Islam dan Agama Pembebasan
Hakikat Manusia dan Alam Semesta
Agama Islam pada dasarnya adalah agama rahmatan lil alaamin; agama untuk seluruh alam semesta. Artinya, Islam merupakan agama yang kemanfaatan dan kenikmatannya dirasakan oleh seluruh alam semesta; baikmanusia, hewan, tumbuhan hingga alam sekitar.
Islam mengajarkan kita beriman kepada Allah Swt dengan mengakui keEsaanNya; sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib kita sembah sebagai bentuk ketaatan makhlukNya.
Sebagai bentuk ketaatan dan konsekuensi keimanan seseorang, maka implementasi keimanan harus terwujud dalam bentuk amalan saleh dengan niat peribadatan kepadaNya. Yaitu dengan taat terhadap apa yang ada dalam Al-Qur’an sebagai ajaran, pedoman dan petunjuk manusia dalam melakukan kehidupan.
Selanjutnya, dalam meyakini Allah sebagai Tuhan pencipta yang menciptakan seluruh apa yang ada di dunia ini. Kita perlu meyakini bahwa dalam proses penciptaan dan ciptaan; terdapat nilai-nilai agung dari Allah sebagai pencipta yang termanifestasikan ke dalam bentuk makhluk-Nya.
Maka ketika kita melihat manusia sebagai makhluk ciptaanNya, kita akan mengetahui keEsaanNya; dan membuat manusia secara alami untuk menghargai, menghormat, dan mengasihi satu sama lain. Hal ini karena setiap manusia pada hakikanya memiliki derajat yang sama.
Akal dan Fitrah Manusia
Namun yang perlu kita ingat dan sadari, bahwa manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang merupakan ciptaan Allah Swt. Manusia diciptakan dan diturunkan ke dunia tidak semata-mata sebagai penguasa yang bisa berbuat dan mengatur seenaknya; tanpa memikirkan keseimbangan makhluk lainnya.
Manusia boleh sedikit sombong di antara makhluk ciptaan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan. Karena manusia dibekali dengan hati dan akal pikiran, yang mereka gunakan sebagai aktivitas untuk dapat memilih perbuatan baik atau pun buruk sebagai penunjang dalam aktivitas ibadah.
Namun kadangkala, manusia yang mempunyai fitrah tersebut, justru luput dan bahkan menggunakan fitrahnya untuk berbuat kefasikan atau kemudaratan. Padahal hakikat manusia dengan makhluk lainya juga sama; begitu pun hubungan manusia dengan makhluk lainya juga sama pentingnya dengan hubungan manusia kepada Allah yaitu Ibadah.
Ali Syariati telah mengingatkan bahwa manusia di waktu tertentu bisa melebihi kemuliaan malaikat dan di waktu yang lain dapat menyerupai bahkan melampaui keburukan iblis. Namun itu semua tergantung terhadap aktivitas hati dan akal pikiran manusia (Ali Syariati, 1984: 30).
Islam Rahmatan Lil Alaamin dan Agama Pembebasan
Dewasa ini, umat Islam diuji dan dituntut untuk melakukakan redefinisi dan pembacaan ulang terhadap Islam rahmatanlillalaamin yang kita yakini sebagai agama pembebasan dan perdamaian. Merenungi kembali atas ajaran moral, teologi, doktrin sosial, dan ekonomi politik global yang dulu pernah menjadi jawaban atas dehumanasi di Arab.
Menjadi agama, sekaligus gerakan alternatif yang diyakini dan dianut oleh masyarakat Arab untuk melawan kerakusan dan ketimpangan yang diciptakan secara sengaja oleh kaum Quraisy.
Bagaimana memfungsikan ketauhidan seorang umat Islam di tengah persoalan yang begitu pelik; karena sistem kapitalisme global dan arus neoliberalisme memberikan dampak buruk bagi manusia dan alam sekitarnya.
Bagaimana respon keimanan seseorang, ketika melihat kebijakan yang destruktif mengeksploitasi alam dengan sporadis sehingga banyak lahan –lahan petani yang tergusur, mata pencaharaian hilang, kerusakan lingkungan dan alam sekitar yang dewasa ini semakin marak terjadi. Islam memandang ini sebagai penebar rahmatan lilalaamin yang kemudian memberikan terobosan baru dengan wujud gerakan alternatif perlawanan.
Mansour fakih mempertanyakan ini semua, apakah semua itu tidak ada kaitanya dengan ritualitas ibadah kita yang sepanjang hari kita laksanakan? Atau jangan-jangan ummat Islam gagap menghubungkan antara persoalan langit dan bumi. Padahal manifestasi kita sebagai ummat Islam bukan hanya persoalan ritualitas ibadah, tetapi memerangi dan melakukan perlawanan terhadap eksploitasi alam, dan kerusakan lingkungan, sama penting dan wajibnya seperti melakukan shalat Fardu dan puasa Ramadan.
Islam dan Masa Kini
Sebagai fakta historis dari abad 7 hingga 14, agama Islam pernah mengukir peradaban sejarahnya di dunia; namun cerita selanjutnya adalah rentetan kekalahan peradaban Islam yang tergantikan peradaban barat sejak abad 15 hingga sekarang abad ke 21.
Modifikasi ilmu pengetahuan hingga temuan-temuan baru oleh peradaban barat semakin menegaskan ketertinggalan Islam. Malahan kita masih sibuk dengan urusan jihad perang berkuda, peradaban barat sudah siap dengan teknoginya yang canggih.
Sangat sukar melihat realitas Islam hari ini dengan membandingkan idealisme Al-ur’an dalam surah Ali Imran 110 dengan menunjuk ummat Islam sebagai khairun ummah di tengah catatan kekalahan demi kekalahan yang dirasakan. Belum lagi visi agama Islam sebagai agama alternatif yang dulu merubah cara pandang dunia selama 7 abad lamanya kini tak berkutik ditengah hiruk pikuk arus globalisasi dan tetek bengek kapitalisme sebagai musuh besar peradaban Islam hari ini.
Mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah AR Fakhruddin
