Hadis Motivasi Semangat Berdakwah
Hidayah Allah melalui tanganmu lebih baik daripada unta merah”
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa dan tiada permusuhan kecuali bagi orang-orang yang zalim. Salawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada makhluk terbaik-Nya, Nabi Muhammad serta seluruh keluarganya.
لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.”
Hadis di atas memiliki pesan sekaligus motivasi agar seseorang mau berdakwah. Di sana menyebutkan, bahwasannya saat kita menjadi perantara seseorang dalam memperoleh hidayah Allah (berdakwah), maka hal demikian lebih baik dari pada unta merah.
Unta merah di sini memiliki perumpamaan sebagai harta yang sangat berharga bagi orang Arab. Begitu mulianya, sehingga kegiatan berdakwah kita lebih baik dari harta berharga tersebut.
Kronologi Hadis
Dari Abul `Abbas Sahl bin Sa’d As Sa’idy radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ketika perang Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “besok pagi aku akan memberikan panji kepada seseorang yang Allah akan memberikan kemenangan melalui kepemimpinannya. la mencintai Allah dan rasul-Nya serta Allah dan rasul-Nya pun mencintainya”. Semalaman orang-orang ramai membicarakan siapakah di antara mereka yang akan mendapatkan panji itu. Pagi harinya mereka datang kepada Rasulullah Saw, dan semuanya mengharapkan agar ia yang mendapat panji itu.
Kemudian Rasulullah Saw bersabda; “di manakah Ali bin Abu Thalib?” Ada yang menjawab: “Wahai Rasulullah, ia sedang sakit mata”. Beliau bersabda: “Panggillah ia kemari”. Ketika Ali datang maka Rasulullah Saw meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Lantas sembuhlah penyakit itu seakan-akan ia tidak kelihatan kalau baru saja sakit, kemudian ia mendapat panji dari beliau.
Poin Hadis
Pertama, menyelamatkan orang lain. Seorang da’i dapat menjadi penyelamat bagi orang lain jika dia memberikan petunjuk dengan benar, serta memberikan solusi sesuai dengan yang ada dalam syari’at. Sebaliknya, seorang da’i dapat menyesatkan seseorang dan menjerumuskannya dalam lubang kesalahan akibat kecerobohannya.
Seorang da’i ketika berdakwah seakan-akan ia selalu menenteng tiket ke surga, ia menjadikanya hadiah untuk para mad’u-nya, dan mengarahkannya kepada Islam, menuntun ke arah kehidupan yang lebih menenangkan batin, selamat di dunia maupun di akhirat. Dan Allah tidak akan memberikan ganjaran kepada para da’i, melainkan dengan sebaik-baik ganjaran.
Kedua, mengalirkan pahala tanpa henti. Setiap aktivitas amal kebaikan oleh mad’u lakukan melalui wasilah para da’i, baik ia itu bertasbih, bertakbir, bertahmid, rukuk dan sujud, serta amalan kebaikan lainnya, melainkan sang da’i juga akan mendapatkan ganjaran yang serupa, sesuai dengan setiap kebaikan yang dilakukan oleh mad’u-nya.
Ketiga, mengokohkan bangunan dakwah. Seorang da’i memang memiliki keharusan untuk melakukan dakwah dengan pedoman Amr ma’ruf nahi munkar. Tidak hanya seorang da’i semua manusia memiliki kewajiban dan juga hak untuk melakukan kebaikan dalam bentuk apapun, di manapun, dan kapanpun. Sesuai hukum alam yang berlaku setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, begitupun sebaliknya. Namun, setiap kebaikan tidak dianjurkan untuk mengandung sebuah harapan untuk mendapat kebaikan pula karena ini berisinggungan dengan definisi ikhlas.
Pesan Hadis
Hadis ini mengandung kaidah bagi kita dalam berdakwah. Sebagaimana analogi hadis tersebut; bahwa mendakwahi satu orang (saja) menuju Allah, jauh lebih besar keuntungannya apabila dibandingkan dengan materi (memiliki seekor unta merah).
Selain itu, hadis ini juga berisi motivasi agar kita sebagai seorang muslim senantiasa bersemangat dalam melakukan kegiatan berdakwah. Terlepas dari batasan konteks bahwa dakwahnya harus tertuju kepada siapa dan kapan kita harus melakukan dakwah tersebut.
Semua manusia memiliki hak dan juga kewajiban agar bisa berdakwah, karena pada dasarnya pemaknaan terhadap kata “dakwah” sendiri memiliki cakupan yang sangat luas dan variatif, sehingga tidak memiliki batasan sama sekali. Hanya saja jika kita kaitkan dengan realitas saat ini, ketika kamu sudah terbiasa melakukan kebaikan, jangan sampai kamu berbuat baik terhadap orang lain, namun justru kamu sendiri tertekan akan kebaikan tersebut atau istilahnya people pleaser.
Semua yang perilaku, perkataan, melalui perantara apapun yang dianggap baik belum tentu dapat menyebarkan kemanfaatan terhadap sesama makhluk hidup. Namun yang bermanfaat terhadap sesama makhluk hidup pasti mengandung benih-benih kebaikan di dalamnya.
Di akhir tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah quotes “Khairunnas ‘Anfa’uhum Lin Naas”; sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang membawa kemanfaatan bagi manusia lainnya. Jangan bosan menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri, dan terus bermanfaat bagi orang lain. Kamu tidak akan pernah tahu kemanfaatan mana yang telah kita berikan dan dapat kita tuai pula kemanfaatannya bagi diri kita sendiri. Wallahhu a’lam.
