Kisah Wajan dan Piring Plastik
Pada suatu hari di sebuah dapur ada piring plastik yang sedang melihat wajan yang sering digunakan oleh pemilik rumah. Lalu piring plastik iri kepada wajan dan mengajak benda plastik lainnya untuk memusuhi wajan dengan menggunjing hal-hal yang tidak baik tentang wajan kepada teman-temannya. Kemudian ketika wajan sedang menganggur dan pemilik rumah tidak menggunakannya kembali. Piring plastik bertanya kepadanya.
“Hei Wajan kenapa pemilik rumah selalu menggunakan kamu daripada aku?’’ Tanya Piring Plastik.
“Karena aku perabotan inti dan sangat berguna kalian juga berguna kok.’’ Jawab Wajan dengan tersenyum ramah.
“Tapi Kenapa aku setiap melihat kulitmu semakin hari kok semakin gelap? Gak kayak kulit kita tetap bersih, glowing, apalagi kalo dicuci dengan sabun.’’ Tanya Piring Plastik
Kemudian Wajan merenung dan melihat kulitnya.
“Aku tidak tau kenapa kulitku hitam. Aku sedih dan tidak ingin seperti ini. Tapi kenyataannya memang benar apa yang mereka katakan tentang kulitku makin hari makin gelap walaupun si pemilik rumah sering mencuci aku dengan sabun tapi tetap aja malah menghitam.” Jawab Wajan dengan nada bersedih.
“Tapi gara-gara kulitmu, teman-teman perabotan yang lain menjauhi kamu karena hitam dan dekil. Hahaha…” Ketawa mereka mengejek Wajan.
“Lagian nanti kalo udah makin gelap pasti si pemilik rumah akan membuang kamu ke tempat sampah. Kasian banget, hahaha…” Lanjut Piring Plastik dengan nada meremehkan Wajan.
“Apakah tidak bisa dibersihkan menggunakan sabun yang lain?’’ Tanya Piring Plastik kembali kepada Wajan.
‘‘Pemilik rumah sudah sering mencuci aku dengan sekuat tenaga tetapi tetap saja tidak bisa, dan teman-teman lainnya juga menjauhiku gara-gara kulitku ini.’’ Jawab Wajan, bersedih.
Di tengah malam sang pemilik rumah lupa jika tidak mematikan kompornya saat selesai memasak air untuk menyeduh kopi. Lalu api merambat ke minyak dan api pun makin membara. Sang majikan langsung pergi keluar untuk mencari pertolongan kemudian perabotan plastik lainnya termasuk piring plastik panik ketakutan karena sadar jika mereka gampang meleleh jika terkena api. Setelah itu, Wajan merasa kasihan dan ia langsung melindungi dengan cara menutupi mereka semua. Tak lama kemudian warga pun datang dan langsung memadamkan api. Mereka pun senang karena wajan melindungi mereka dan saat api padam wajan pun membuka pelindungnya. Akhirnya semua perabotan plastik tetap selamat dan bersorak gembira
“Hore kita selamat, yeaayyy…!” Sorak perabotan plastik lainnya karena mereka selamat.
Piring plastik dan perabotan plastik lainnya menghampiri Wajan yang sedang merenung dan Piring Plastik mewakili semua teman-temannya mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Terima kasih Wajan kamu sudah melindungi kita semua dan maaf kami menyesal karena kita telah mengejekmu dan meremehkanmu.“ Kata Piring Plastik yang mewakili semua perabotan plastik lainnya.
“Hhmmm… iya sama-sama, iya aku maafkan tapi lain kali janganlah kalian sombong dahulu atau mengejek kepada perabotan yang baru ataupun yang lama karena melihat tampang luarnya doang.” Jawab Wajan dengan nasihatnya.
“Iya, apakah kamu mau jadi teman kita semua?” Tanya Piring Plastik kepada Wajan.
“Hhmmm… apakah kalian akan menerimaku apa adanya yang hitam dekil seperti ini?” Tanya wajan.
“Iya tentu saja kita akan menerima kamu apa adanya bukan karena ada apanya.” Jawab Piring Plastik.
“Iya deh aku mau jadi teman kalian.“ Jawab Wajan.
Mereka pun sering bermain bersama ketika si pemilik rumah selesai mencuci mereka semua. Mereka pun hidup senang, bahagia, dan tidak terpisahkan.
Dari kisah Wajan dan Piring Plastik, kita bisa belajar untuk tidak memilih-milih teman atau melihat teman dari luarnya saja. Terutama jika kita belum mengenal mereka secara mendalam. Jangan berprasangka buruk atau suuzan kepada orang lain, apalagi menggunjing antar teman karena jika kita seperti itu kemungkinan hal itu akan menimpa kembali kepada diri kita sendiri.
Sebagaimana kita akan menuai apa yang telah kita tanam 🙂
Editor : Putri Ambarwati
Siswa SMP Ar-Rohmah Putri

Elan
Karya yang sarat makna, metafora yg sangat menggambarkan realita sosial di sekitar kita. Good job author…🤩🤩