Nasihat Berumah Tangga dalam Naskah Sawer Panganten
Indonesia merupakan negara yang kaya dengan budaya. Kekayaan ini tertuang dalam bentuk peninggalan nenek moyang berupa naskah kuno. Menurut Undang-undang RI Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, sesuatu yang dapat dikatakan sebagai sebuah naskah jika naskah atau manuskrip tersebut berupa dokumen yang ditulis dengan tangan, tidak dicetak atau diperbanyak dengan cara lain berusia sekurang-kurangnya 50 tahun dan mempunyai nilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan.
Selain itu, naskah kuno yang ada di Indonesia dapat disebut sebagai naskah Nusantara. Naskah Nusantara yang dimiliki Indonesia pun sangat beragam. Berdasarkan sumber daya Perpustakaan Nasional RI, Indonesia memiliki 12.358 naskah Nusantara sebagai aset budaya bangsa Indonesia yang sangat berharga. Kekayaan budaya adalah segala sesuatu yang menjadi bagian dari budaya masyarakat. Termasuk kepercayaan, adat istiadat, bahasa, seni, teknologi, dan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada enam aspek kebudayaan yang dilestarikan dalam naskah-naskah Indonesia, baik koleksi Perpustakaan Nasional maupun yang ada di tangan masyarakat dan luar negeri.
Salah satu khazanah naskah Nusantara adalah Sawer Panganten. Sebenarnya, Sawer Panganten tidak hanya ditemukan pada naskah Nusantara. Kemunculan tradisi ini dimulai dengan adanya tradisi lisan Sawer Panganten yang dilakukan pada upacara pernikahan masyarakat Sunda. Namun, dengan adanya penemuan tulisan salah satunya naskah menjadi sebuah puncak pencapaian tertinggi dalam kebudayaan dan peradaban manusia. Karena itu bangsa Indonesia perlu bangga memiliki tradisi literasi. Ini terlihat dari berbagai macam naskah yang ada di Indonesia.
Salah satu naskah Sawer Panganten ditemukan di Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Naskah ini diperoleh langsung dari masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Karena tulisannya adalah Arab dengan berbahasa Sunda, hal ini menjadikan pemegang atau pemilik naskah tidak dapat membaca naskah tersebut. Padahal, naskah Nusantara memiliki nilai atau amanat yang sangat penting.
Terlepas dari permasalahan yang terdapat dalam naskah Nusantara. Naskah Nusantara memiliki konten isi yang sangat berharga melalui pesan atau nilai berupa ajaran-ajaran positif di dalamnya. Dalam praktiknya, sebenarnya, naskah tersebut dapat digunakan sebagai pedoman ketika melakukan sebuah tradisi nyawer ketika upacara pernikahan suku Sunda. Secara konten, naskah Sawer Panganten dapat digunakan sebagai ungkapan selamat dan doa bagi para pengantin dari para tamu undangan. Para tamu undangan berharap pengantin mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan pernikahannya. Mereka berharap agar langkah pengantin dalam membangun keluarga dan rumah tangga selalu diberkahi oleh Tuhan.
Selain itu, naskah Sawer Panganten yang ditemukan di Cileunyi pun mengungkapkan nasihat terkait dengan pesan kepada masing-masing pengantin, baik pengantin perempuan maupun pengantin laki-laki. Naskah Sawer Panganten memberikan gambaran untuk berumah tangga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Tentunya, gambaran ini diinginkan oleh banyak orang. Gambaran berumah tangga ini pun dilandasi dengan adanya pengutamaan Allah Swt. dalam segala perbuatan dalam bertindak, bertutur kata, dan menghadapi pasangan. Contohnya adalah perlakuan suami dalam bekerja dan memberikan nafkah kepada istri atau sebaliknya berupa cara istri memperlakukan nafkah yang diberikan oleh suami, memasak dan menyajikan makanan untuk suami, dll.
Satu hal yang paling menarik dalam naskah yang ditemukan di Cileunyi ini adalah istri diberikan nasihat untuk membuat sambal yang enak. Sambal adalah salah satu komponen penting dalam masakan masyarakat Sunda dan memiliki peran yang khas serta penting dalam budaya kuliner masyarakatnya. Tidak hanya sebagai komponen penting. Sambal bagi masyarakat Sunda pun memberikan ruang yang terbuka terhadap kreativitas untuk mengolah cara pembuatan sambal dari berbagai bahan dan Teknik pengolahannya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki kepiawaian dalam mengolah bumbu dan rempah untuk menciptakan rasa yang beragam.
Sambal menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Sunda selama berabad-abad. Pembuatannya secara historis melekat dalam kehidupan sehari-hari membuatnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda. Dengan banyak variasi dan resep yang berbeda, sambal mampu menjadi pelengkap berbagai hidangan utama dalam berbagai masakan Sunda, seperti nasi timbel, ikan bakar, dan pepes. Selain itu, setiap daerah di Sunda memiliki sambal khas mereka sendiri yang mencerminkan keunikan dan keanekaragaman budaya kuliner setempat. Dapat disimpulkan membuat sambal merupakan hal yang sangat penting bagi seorang istri dalam masyarakat Sunda. Sehingga naskah Sawer Penganten mengungkapkan hal tersebut dalam kandungan maknanya.
Kemudian, naskah Sawer Panganten pun memberikan contoh terkait dengan berbagai hal yang perlu dihindari ketika bertingkah dan bertutur kata kepada pasangan. Naskah ini pun memberikan contoh yang salah yang harus dihindari oleh para pengantin agar kehidupannya sukses dunia dan akhirat. Nasihat tersebut mengandung nilai-nilai kehidupan yang penting untuk membangun hubungan yang harmonis dan bahagia dalam berumah tangga. Menurut adat istiadat, petuah ini diberikan sebagai bentuk dorongan dan harapan agar kedua mempelai dapat menjalani pernikahannya dengan bijaksana dan bahagia. Oleh karena itu, naskah dalam masyarakat bukan hanya sebagai benda peninggalan nenek moyang saja. Tetapi juga sebagai pedoman dalam berumah tangga masyarakat Sunda. Tidak hanya itu, pesan atau petuah positif tersebut dapat diterapkan juga oleh masyarakat lainnya, tidak hanya masyarakat Sunda.
Roma Kyo Kae Saniro merupakan seorang dosen di Universitas Andalas dan peneliti yang berfokus pada kajian gender dan perempuan. Media sosial Instagram romakyokaesaniro dan Twitter @romakyokaesa.
