f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gim

Kecanduan Gim Daring Pada Anak-Anak

Semenjak Covid-19 menyerang, kita seakan dihadapkan dengan beberapa bentuk zaman. Physical distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), new normal dan yang terakhir adaptasi kebiasaan baru. Bagi sebagian orang mungkin terdengar wajar; tapi tidak sedikit kelompok masyarakat yang kesulitan beradaptasi dengan keadaan ini.

Hal yang paling mendasar ialah terkait pemenuhan kebutuhan primer khususnya kelompok masyarakat menengah ke bawah; yang akibat dari adanya pandemi ini diberhentikan sementara dan memilih untuk dirumahkan. Akibatnya, tidak bisa dipungkir;, tidak hanya anak di bawah umur, orang dewasa sekalipun banyak menghabiskan waktunya di rumah, dan kebanyakan menggunakan waktu tersebut untuk bermain gim, apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini (banyak yang beralih profesi).

Secara sederhana tujuan dari diciptakannya gim/permainan itu adalah untuk menghibur para pemainnya. Tetapi yang perlu kita pahami bersama adalah akan menjadi masalah jika memainkannya dalam jangka panjang; terutama mereka yang masih di bawah umur (anak-anak).

Bagi sebagian orang, gim menjadi suatu pilihan yang menarik, alasan sederhananya untuk menghilangkan rasa bosan. Lantas bagaimana dengan mereka yang menjadikan “bermain gim” sebagai profesinya untuk mendapatkan uang? Padahal mereka juga menghabiskan banyak waktu di depan gadget atau komputernya nya untuk bermain.

Sederhananya, jika hal seperti ini terjadi, tidak lagi dikatakan sebagai suatu gangguan, karena secara kasat mata hal itu menguntungkan. tentunya mereka juga memperhatikan faktor kesehatan fisik dan mentalnya

Di satu sisi, gim itu seperti dua sisi berbeda yang ada pada mata uang koin. Artinya, gim diciptakan untuk menghibur diri dan menjadikan manusia sebagai sasaran pemainnya; serta memiliki dampak yang saling bertolak belakang. Hal ini akan kembali pada diri seorang pemain, tergantung pada tujuan masing-masing.

Candu Model Baru

Pada awalnya istilah candu lebih banyak digunakan untuk mereka yang memiliki ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang seperti narkotika, dan zat aditif lainnya. Tetapi dengan pesatnya perkembangan dunia gim (game); yang pada dasarnya tidak tergolong seperti yang disebutkan di atas, tetapi memiliki dampak candu yang sama.

Timbulnya rasa ketergantungan (candu) terhadap suatu permainan sebenarnya bukanlah suatu hal yang asing terdengar di telinga kita, candu model baru ini sudah lama diperbincangkan masyarakat luas.

Organisasi kesehatan dunia, WHO, sudah mengakui bahwa ketergantungan terhadap game tersebut merupakan suatu gangguan mental dan memasukkan game disorder (keanduan gim) ke dalam International Statistical Classification Of Diseases (ICD).ICD sendiri merupakan suatu sistem yang berisi daftar penyakit yang memiliki gejala, tanda, dan penyebab. Sementara itu WHO tidak serta merta mengategorikan kecanduan gim ke dalam ICD tersebut.

Para pemain akan disebut memiliki gangguan mental jika gim tersebut mengganggu kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan para pemain. Dan hal tersebut rentan terjadi terhadap pemain di bawah umur.

Semenjak pemerintah memustuskan untuk mengganti sistem pembelajaran melalui daring, itu berarti anak-anak akan lebih banyak lagi menghabiskan waktunya di depan PC/smartphone-nya. Bukan tidak mungkin ke depannya akan banyak lagi anak di bawah umur yang terkena dampak kecanduan gim daring tersebut

Begitulah kenyataannya, hemat penulis bahwa Covid-19 tidak hanya menyerang fisik seseorang; tetapi virus tersebut juga menyerang perekonomian, keamanan, dan ketahanan pangan suatu negara.

Adanya Kekosongan Hukum

Hal yang tak kalah menarik untuk kita pahami adalah adanya pemahaman bahwa “manusia adalah mahluk yang bebas”. dalam artian, semakin banyak aturan yang mengekang, maka semakin banyak pula bentuk pelanggaran. Di satu sisi, aturan yang bersifat konkret dan spesifik sebenarnya membunuh kebebasan hakim untuk mengambil suatu keputusan (yurisprudensi).

Hal ini terjadi karena aturan tersebut bersifat mengikat, sedangkan perkembangan pemikiran manusia tidak ada yang bisa membatasinya. Maksudnya ialah, dalam masa yang akan datang, akan lahir suatu bentuk perbuatan (kejahatan/pelanggaran) baru yang oleh karenanya pula lahirlah aturan baru.

Sebut saja terkait bagaimana bentuk perlindungan terhadap anak yang mengalami internet gaming disorder tersebut. Instrument hukumya sudah jelas tertuang dalam undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, meskipun sampai saat ini dirasa belum mampu untuk melindungi (hak dan kewajiban) anak.

Hal ini terjadi atas beberapa faktor, dan yang paling mendasar adalah karena pesatnya perkembangan teknologi dan tingginya rasa ingin tahu (penasaran) terhadap hal baru yang ada di depannya. Serta adanya tumpang tindih antar peraturan yang bersifat serktoral mengenai definisi anak.

Banyak sekali kasus pidana yang pelaku atau korbannya adalah anak; hal ini semakin tidak terbendung dengan lahirnya beberapa bentuk perbuatan baru yang pada dasarnya bukan suatu kejahatan yang secara tertulis diatur dalam undang-undang (seperti candu terhadap gim). Akan tetapi hal tersebut secara tidak langsung dapat memeras dan mengeksploitasi seorang anak.

Tanpa mengurangi rasa hormat, maka dirasa perlu adanya Legal Reform agar upaya perlindungan terhadap anak tidak hanya menjadi angan-angan belaka. Karena jika diambil pertimbangan mana yang lebih mendesak, maka perlindungan terhadap anaklah yang seharusnya diutamakan dari pada terburu-buru membuat dan mengesahkan RUU Omnibus Law, RUU HIP, dan RUU lainnya yang sebenarnya sudah banyak mendapat penolakan dari masyarakat.

Bagikan
Post a Comment