f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hak

Menggugat Hak Perempuan untuk Keluar Rumah

Pernyataan bahwa perempuan berhak untuk keluar rumah pasti akan terdengar mainstream bagi sebagian masyarakat kita hari ini. Tapi percaya atau tidak, pernyataan itu bagi sebagian orang terdengar agak asing, sehingga tak jarang dari mereka (termasuk para ustaz) menentangnya dan menganggap pernyataan tersebut menyimpang dari ajaran agama. Perempuan, oleh sebagian dari mereka adalah makhluk yang fitrahnya di dalam rumah dan hanya menaati suami. Dalilnya adalah beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan hadis.

Sedangkan, yang sesungguhnya, dalam literatur-literatur dan oleh pejuang-pejuang kesetaraan, telaah mereka bukan hanya bersumber pada Al-Qur’an dan hadis, tapi juga telaah logika/akal. Dari sosio-historis diturunkannya ayat tertentu dalam Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Inilah yang tidak dimiliki oleh mereka yang mendukung budaya patriarki.

Padahal logika/akal bukan hanya membantu kita dalam memahami Al-Qur’an dan hadis, tapi juga membantu kita memahami apa yang di luar Al-Qur’an dan hadis. Dengan akal, kita bisa mengkaji sejarah peradaban manusia dan mempertanyakan: Kenapa selama ini lelaki selalu berkuasa? Kenapa mereka selalu mendapat kesempatan lebih besar? Kenapa juga mereka harus selalu superior dalam segala bidang? 

Setelah mempertanyakan itu, kita bisa melanjutkan pertanyaan: Lalu benarkah agama Islam adalah yang melanggengkan superioritas laki-laki itu? Dan benarkah dengan begitu Islam adalah agama patriarki?

Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut kita mengkaji ulang ajaran-ajaran Islam. Namun bukan dalam arti merombak Islam itu sendiri, melainkan merombak pemahaman-pemahaman kita selama ini (yang salah dan dilanggengkan sejarah) tentang Islam. 

Misalnya tentang ajaran bahwa perempuan harus diam di rumah. Hal ini bisa saja bukan ajaran Islam melainkan hanya pemahaman kita akan Islam yang bisa jadi kurang tepat. Karena kalau perempuan harus diam di rumah, maka Allah pilih-kasih terhadap makhluk-Nya yang laki-laki saja, dan ini mustahil, karena Allah tidak mungkin pilih kasih (yang berarti tidak adil). Ini juga bertentangan dengan ayat bahwa Allah menyamakan manusia dalam hal keistimewaan, tanpa ada bias dan superioritas [al-Isra: 70]. 

Jadi benarkah Islam mengajarkan perempuan harus selalu di rumah dan hanya menaati suaminya?

Sebenarnya dibutuhkan berlembar-lembar halaman untuk menjawab pertanyaan di atas dengan agak lengkap. Tapi di sini cukup kita singgung saja bahwa dalam asasnya, Islam sangat menghormati manusia sebagai makhluk Allah yang istimewa. Antara laki-laki dan perempuan tak ada bedanya di sisi Allah, kecuali atas dasar ketakwaan [al-Hujurat: 13]. Kalau Allah sendiri menyetarakan laki-laki dan perempuan, kita juga sudah seharusnya menyetarakan mereka. Membedakan mereka berarti durhaka terhadap Allah dan menyimpang dari fitrah yang ditetapkan Allah.

Jika laki-laki boleh keluar untuk beribadah ke masjid, perempuan pun juga boleh keluar untuk beribadah ke masjid. Orang-orang yang melarang perempuan ke masjid, menurut Muhammad al-Ghazali, adalah orang yang salah paham terhadap ajaran agamanya. Karena pada zaman Rasul dan para Sahabat dulu, perempuan-perempuan bolak-balik dari dan menuju masjid untuk beribadah. Ini karena ibadah adalah hak (dan kewajiban) semua muslim, sebagaimana masjid juga adalah milik semua muslim.

Jika dalam hal ibadah laki-laki dan perempuan adalah sama, maka dalam hal keduniaan juga demikian

Misalnya, perempuan boleh belajar ke sekolah sebagaimana laki-laki, perempuan juga mempunyai hak dan boleh bekerja sebagaimana laki-laki. Begitu pun hal-hal lainnya.

Selama ini, kebanyakan kitab fikih masih menempatkan perempuan sebagai orang yang tidak memiliki hak sebanyak laki-laki. Pada masa kini pendapat-pendapat tersebut malah semakin dipelihara dan didakwahkan oleh ustaz-ustaz berpemahaman fundamental. Mereka mewajibkan para perempuan untuk mengenakan cadar dan berdiam di rumah.

Hal yang tidak mereka sadari adalah, bahwa memperlakukan perempuan seperti itu sama artinya dengan merenggut hak-hak mereka. Dan pada akhirnya ini akan berdampak pada lemahnya masyarakat, sebab perempuan adalah setengah masyarakat yang hak-haknya terabaikan. Bagaimana mungkin sebuah budaya menginginkan perkembangan yang parsial pada masyarakat, hanya berdasar ego identitas superioritas laki-laki?!

Inilah yang harus dirombak dalam tatanan sosial-agama kita!

Ini juga sudah digaungkan oleh tokoh-tokoh pembaharu (Muhammad Abduh misalnya, atau Muhammad al-Ghazali yang lebih akhir) selain oleh para feminis. Hanya saja masih diperlukan banyak lagi pegiat kesetaraan di dalam umat Islam.

Agar, (1) perempuan dapat menikmati hak-haknya yang selama ini terabaikan, dan yang lebih penting, supaya (2) ajaran Islam tentang perempuan yang selama ini disalahpahami dapat diluruskan. Dan pada akhirnya citra Islam akan menjadi lebih baik bukan hanya dalam pandangan kaum muslim sendiri, tapi juga oleh orang-orang non-muslim di luar sana.

Dengan memberikan perempuan hak untuk keluar rumah, entah untuk belajar dan/atau bekerja, berarti kita sedang berusaha membentuk masyarakat yang ideal dan  berkesataraan. Perempuan bisa menjadi apa yang diinginkan tanpa kekangan adat dan agama: menjadi guru, dokter, menteri, bahkan presiden. Hal-hal semacam ini bukan hanya bisa dilakukan oleh laki-laki saja, tapi juga oleh perempuan. Ukurannya bukanlah gender, melainkan kompetensi.

Tapi perlu diperhatikan, agar tidak terjadi salah paham, bahwa keluar rumah yang dimaksud oleh para penyeru kesetaraan bukanlah sekadar keluar rumah tanpa alasan, atau dengan alasan tidak produktif. Dalam hal ini suami wajar tidak memberi izin, sebagaimana istri juga berhak tidak menyetujui suami jika keluar rumah tanpa alasan atau dengan alasan tidak produktif. Adapun keluar rumah seperti yang disebutkan sebelumnya, baik untuk ibadah ataupun bekerja, maka hal itu tak patut untuk dilarang, sebab itu adalah perkara yang boleh.

Begitu pun, dalam norma adat dan ajaran agama (selain dalam bidang usul) tidak semuanya dapat diterima secara mutlak, atau tidak semuanya baik dan benar. Dalam hal ini, budaya patriarki secara adat dan agama belumlah tentu baik dan benar, dan inilah tugas kita untuk mengevaluasi budaya ini, agar ditemukan solusi yang lebih pas mengenai hak perempuan, yang lebih sesuai dengan apa yang diinginkan oleh agama sekaligus apa yang dituntut oleh perkembangan zaman.

Bagikan
Post a Comment