendadak, tetapi beliau selalu bisa menyembunyikannya tanpa mengubah suasana di rumah. Kehadiran Ibu selalu membuat atmosfer rumah menjadi nyaman dan damai, yang membuat rumah adalah tempat paling menyenangkan bagi Alifia.
Setelah makanan siap, Alifia menyajikannya dan seluruh keluarga menyantapnya dengan nikmat, diselingi oleh obrolan yang menyenangkan. Usai perut telah diisi penuh dan beristirahat sejenak, keluarga besar Alifia pamit karena mereka harus pulang ke rumah mereka. Besok adalah hari Senin, jadi mereka juga harus kembali beraktivitas seperti biasanya. Lalu Alifia membantu Ayah dan Ibu membereskan piring-piring kotor, juga merapikan rumah. Alifia melakukannya dengan senang hati. Ibu yang melihat Alifia tersenyum, bangga kepada anaknya yang menerapkan perkataannya tanpa pamrih. Ia tidak lagi melihat wajah cemberut anak satu-satunya itu, melainkan senyum lebar secerah mentari pagi.
IG: @febyvryntn
