Lebih Bijak Dengan Pasien Covid
Di tengah kabar tentang pandemi yang kian banyak menyambar banyak manusia di belahan bumi ini, saya tidak menyangka akan menjadi salah satu dari sekian manusia yang betul-betul akrab dengan covid. Bagaimana tidak? Ibu, bapak, dan adik saya terkonfirmasi positif. Tulisan ini pun muncul setelah keluarga dekat saya terkonfirmasi positif berdasarkan tes antigen.
Jika sebelumnya, mendengar covid adalah sesuatu hal yang menakutkan, maka tidak dengan sekarang. Setelah keluarga dekat mengalami, maka seolah saya pun mengalaminya. Sama-sama merasakan beban moril yang mungkin lebih dulu dirasakan oleh orang-orang yang juga terkonfirmasi positif. Meskipun berdasarkan tes antigen, saya negatif.
Pengalaman baru seolah membalikkan pemikiran sekaligus membawa ke sebuah pemahaman yang menurut saya penting untuk dimiliki masyarakat saat ini. Dulu setiap selesai beribadah, doa selalu berisi permohonan agar terjauhkan dari covid sejauh-jauhnya. Jangan sampai merasakan tes yang notabene harus disogrok hidung ataupun tenggorokan. Apalagi sampai terkonfirmasi positif.
***
Namun, keadaan berubah, setelah ibu sakit. Feeling saya sudah ada sejak awal ibu mengeluh demam. Bukan tanpa sebab kekhawatiran itu, karena hampir setiap hari ibu ke pasar yang tentunya bertemu banyak orang. Meski saya sering berpesan untuk selalu mengenakan masker, membawa hand sanitizer, tapi tidak ada jaminan ibu tidak pernah melepas penutup mulut dan hidung tersebut.
Hari pertama ibu merasakan tidak enak badan, keluhannya adalah seperti masuk angin. Ibu yang rumahnya di kelurahan Tambakbayan, pergi ke rumah saya yang jaraknya kurang lebih satu kilometer untuk minta dikerik. Sampai dengan beberapa hari, saya terus mengamati. Dalam batin saya, kok tidak biasa. Biasanya ibu adalah seorang yang tahan banting, pekerja keras, dan jika sakit, satu atau dua hari saja sembuh. Kenapa ini tidak begitu?
Hampir setiap pagi saya selalu kirim pesan whatsapp ke adik saya untuk menanyakan bagaimana ibu. Dan beberapa kali jawaban adik saya, ibu tetap ke pasar. Waduh … batin saya. Ah … tapi semoga ibu benar-benar ke pasar karena sudah sehat. Tapi ternyata tidak. Setiap kali pulang dari pasar, ibu masih terlihat sakit dan langsung istirahat total. Tidak ada aktivitas lain selain tidur di kamar.
***
Saya sebagai anak, berkali-kali menanyakan kondisi ibu. Mungkin ada beberapa pertanyaan yang mengarah pada ciri-ciri covid. Tapi jawaban ibu selalu singkat “ora”. Dengan ekspresi yang seolah ingin menunjukkan bahwa memang dalam keadaan baik-baik saja. Pada saat sakit itu, ibu juga sempat berobat ke dokter umum, mendapat suntikan dan obat. Tapi dua kali suntik, hasilnya sama. Ibu tetap nglentruk.
Sampai di malam terakhir sebelum tes, ibu tidak makan apapun seharian dan malam harinya muntah meski hanya makan tahu. Bapak semalaman tidak tidur. Saya menjadi lebih panik. Hingga akhirnya konsultasi ke dokter faskes satu, yang kemudian meminta untuk tes antigen. Karena di masa PPKM, maka layanan dokter via online. Dan pesan dari dokter saya forward ke ibu.
Sore harinya ibu mau untuk tes antigen. Dan alangkah shock-nya, saya pun juga, ketika hasilnya positif. Kami pun pulang dan hasil itu saya kirimkan ke dokter. Dan atas saran dokter, saya, bapak, adik, suami serta keponakan saya yang tinggal satu rumah dengan ibu diminta untuk tes antigen juga. Dan hasilnya bapak dan adik positif, sementara saya, suami adik dan keponakan negatif. Terlepas dari tingkat akurasi tes antigen, hasil ini sesuai. Karena memang bapak dan adik jauh lebih dekat dengan ibu.
***
Hari pertama isolasi mandiri, banyak yang menelepon di antaranya dari tenaga kesehatan. Ada juga yang memberikan support lewat pesan whatsaap. Bapak, ibu dan adik isoman di rumah. Sementara saya di rumah bersama suami dan kedua anak saya. Suami dan kedua anak saya tidak tes, karena selama ibu sakit saya melarang anak-anak bertemu dengan kakek nenek mereka.
Setelah kejadian ini, saya dan keluarga harus berbesar hati untuk menerima bahwa akhirnya merasakan covid juga. Di mana sebelumnya di kelurahan saya, sudah banyak yang terkonfirmasi bahkan beberapa di antaranya meninggal. Sebelumnya mungkin saya sama seperti orang-orang pada umumnya, yang cenderung takut dan menjauhi mereka-mereka yang positif.
Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya baru sadar. Betapa dukungan moril dari teman-teman dan saudara sangat berarti. Kondisi batin yang masih penuh dengan kesedihan, seketika terhibur dengan kalimat-kalimat yang memotivasi. Maka sayapun berusaha tenang dan terus berusaha memberikan support kepada bapak, ibu dan adik. Saya bilang, “Covid adalah bicara soal waktu. Jika imun baik, dia akan kalah.”
Hal lain yang menyadarkan saya, ternyata menjadi bagian dari keluarga yang terkonfirmasi, tidak mudah. Beban moril yang saya maksudkan adalah ketika orang-orang di sekitar menunjukkan ekspresi takut tidak hanya kepada yang positif saja, tetapi juga kerabat dekat. Dan itu saya rasakan sekali. Selama isoman, saudara-saudara saya membantu dengan begitu baik, mengirim makanan kepada bapak, ibu dan adik setiap pagi, siang dan sore.
***
Setiap pagi saya selalu bertanya kepada ibu menginginkan sarapan apa. Dan saya lebih memilih untuk membeli di warung yang jauh dari rumah, yang mungkin orang-orang tidak kenal saya sehingga tidak tahu. Bahkan untuk belanja sayur segar, saya juga memilih di tempat yang tidak biasanya. Pandangan orang membuat saya takut. Saya takut untuk merasa semakin sedih, karena tatapan-tatapan yang tidak biasa.
Mendengar penjelasan dari dokter Supriyanto, direktur RS Tulungagung melalui youtube, cukup mencerahkan. Bahwa memang covid sudah ada di tengah-tengah kehidupan manusia. Cara yang bisa kita tempuh adalah berdamai dengannya, dengan menerapkan prokes. Sehingga pilihannya ada dua. Terkonfirmasi positif sehingga kekebalan tubuh terbentuk, atau menjaga prokes sebagai ikhtiar terhindar dari covid.
Di sini saya ingin berbagi, bahwa covid tertular ke orang lain, bukan tanpa sebab. Sehingga selama kita menjaga jarak aman, minimal satu meter dan memakai masker, maka kemungkinan tertular kecil. Pemahaman ini penting. Sehingga tidak lantas orang yang terkonfirmasi positif ditakuti dan dijauhi, bahkan keluarganyapun turut dijauhi. Karena hal itu menyakitkan. Menerima kondisi positif, membutuhkan upaya untuk tetap tenang. Sehingga dukungan demi dukungan sangat berharga.
***
Hal yang berbeda terasa sekali, ditunjukkan oleh orang-orang yang pernah terkonfirmasi positif lebih dulu. Banyak pengalaman yang pernah dirasakan, yang ingin terus untuk dibagi. Mereka jauh lebih bijaksana dalam memperlakukan seseorang yang dinyatakan positif. Hal ini mungkin karena mereka benar-benar memahami kondisi psikis seseorang yang positif. Sehingga perasaan ingin menguatkan muncul, agar sama-sama bisa melalui ujian selama isolasi 14 hari.
Tidak ada orang yang ingin terkonfirmasi positif. Semua adalah sebuah ujian. Maka sudah sepantasnya sebagai seorang teman, saudara atau bahkan keluarga untuk memberikan dukungan sepenuh hati tatkala ada seseorang yang positif. Virus covid tidak akan masuk ke tubuh seseorang selama masker menutupi hidung dan mulut, serta tangan selalu menyentuh sabun. Sehingga semestinya mereka yang terkonfirmasi tidak lantas ditakuti, dijauhi atau bahkan dibicarakan ke sana ke mari. Mereka butuh dukungan dan semangat yang menguatkan. Salam sehat.
