f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dalam

Urgensi Cinta dalam Pernikahan

Langit nampak cerah menyaksikan sepasang kekasih yang melaksanakan akad nikah. Suara burung indah terurai menyoraki kebahagiaan yang mereka semai. Ada rasa haru, ada rasa lega, ada rasa bahagia di antara keluarga mereka. Kedua mempelai duduk dalam satu kursi, berdampingan, lalu diikat oleh tali pernikahan.

Tidak terasa hari pernikahan telah datang. Cinta dan kasih sayang di antara kedua insan, kini disatukan menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan. Dua hati menjadi satu, kompak menyatu membangun bahtera rumah tangga. Hidup bersama, melewati suka duka hingga menemukan kebahagiaan pada akhir hayatnya.

Pernikahan adalah ritual suci yang membutuhkan ketulusan dan keteguhan hati. Akan tetapi yang sering terjadi, cinta datang setelah sepasang kekasih mengikrarkan janji. Setelah mereka menjalani kesusahan bersama, tumbuh cinta sebagai jawaban atas kemesraan mereka. Meskipun keadaan mereka tidak segera membaik, namun mereka tetap bahagia karena cinta.

Benar, kata cinta memang harus disematkan dalam setiap hubungan. Terlebih hubungan pernikahan yang membutuhkan kekompakan di antara kedua insan. Tentu tanpa adanya cinta, sebesar apapun kenikmatan yang dirasakan, akan terasa hambar karena hati serasa menolak. Hati tidak akan bahagia jika semuanya dilakukan karena terpaksa. Maka dalam kasus ini, hati menolak bahagia.

Tanpa adanya cinta dalam pernikahan, sepasang kekasih bisa saja memperoleh permasalahan dalam setiap waktunya. Bisa saja mereka mendapatkan pertengkaran yang tidak bisa dihentikan setelah menjalani pernikahan. Segala tindakan keduanya dijalani tanpa adanya keikhlasan. Begitu pula, tidak ada pengorbanan yang bisa dilakukan, karena cinta tidak bisa terbangun atas jiwa keterpaksaan.

Maka diantara keduanya hanya bisa merasakan bisingnya kemarahan. Carut marut tidak akan lagi bisa terhindarkan. Hubungan rumah tangga ini sudah tidak bisa lagi dilanjutkan, kata salah satu pasangan. Pada akhirnya, perceraian yang mereka pilih sebagai jalan keluar.

Menikah Perlu Didasari Cinta

Pakar hubungan asmara Jenna Ponaman menegaskan bahayanya menikah tanpa didasari rasa cinta. Apapun alasannya, misalnya untuk memperoleh harta, kedudukan, atau yang lainnya, pernikahan seperti itu bisa berujung pada runtutan masalah di kemudian hari. Jenna Ponaman menyebutnya dengan pernikahan karena kebutuhan dan keinginan. Lebih lanjut Jenna Ponaman mengatakan sebab cinta dikesampingkan adalah adanya rasa takut, khawatir akan keadaan dirinya di masa depan.

Oleh karenanya, sebelum melaksanakan pernikahan perlu kiranya membangun rasa cinta pada sepasang kekasih yang menjadi pendampingnya. Segala keraguan wajib disingkirkan, kasih sayang haruslah dimunculkan, untuk mewujud keutuhan dan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga.

Di zaman Rasulullah ada kisah seorang kekasih yang berpisah karena tidak saling cinta. Sebut saja Burairah dan Mughits. Pernikahan keduanya kandas lantaran salah satu pasangan tidak memiliki cinta dan kasih sayang pada pasangan hidupnya. Mughits yang mencintai Burairah akan dengan senang hati melaksanakan pernikahan. Akan tetapi, Burairah yang tidak mencintai kekasihnya akan merasa tersiksa untuk hidup bersama dengan orang yang tidak dicintainya.

Tetaplah cinta adalah pemersatu keduanya. Jika cinta gagal terbangun, maka kandaslah hubungan keduanya. Meskipun ada cinta pada salah satunya, namun hal itu tidak cukup untuk mendayung bahtera rumah tangga sampai tahapan surga. Cinta harus dimiliki keduanya, cinta harus dibangun dari ketulusan dan kasih sayang keduanya. Maka jika semua itu gagal, kandaslah pernikahan dan berujung perpisahan.

Abdurrahman al- Jaziri dalam Fiqh Ala Madzahib Al-Arba`ah mencatatkan bahwa orang tua tidak bisa semena-mena menikahkan anaknya. Meskipun orang tua mempunyai hak, namun juga harus memperhatikan cinta yang ada pada anaknya. Kehidupan rumah tangga tidak akan bahagia jika anaknya tidak memiliki cinta pada kekasihnya. Maka orang tua yang bermaksud memberikan kebahagiaan dengan memaksa melaksanakan pernikahan, bisa saja berakibat fatal pada kebagiaan anaknya.

Cinta Untuk Kebahagiaan

Cinta adalah pondasi dasar untuk menciptakan suasana bahagia. Maka hak untuk mencintai dan dicintai menjadi sangat penting dalam mengayuh bahtera rumah tangga. Seorang istri bisa rela berjam-jam mengerjakan pekerjaan rumah karena dilandasi rasa cinta. Begitu pula, suami rela bekerja siang malam untuk membahagiakan orang yang mereka cinta. Semuanya dilandasi oleh cinta, dan cinta pulalah yang menjadi penyejuk dalam menjalin hubungan keluarga.

Pasangan adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya mempunyai kelemahan, dan akan merasa sempurna jika dipersatukan. Seorang istri bisa menutup kekurangan suami, begitupula suami bisa menutup kekurangan istri. Pernikahan adalah jalinan kerja sama yang dibangun sepasang kekasih atas nama cinta. Tanpa adanya cinta tidak mungkin kerja sama akan mencapai kata rela.   

Maka, hal utama yang harus ada dalam setiap pernikahan adalah rasa cinta. Sekecil apapun itu, rasa cinta wajib dimiliki oleh keduanya. Sudah menjadi fitrah jika manusia dikaruniai rasa cinta, dan hal itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pernikahan. Karena rasa cinta itulah yang bisa mendasari terbentuknya pengorbanan. Dan dengan rasa cinta itulah keduanya bisa saling menguatkan. Wallahu A’lam.

Bagikan
Post a Comment