f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sekularisme

Sekularisme : Tantangan Kaffah dalam Islam

Kaffah diartikan sikap seorang mukmin dalam menjalani hidup sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Kaffah menciptakan keseimbangan antara iman dan amal dalam kehidupan seorang mukmin. Penerapan kaffah dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam berkeluarga.

Seorang mukmin yang hidup Kaffah dalam keluarganya akan menjalani peran sebagai suami atau istri dengan penuh kesetaraan dan keseimbangan. Dalam pemahaman Kaffah, peran ibu dalam keluarga menjadi sangat penting. Ibu bukan hanya pengasuh anak, tetapi juga pembimbing nilai-nilai agama dan moral anak-anak.

Namun, ada situasi di mana keluarga tidak mencapai Kaffah terjadi karena terpengaruh oleh sekularisme. Keluarga lebih fokus pada pencapaian materi, kesuksesan karir, dan kepuasan pribadi dari pada pada upaya memahami dan mengamalkan ajaran agama. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan dalam praktik keagamaan sehari-hari seperti ibadah, pembacaan Al-Qur’an, atau partisipasi dalam kegiatan keagamaan bersama.

Sekularisme dan Pengaruh Tersembunyi dalam Kehidupan Keluarga

Sekularisme sebagai pandangan dunia yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari dan kebijakan sosial, menghadirkan tantangan signifikan terhadap pemahaman dan praktik Kaffah dalam Islam. Paham ini telah terbukti menggempur setiap sendi kehidupan, bahkan ke dalam keluarga. Paham sekuler menggantikan nilai-nilai agama, empati, dan kepedulian dengan nilai-nilai yang lebih individualistik atau hedonis.

Sekularisme memungkinkan orang tua kesulitan dalam menyatukan ajaran agama dalam pengasuhan anak. Anak-anak mereka mungkin mengabaikan atau menganggap hal-hal seperti shalat, puasa, atau partisipasi dalam kegiatan keagamaan bersama sebagai sesuatu yang kurang penting.

Keluarga yang jauh dari agama membuat mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak benar karena memang tidak paham mana yang benar dan salah. Mereka seolah hanya mengetahui bagaimana cara melahirkan generasi tanpa paham makna mendidik. Ini dapat menghasilkan generasi yang kurang terhubung dengan nilai-nilai agama dan moral, yang pada gilirannya dapat merusak konsep keselarasan dan persatuan dalam keluarga.

Baca Juga  Masjid Impian

Kehidupan serba duniawi yang menyilaukan pandangan akan kehidupan, menyebabkan orientasi hidup menjadi bergeser, bahkan kosong dari visi-misi hakiki, yakni visi-misi akhirat.

Kaffah Melindungi Keluarga dari Arus Sekularisme

Potret buram dan nestapa peradaban sekularisme sebagaimana terjadi di negeri ini, seharusnya menjadi cambuk bagi setiap diri keluarga kaum muslim. Bahwa kehidupan sekuler kapitalisme yang begitu lekat saat ini amat sangat mudah dan kuat mengikis setiap lini fungsi keluarga. Padahal Islam dengan tegas menyeru kita agar menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Yang seharusnya menjadi visi setiap keluarga muslim.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. At-Tahrim: 6, sebagai berikut :

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Pesan untuk “jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka” dapat ditafsirkan sebagai peringatan agar kita tidak terjebak dalam pandangan dunia yang sepenuhnya sekuler. Ini juga mencakup tanggung jawab orang tua dalam mengarahkan keluarga mereka ke jalan yang benar.

Penerapan kaffah dalam Islam inilah yang dapat menjadikan manusia untuk berupaya taat dalam segala aturan, termasuk dalam berkeluarga. Orang tua dan anak akan memahami segala tanggung jawabnya, saling membantu dan memahami satu sama lainnya.

Alhasil, Berislam secara kaffah akan menjaga keluarga dari kejahatan apa saja, serta akan terbentuk keluarga Islam yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tentu bukan proses yang singkat memelihara keluarga dalam ketaatan, setidaknya membutuhkan amunisi yang tak sedikit. Mengkaji Islam sebagai agenda wajib dapat menjadi bentuk ikhtiar maksimal memelihara keluarga dari siksa api neraka.

Baca Juga  Konsepsi Pesantren Ramah Anak Indonesia

Editor : Rizky Hawari Nanda

Bagikan
Post tags:
Post a Comment