f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sore bersama

Sore Bersama Tiga Perempuan

Kelopak-kelopak daun mint di pot gantung bergoyang. Sore ini cukup berangin, hujan belum turun. Dari teras kecil ini terlihat warna langit. Ah.. tak bisa dibilang cerah. Suasananya pas untuk minum yang hangat-hangat. Tiga lembar daun mint yang kupetik tadi kuseduh lalu kutambahkan perasan jeruk nipis. Minuman kesukaanmu sudah siap.

Sambil menyeruput wedang daun mint kau bertanya, ada cerita apa sore ini. Kali ini kuceritakan padamu tentang tetangga kita, para perempuan tangguh yang tak pernah tidak bekerja keras. Duduklah dengan nyaman, sandarkan punggungmu di bantal ini.

Nib

Yang pertama adalah Nib, seorang pekerja harian di pabrik rokok. Setiap hari, Nib berangkat pagi pukul 06.00 dan akan tiba di rumah lagi pada pukul 15.00. Anaknya dua, perempuan semua. Anak pertama yang berusia 11 tahun, bermain sambil menjaga adiknya yang berusia 3 tahun. Si kakak bertubuh kurus tinggi, suka membaca. Si adik bertubuh gempal, masih kesulitan berbicara dengan lancar. Seperti anak perempuan pertama Asia lainnya, si kakak perempuan ini sudah menguasai beberapa keterampilan dasar rumah tangga. Ia bisa menyapu, menjemur dan mengangkat pakaian. Si kakak pun sudah bisa memasak mi atau telur jika masakan ibunya tak membangkitkan selera makan.

Nib selalu bangun sebelum pelantang adzan bergema. Dengan baju dan rambut yang masih kusut, ia memutar mesin cuci yang telah penuh berisi baju kotor. Sesudah itu, ia mencuci piring-piring bekas makan kemarin malam. Sesudahnya lagi, ia memasak beras, sayur, dan tempe hingga menjadi makanan siap santap untuk suami dan anak-anaknya yang masih tertidur. Setelah rutinitas dinas paginya selesai, ia mandi lalu berkemas. Bersiap untuk melakukan dinas luar rumahnya, melinting rokok yang ratusan jumlahnya.

Baca Juga  Pukul Tujuh Pagi
Roh

Yang kedua adalah Roh, seorang ibu serba bisa. Sehari-hari ia menanami sawah dengan padi atau tanaman palawija, memanennya lalu menukarnya dengan uang atau kebutuhan pokok lain yang ia butuhkan. Roh memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Roh tidak pernah punya waktu untuk berleha-leha.

Sewaktu kecil, ia membawa baju dan piring kotor ke sungai, dan membawanya kembali ke rumah dalam keadaan bersih. Sewaktu dewasa, ia merantau dan mengirimkan separuh gajinya untuk kebutuhan orangtua dan adik-adiknya di rumah. Setelah menikah, ia kembali merantau karena suaminya tidak lebih dari kain basah yang teronggok di sudut kamar: lemas, malas, tak berguna. Tak lama, ditinggalkanyalah sosok tak berguna itu.

Kini setelah menikah lagi, Roh masih bekerja keras tapi dia punya sepasang tangan lain yang bisa diandalkan. Roh masih sama, seorang perempuan pekerja keras yang pantang berleha-leha. Roh mengambil pekerjaan apa saja yang menghasilkan uang. Mengecat rumah, membersihkan rumah dan pekarangan, menggarap kebun hingga menjahit baju dan membuat banyak ragam jajanan.

Mbah Mus

Yang ketiga adalah Mbah Mus, pensiunan pembuat tempe daun. Mbah Mus ini selalu mandi di kali, pagi maupun malam. Giginya putih bersih berseri, seperti gigi-gigi yang muncul di iklan pasta gigi di televisi. Meskipun aku yakin, Mbah Mus ini tidak pernah mencoba scalling, veneer, ataupun bleaching. Tahu saja mungkin tidak.

Mbah Mus sudah tidak pernah lagi membuat tempe. Di usianya yang sudah 70 tahun ini, kesibukan beliau ‘hanya’ menggarap sawah yang berjarak lima kilometer dari rumahnya. Mbah Mus menempuh lima kilometer itu dengan berjalan kaki setiap hari. Pada waktu tertentu, Mbah Mus juga sibuk menjemur jagung-jagung yang dipanennya dari kebun di belakang rumah.

Baca Juga  Pengalaman di Balik The World of Married Couple's

Oh ya, Mbah Mus sering terlihat sibuk menemani suaminya, di teras, di dapur, di kamar. Mbah Mus kakung kerap ngambek jika Mbah Mus putri sedikit saja tidak dilihatnya. Mbah Mus kakung pun masih sering berteriak-teriak karena cemburu jika ia tahu Mbah Mus putri sedang ngobrol dengan laki-laki lain, sekalipun itu dengan menantunya sendiri.

***

Ketiga perempuan tadi tinggal di dekat rumah kita. Cerita-cerita hidup mereka bisa dengan mudah aku dengar. Termasuk kenyataan bahwa mereka bertiga masih tetap bekerja keras, meski Nib sudah punya sebidang tanah lagi selain rumah dua lantai yang sedang ia bangun. Meski Roh sudah punya sawah dan sekian ratus meter tanah selain rumah dengan pekarangan luas yang ia tempati kini. Meski mbah Mus sudah punya sawah dan sekian hektar tanah selain dua rumah yang ia tinggali.

Mereka memiliki banyak hal yang aku tak punya. Mereka punya tabungan masa depan berupa tanah, punya tidur malam yang nyenyak karena aktivitas fisik di siang hari, punya kebanggaan karena makan dari hasil kebun sendiri, dan tak punya penyesalan karena tak pernah menyia-nyiakan waktu. Lihat, bahkan meski bukan mobil dan rumah mewah, ada saja hal yang mampu membangkitkan rasa iri pada tetangga yang berbahagia karena kerja kerasnya itu.

Padahal, kataku mengingatkan diri sendiri, bukankah melihat rumput tetangga tidak selalu berarti buruk. Mungkin, rumput tetangga memang hijau karena dirawat dengan tekun dan disiram dengan teratur. Kalau mau, bisa saja kan kita mengetuk rumah tetangga baik-baik lalu bertanya: bagaimana cara merawat rumputnya ya, kok bisa hijau segar begitu?

****

Ah, jangan salah paham, bukan maksudku ingin berbagi kegetiran diriku denganmu, Nak. Hanya saja kadang, berbincang denganmu tak ubahnya seperti aku bicara dengan diriku sendiri.  Ceritaku tadi cukuplah kau simpan, untuk suatu hari kau buka lagi catatannya. Pada saat itu,  aku yakin kau sudah cukup dewasa untuk mengambil simpulan-simpulanmu sendiri.

Baca Juga  Kebun di Kota Lamaku

Hanie, 12 Februari 2021

Bagikan
Post a Comment