Keluarga: Madrasah Pertama dan Utama bagi Anak
Masalah Pendidikan Keluarga
“He, kamu tahu tidak, ayahku sudah mampus?” Kata seorang anak pada teman di sebalahnya.
Susunan kata-kata itu (sesungguhnya) teramat kasar, dan ironinya justru keluar dari mulut seorang anak. Anak laki-laki usia empat tahun yang belum memahami mengapa dia mendadak jadi yatim. Anak itu mengucapkan kata-kata kasar tersebut ketika terdapat dua orang temannya yang juga sedang bersama ibunya.
Kaget dan seolah tak percaya dengan apa yang kudengar. Dari mana dia mendapatkan istilah itu sehingga dengan entengnya keceplosan mengucapkan “mampus”? Orang-orang di sekitar anak itu hanya diam tak satupun yang bereaksi, termasuk ibunya yang duduk di dekatnya tampak menunduk larut dalam kesedihan atas meninggalnya sang suami. Aku masih kaget dan penasaran.
Tiba-tiba, “Hus …!” Hanya sepatah kata dari seorang kakek renta yang sama sekali tidak mendapat perhatian si anak. Beberapa menit kemudian, sambil menunggu selesainya pemulasaraan jenazah, si anak kembali mondar-mandir berlarian bersama teman-temannya, lupa dengan apa yang baru saja terjadi.
Rasa penasaranku akhirnya terjawab. Di saat para lelaki mengantar jenazah ke kuburan, si anak ini meraung-raung karena tidak boleh ikut. Tangisnya makin menjadi sambil memukul dan meninju perut ibunya. Saat itulah neneknya berkata dengan sedikit membentak, “He, bisa diam tidak, mulai hari ini jangan nakal dan nangisan ya, ayahmu sudah mampus.”
“Astaghfirullah,” spontan mulutku berucap tanpa sadar. Bukan memeluk anak dengan penuh kasih dan menghibur, namun neneknya justru mengancam dengan kata-kata yang tak pantas. Aku tak habis pikir, ayahnya memang sudah meninggal, tapi pantaskah mengucapkan itu kepada anak kecil? Tak adakah sedikit tenggang rasa?
Peristiwa di atas terjadi ketika aku datang melayat di sebuah kampung yang jauh dari tempat tinggalku. Mungkin lingkungan keseharian yang kurang mendukung, membuat nenek, ibu dan sebagian orang sekitar menganggap hal itu lumrah. Si bocah hanya tahu bahwa menirukan ucapan nenek tidaklah salah.
Teknologi dan Tanggung Jawab atas Pendidikan Anak
Anak adalah amanah Allah yang harus disyukuri. Dan dia adalah peniru ulung orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua. Contoh di atas hanya salah satu dari sekian peristiwa yang kadang tak terbesir di pikiran kita. Namun, kita tidak bisa tinggal diam. Bagaimana besarnya nanti bila masih sekecil itu, anak sudah terbiasa dengan kata-kata yang tidak elok, tidak pantas?
Sebagai amanah dan titipan dari Yang Maha Kuasa, anak memang sepenuhnya urusan orang tua. Dari masalah kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlindungan hingga pendidikan. Yang terakhir ini, seorang anak mendapatkan pendidikan yang baik atau tidak, tentu berasal dari kepedulian keluarganya. Kendati lingkungan di sekitar tempat tumbuh kembang anak ikut berpengaruh, keluarga menempati posisi utama khususnya dalam hal pendidikan karakter.
Di zaman yang serba canggih ini, orang tua harus mampu membawa keluarga, putra-putrinya agar menjadi manusia yang cerdas, sehat fisik, dan mental. Untuk menempa anak-anak supaya menjadi insan cerdas, cerdik cendekia, peran orang tua sangat penting selain peran guru di sekolah. Bagaimanapun, keseharian perilaku orang tua menjadi contoh dan acuan bagi anak-anak di rumah. Oleh karena itu, orang tua harus punya bekal ilmu yang mumpuni dalam mendidik buah hati.
Dunia kini semakin maju dan kemajuan teknologi tak hanya menyentuh kalangan orang kota saja. Dengan kemajuan teknologi, warga yang tinggal di pelosok desa sangat mudah mengakses berbagai informasi penting, menarik, dan mencerdaskan dari berbagai sumber yang ada. Dari sini terbentang ilmu pengetahuan yang luas tak terbatas. Bila mau, siapapun bisa menimba berbagai ilmu, termasuk para orang tua, agar memiliki pola pikir yang lebih maju demi mendampingi anak-anak yang sedang tumbuh.
Kualitas Anak Cerminan Kualitas Pendidikan Keluarga
Tidak ada orang tua yang tak ingin memiliki anak yang santun, cerdas, saleh dan salehah. Dalam mendidik anak, orang tua tidak hanya ngomong, tapi juga harus bisa ngemong dengan bersandar pada rasa kasih dan sayang terhadap apa yang telah Allah titipkan kepada mereka; tanpa melupakan dan sadar bahwa semua itu kelak dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Dengan kesadaran itu, menjadikan setiap orang tua lebih berhati-hati dalam mendidik buah hatinya. Sebab, ada tujuan mulia dan agung yang harus tercapai. Meski untuk menuju ke sana tidak setiap orang tua mampu, karena menyangkut sarana dan prasarana. Minimal sudah ada niat dan berupaya sekuat tenaga sesuai kemampuan yang ada di setiap keluarga. Alangkah mubazir jika masa-masa keemasan tumbuh kembang anak terlewati begitu saja, tanpa diisi dengan hal-hal yang kelak mampu membentuknya menjadi insan yang brilian.
Selain membimbing putra-putrinya, orang tua juga disarankan untuk tidak pelit membombong, yaitu membesarkan hati anak dengan mengapresiasi apa pun tindakan anak yang bernilai positif. Sehingga, anak merasa dihargai. Membesarkan hati anak akan berimbas pada rasa bahagia yang akhirnya mendorong anak lebih semangat lagi melakukan aktifitas yang positif. Membombong memang hal yang kelihatan sepele, tapi bagi anak sangat besar artinya dan akan membekas hingga dewasa.
Sebagai orang tua, kita manfaatkan semaksimal mungkin kesempatan yang ada di depan mata untuk belajar banyak hal, melangkah maju dari ketertinggalan dalam mendampingi tumbuh kembang anak, dan juga belajar menciptakan lingkungan pergaulan yang mendukung potensi positif anak. Semua itu bisa diperoleh melalui perangkat teknologi masa kini atau pun belajar dari semua kejadian sehari-hari dalam keluarga dan lingkungan sekitar.
Madrasah nomor satu bagi anak adalah ibu. Namun, membersamai tumbuh kembang anak sejak lahir adalah tanggung jawab bersama, yaitu orang tua, bapak ibu atau keluarga. Sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak, keluarga adalah pemegang kunci bagaimana “warna” anak di kemudian hari. Karena hanya dari keluarga berkualitas yang mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas pula.
Editor: Naufalul Ihya’ Ulumuddin

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
