Terusir dari Rumah Tuhan
Sore itu pukul tiga, di tepi lapangan. Tiga anak kecil usia sekolah dasar Andi, Ujang dan Anto. Mereka bertiga sedang asik bermain layangan “koang”. Layangan koang adalah sebutan untuk layangan yang berukuran besar. Kebetulan cuaca cukup cerah sore itu, setelah empat hari berturut-turut hujan di sore hari.
Bulan ini adalah bulan pancaroba. Pergantian musim kemarau ke musim hujan. Harusnya bukan bulan ini. Tapi karena pemanasan global menyebabkan perubahan musim berganti tak tentu waktu. Kurang lebih begitu kata pak guru.
Tak terasa waktu berjalan cepat. Masjid depan lapangan sudah mulai diisi oleh solawatan anak-anak kecil sepantaran mereka. Terlihat dari kejauhan ibu Anto di tepi lapangan. “Tooooo….. pulang ! Udah mau magrib”, Suara ibu Anto sangat jelas terdengar. Seketika Anto berlari menuju tempat ibunya berdiri. Sambil menoleh ke arah Andi dan Ujang.
Anto ia berkata, “Tar Magrib di Masid ya”.
“Oke”, Jawab Andi
“Iya”, Jawab Ujang
Setelah Anto mendekati ibunya, terlihat tangan Ibu menjewer kuping Anto. Entah omelan apa lagi yang didapat Anto. Suara ibunya sudah tak terdengar jelas. Selepas Anto pergi, Andi dan Ujang menggulung benang layangan mereka. Tak lama, lima menit layangan yang tadi ada atas langit berlomba dengan burung. Kini sudah mendarat di coklatnya rumput bekas terbakar. Andi dan Ujang pulang menuju rumah masing-masing.
***
Sepuluh menit menjelang kumandang azan Magrib. Anto terlihat sudah menunggu di teras masjid. Dengan baju koko, celana pendek, dan sarung yang ia kalungkan di leher, tak lupa peci hitam ke samping khas anak slow. Tak lama Ujang datang dengan pakaian siap sholat dengan mengenakan sarung, baju koko, dan peci.
Saat itu banyak anak-anak yang sudah bersiap menunaikan ibadah shalat magrib. Mereka berkumpul di teras. Berbicara tentang permainan-permainan yang belum usai. Sambil menikmat langit yang mulai kemerah-merahan. Azan Magrib berkumandang, terlihat Andi yang baru datang menuju tempat wudhu.
Anak-anak yang sejak tadi menunggu azan, kini berpindah ke tempat wudhu. Dengan keriangan mereka. Berwudhu dengan jurus “yang penting basah”. Tak lupa bercanda bersama. Terdengar beberapa kali suara sentakan membuat anak-anak menjadi takut dan terdiam. Woii diam, jangan bercanda! Begitu kira-kira.
Namun ketakutan itu tak bertahan lama. Keriangan dan canda anak-anak itu masih merekah di dalam masjid. Ketika Iqomah berkumandang dan para jama’ah merapatkan barisannya. Dan dimulailah ibadah sholat Maghrib. Andi, Ujang dan Anto berdiri berdekatan. Awalnya semua berjalan dengan baik-baik saja.
Terdengar suara anak-anak yang lebih keras dari iman. Namun jama’ah tak bergeming. Seketika sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Andi terdorong oleh anak yang ada di sampingnya. Bagai domino yang jatuh, Andi terdorong ke arah Ujang. Dan Ujang terjatuh ke arah Anto. Anto yang terkaget juga terjauh ke arah orang yang berada di sampingnya.
***
Ternyata orang yang berada di samping Anto adalah marbot masjid yang sejak tadi kesal dengan ulah anak-anak. Seketika orang itu memerah mukanya. Dan menarik telinga Anto, dan mengarahkan keluar pintu masjid.
“Aduh..aduh.. aduh pak, ampun bukan saya”, Ujar Anto.
“Udah diem lu, dari tadi gue liatin lu pada”, Kata orang itu.
“Saya didorong pak”, Ujar Anto mencoba meyakinkan.
Namun usaha Anto gagal. Ia tetap ditarik telinganya menuju pintu.
“Udah lu, kalau becanda mulu mending pulang”, Kata orang itu.
Anto yang terlanjur malu dan sakit memilih pulang. Magrib itu Anto terusir dari rumah tuhan. Dua temannya menghapirinya di rumah. Namun ketika mereka datang, Anto sedang menerima hukuman dari orang tuanya.
***
Anto bukanlah anak yang cengeng. Hari selanjutnya di waktu magrib ia tetap menjalankan ibadah di masjid itu. Namun ia masih merasa takut dengan marbot itu. Rasa trauma akan jeweran dan malu pada teman-temannya.
Sepuluh tahun berselang. Kini Anto sudah beranjak dewasa. Kini ia sudah lulus kuliah dari universitas Kairo Mesir, ia terpilih menjadi ketua remaja masjid. Tempat di mana ia pernah diusir. Ketika itu sang marbot sudah berganti. Hingga rasa traumanya telah hilang. Namun bukan berarti ia melupakannya.
Ketika itu ketika sore menjelang magrib. Anto bersiap mengumandangkan azan. Suaranya yang merdu membuat ia terpilih menjadi muazin masjid tersebut. Orang-orang mulai datang menuju masjid memenuhi panggilan -Nya. Tak terkecuali anak-anak.
Anto memperhatikan betul anak-anak itu satu persatu. Setiap ia perhatikan anak-anak itu, maka teringatlah masa ia kecil. Penuh suka cita, tawa canda mengisi hari-harinya. Ketika iqomah berkumandang Anto memilih barisan paling belakang. Mencoba menertibkan anak-anak yang memang posisinya paling belakang kala itu.
Ketika mulai ibadah sholat, para jama’ah khusyu’ menunaikannya. Beberapa anak-anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyian memecah ke khusyuan kala itu. Mulai dari suara batuk, bersin hingga suara-suara binatang yang mereka tiru. Hingga periswa sepuluh tahun lalu terulang. Namun bedanya, si Anak yang memulai mendorong teman sampingnya hingga temannya membalasnya.
Anto terdorong oleh seorang anak yang berdiri tepat di sampingnya. Namun Anto memilih reaksi berbeda dari orang yang dulu menarik kupingnya. Ia memilih meneruskan ibadahnya dengan kekhusyuan yang tersisa. Ketika salam kedua, tangan Anto cepat memegang anak itu.
Ia memegangnya dengan kuat tapi tidak menyakiti. Dipegang pundaknya sambil berkata,“ikut dulu sebentar”. Anto menasihati anak itu dengan baik-baik agar tidak mengulanginya lagi. Dan hari itu anak tersebut membuat perjanjian tidak anak mengulanginya lagi.
***
Anak itupun dibiarkan pulang. Namun diam-diam Anto mengikutinya sampai rumah. Betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa orang tua anak tersebut. Orang tua anak tersebut adalah marbot yang menjewernya sepuluh tahun lalu.
Dalam hati Anto merasa bersyukur. Nasib orang siapa yang tahu. Dulu ia dicap tukang bikin onar, tukang rusuh dan suka berisik. Namun kini ia disegani dan hormati banyak orang.
Ia tidak mau mengulangi kesalahan orang itu. Walaupun dalam kondisi yang sama. Dan Anto sadar betapa mudahnya memaki hingga menyakiti anak-anak orang lain dengan dalih mendidik. Namun betapa sulitnya mendidik anak sendiri walaupun hanya menasihati. Betapa bersyukurnya ia mendapat orang tua yang tanpa henti menasihatinya. Walaupun orang menganggap mereka bawel dan galak.
Ia sadar betapa banyak anak-anak yang terusir dari rumah Tuhan karena anggapan bahwa anak-anak rusuh dan berisik. Andai saja para guru ngaji dan ustadz sekitar masjid lebih peduiu untuk membenahi moral dan kebiasaan ini tentu hal itu tidak akan terjadi. Para ustad dan guru ngaji bisa mengajarkan cara sholat yang khusyu mulai sejak kecil. Dan mendampingi ketika sholat berjamaah di masjid. Bukan hanya hafal-hafalan. Tentu anak-anak tersebut lebih segan dan enggan melakukan tindakan tidak terpuji di hadapan gurunya.
Setelah kejadian tersebut akhirnya Anto membuat program pengajian di masjid selepas sholat magrib untuk anak-anak itu. Lalu diteruskan sholat isya berjama’ah. Bila hari Minggu tak jarang, murid-muridnya membantu dan bekerja bakti membersihkan atau merapikan masjid. Kini tak ada lagi anak-anak yang terusir dari rumah Tuhan . Karena masjid adalah tempat meminta semua hamba dengan berbagai cara.
Cilenggang 31 Desember 2020
Wakil ketua umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Pendidikan FKIP UHAMKA Pada Periode 2010-2011. Ketua bidang kader Pimpinan Cabang IMM Jakarta Timur Pada Periode 2012-2013.
Menjadi sukarelawan mengajar pada bidang matematika di SDN 1 Tobaku 2015 dan mengajar pada bidang Bahasa Indonesia pada jenjang MTS di Pondok Pesanteren Darul Istiqomah Katoi Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Hingga saat ini tercatat sebagai guru di SDN Cipinang Besar Selatan 08 Pagi
