f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Monzer Kahf

Monzer Kahf : Islamic Man dan Zakat

Indonesia sedang diuji dengan keadaan yang buruk dalam sejarah  yaitu pandemi COVID-19; yang secara perlahan mengancam kehidupan baik kesehatan,  keadaan ekonomi makro dan mikro, sosial, bahkan imam. Tercatat per tanggal 6 juni 2020, terkonfirmasi korban positif COVID-19  sebanyak 63.749 dan dirawat 31.473 yang meninggal 31.171 untuk korban yang sembuh sebanyak 29.105; data tersebut diinformasikan oleh Kompas.com. Dengan semakin bertambahnya korban COVID-19  bahkan diprediksi hingga akhir tahun 2020.

Himbauan melakukan kegiatan di rumah baik itu berkerja atau kegiatan belajar mengajar; yang dilanjutkan dengan PSBB (Pembatasan sosial berskala besar) yang sangat berdampak pada permintaan barang  yang menurun. Bahkan produksi terhalang yang menyebabkan pendapatan menurun bahkan berdampak pada (PHK) oleh perusahaan-perusahaan yang terdampak oleh COVID-19.

Keadaan Ekonomi Saat Ini

Dengan adanya pandemi  COVID-19 menekan keadaan ekonomi semakin memburuk. Dilansir dari merdeka.com pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2020 di proyeksikan minus (-)0,4 persen dampai dengan 1 persen.

“Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah keluar, tahun ini diproyeksikan antara -0,4 persen sampai 1,0 persen,” kata Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Adi Budiarso dalam Webinar LPPI bertajuk ‘Mengelola Disrupsi Kembar’, Jakarta, Jumat (3/7).

Keadaan ekonomi yang semakin merosot menuntut kita menjalani  hidup beradaptasi dengan COVID-19; sehingga kita harus melakukan kegiatan seperti biasa didampingi oleh kebiasaan-kebiasaan  baru untuk mencegah agar  tidak terkena COVID-19. Setelah adaptasi kebiasaan baru dipilih pemerintah agar bangkit dari kemerosotan pertumbuhan ekonomi  yang tentunya dibarengi dengan usaha-usaha pencegahan COVID-19;  yaitu wajib menggunaan masker dalam beraktifitas, menerapakan jaga jarak, dan selalu menjaga kebersihan seperti cuci tangan dan ikhtiar lainnya.

Monzer Kahf : Konsepsi Islamic Man dan Zakat

Monzer Kahf  lahir pada tahun 1940 di Damaskus, ibukota Suriah. Beliau adalah pakar ekonomi Islam modern yang pemikirannya banyak digunakan saat sekarang. Beliau memperkenalkan konsep konsumsi dalam Islam itu seharusnya sejalan dengan tujuan Islam itu sendiri. Dengan begitu akan tercipta kemaslahatan yang merata. Salah satu pemikiran beliau yang penulis paparkan di sini adalah Islamic Man dan zakat.

Islamic man yang dipaparkan oleh Monzer Kahf atau biasa di panggil Kahf ini adalah universal. Jadi agen dalam suatu sistem ekonomi tidak dilihat dari sudut pandang keagamaan jadi tidak masalah agen atau pelaku ekonomi ini itu  muslim atau non muslim;  selama orang tersebut tidak keluar dari “Rules Of The Game“.

Sepakat dengan aturan yang sesuai dengan ekonomi Islam; apabila agennya adalah non muslim tidak masalah namun praktik berekonominya harus sesuai dengan ekonomi Islam. Dijelaskan dalam QS al-Furqan (25): ayat 63- 68, yakni hamba-hamba tuhan yang maha pengasih dengan beberapa kriteria: rendah hati, menghabiskan malam untuk beribadah, menginfakkan harta, mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, tidak meneyekutukan Allah.

Islamic man di sini adalah orang yang mempercayai bahwa semua adalah kehendak dan kuasa Allah suksesnya usaha adalah dari Allah; kemudian tidak matrealistik yaitu tidak beranggapan bahawa semua harta itu miliknya; dia harus yakin bahwa harta yang dia miliki ada harta milik saudaranya; suka berbuat kebajikan berbagi kepada yang membutuhkan dan rela memberikan atau mengorbankan kesenangannya untuk orang lain

Monzer Kahf berasumsi bahwa zakat merupakan keharusan bagi muzakki. Zakat merupakan transfer sederhana dari bagian dengan ukuran tertentu harta yang kaya untuk dialokasikan kepada si miskin. Dalam kaitan antara kewajiban zakat dan penggunaan barang-barang mewah; Monzer Kahf mengatakan bahwa zakat itu tidak diberlakukan terhadap barang-barang keperluan hidup yang tidak mewah.

Sedangkan dalam kasus tabungan, tabungan yang diinvestasikan dalam hal atau kegiatan yang produktif, yang penghasilannya diseimbangkan dengan kewajiban membayar zakat.

Peran Islamic Man dan Zakat di Masa Pandemi

Dalam mengaplikasikan dan menjadi Islamic Man di era pandemi yaitu dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan seperti yang telah dianjurkan dalam Islam. Dibandingkan kita hanya mencuci tangan, lebih baik kita juga menjaga wudu  selain kita menjaga kebersihan kita juga menjaga ketenangan jiwa dalam perlindungan Allah.

Di sisi lain dengan keadaan yang seperti ini dapat memberi kita pelajaran dan menguatkan iman kita bahwa semua adalah kuasa Allah sejatinya yang ada di dunia bukan milik kita. Allah bisa mengambil semua kapan saja dengan caranya dan Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan umatnya QS Al- Baqarah (2) ayat:276.

Dalam kondisi seperti ini membuat kita sadar penting adanya rasa peduli dengan keadaan sekitar baik itu alam ataupun sosial. Dengan kita tidak mengonsumsi sesuatu yang berlebihan (Ishraf) maupun tabdzir dan mengonsumsi sesuatu yang halal kemudian thoyyib (yang baik untuk diri kita); karena dalam keadaan pandemi ini penting untuk kita memilih makanan yang menyehatkan dan baik untuk kita agar kesehatan dan imun kita terjaga sehingga terhindar dari COVID-19.

Salah satu penerapan islamic man yaitu dengan berzakat. Namun berzakat di sini bukan semata-mata hanya muamalah atau motif ekonomi saja namun berharap keridhaan Allah SWT, karena Islamic Man dalam setiap kegiatan ekonominya selalu mencakup dunia dan akhirat.

Dalam keadaan perekonomiaan yang merosot karena pandemi pentingnya peran zakat untuk menutupi kebutuhan bagi mereka yang miskin; sehingga bagi para muzakki diminta oleh wakil presiden kita bapak Ma’ruf Amin untuk segera memberikan zakat di awal waktu tidak diundur-undur. Secepatnya zakat itu disalurkan agar masyarakat juga cepat menerima pengalokasian zakat tersebut.  

Di Masa Pandemi Pertumbuhan Zakat Meningkat

Dilansir oleh republika.co.id di era pandemi seperti ini pertumbuhan zakat meningkat; terutama zakat digital  hal ini karena  masyarakat beralih pola konsumsi secara digital sehingga banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas zakat digital, kenaikan zakat terjadi pada Maret –April 2020 sebanyak dua kali lipat jika dibandingkan dengan periode Januari-Februari 2020 selain dengan zakat digital menjadi mudah namun juga dapat memutus rantai penyebaran COVID-19.

Zakat sebagaimana kita tahu termasuk dalam rukun Islam bagi yang telah memenuhi syarat dan ketentuan berzakat, ia menjadi kewajiban. Bila zakat dikelola secara benar, idealnya zakat dapat mengurangi jumlah kategori fakir dan miskin serta kesenjangan sosial sejatinya. Kewajiban orang-orang kaya untuk memperhatikan mereka yang miskin dan dhuafa karena sesungguhnya ada hak orang miskin atas harta yang dimiliki oleh orang-orang kaya.

Dengan demikian penunaian zakat bukan hanya mensucikan harta tapi juga sebagai “transfer keberdayaan” dari para muzaik kepada penerima zakat yaitu mustahik maka dengan itu akan adanya kemaslahatan yang terus mengalir tanpa putus.

Tentu dengan kebiasaan berzakat dan pengelolaan zakat yang baik apalagi dengan jumlah muzaki yang signifikan. Tentulah pengelolaan dan semakin besar jumlahnya. Dan akan berdampak pada berkurangnya kaum miskin dan dapat menumbuhkan kesejahteraan masyarakat di tengah keadaan pandemi ini. Wallahua’lam            

Bagikan
Post a Comment