Wisuda dan Cara Sederhana Orang Tua Bahagia
Beberapa waktu lalu, saya baru saja menyelesaikan studi sarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Melalui simbolik seremonial wisuda di tanggal 3 April 2026. Saya mengamati betul bagaimana raut wajah para orang tua yang hadir melihat anak-anaknya wisuda. Ada yang bungah merekah. Ada yang meneteskan air mata, saking tak terbendungnya rasa bahagia itu. Ada yang tertawa lepas karena keseruan momennya. Bermacam-macam.
Di antara riuh tepuk tangan, saya justru melihat mata yang berkaca-kaca di barisan belakang.
Adegan sekali seumur hidup itu juga bikin saya nangis penuh haru. Bukan tanpa sebab, sebagai anak terakhir melihat perjuangan kedua orang tua yang tidak pernah berhenti menjadi best support dalam segala hal dalam hidup saya. Kini saya membawa mereka duduk persis di sebelah saya. Bapak dan Ibu saya ngobrol seru sepertinya karena sampai senyum bahagia.
Saya sempet kepikiran mungkin begini percakapan mereka, “Pak, kita dulu kalo sarjana kaya Rezza (saya) apa kita bakal ketemu dan berjodoh ya? “ Tanya Ibu.
“Hahaha, ga tahu ya, Buk. Takdir memang ga ada yang tahu. Tapi, Bapak selalu percaya semesta punya banyak cara buat kita bareng kok, Buk. Hehe” Jawab Bapak sambil agak tertawa sedikit.
Ibuk kesemsem. Aseek.
Kedua orang tua saya memang bukan berangkat dari orang berada. Ibuk hanya lulusan SD, Bapak hanya lulusan SMP. Tapi mereka selalu ada untuk 4 anaknya. Bahkan, mampu menyekolahkan 4 anaknya sampai sarjana semua. Mereka ngebuktiin, bahwa keterbatasan yang mereka miliki, tidak membatasi mimpi-mimpi anaknya.
Rahmania, di tulisan ini saya ingin berbagi cerita yang sederhana namun saya rasa berkesan. Yang ternyata orang tua itu bahagianya sederhana. Terkhusus sudut pandang saya sebagai anak bontot melihat orang tua di umur yang kian senja.
Pendidikan Bukan Sekadar Sekolah
Tidak memiliki latarbelakang pendidikan yang tinggi, kedua orang tua saya menunjukkan cara mendidik yang berbeda. Mereka memang tidak mengajari teori, ilmu alam, atau komponen-komponen ilmiah.
Tetapi, justru dari mereka saya memahami proses pendidikan dimulai dari jauh sebelum sekolah atau kuliah. Justru dari mereka saya tahu dan belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di kelas.
Sederhana: tidak butuh teori, tapi langsung contoh nyata.
Saya melihat kegigihan bapak bekerja untuk saya dan kakak-kakak. Bagaimana Ibu sabar menghadapi anaknya yang bandel. Bisa nerima keadaan tanpa ribut berkepanjangan. Dari situ saya perlahan mengerti pendidikan itu tidak melulu soal sekolah. Kadang justru dari pemandangan yang setiap hari dilihat atau bahkan dari kebiasaan kecil yang dilakuin.
Di posisi ini saya sadar, orang tua memang tidak memberi gelar, tapi memberi nilai dan prinsip hidup.
Saya percaya setiap orang tua punya caranya sendiri dalam mendidik anak.
Berkat Orang Tua
Saya menyakini hidup hari ini jauh lebih enak daripada zaman mereka dulu. Hal-hal yang terjadi sekarang saya anggap biasa saja, bisa jadi dulu susah sekali untuk digapai.
Namun dari keterbatasan itu, dari hal yang dulu sulit itu, mereka masih mengusahakan untuk anak-anaknya memiliki kesempatan yang lebih. Sampai di titik, empat anaknya bisa lulus sarjana.
Ternyata wisuda atau kelulusan saya tidak cuma tentang “saya”, tapi tentang mereka yang berhasil mengantarkan saya sejauh ini.
Bontot Belajar Waktu
Bagi semua anak terakhir pasti merasakan kehadiran orang tua dengan cara pandang yang berbeda dibanding kakak-kakaknya, apalagi anak pertama.
Saya semakin sadar, waktu akan terus berjalan, umur orang tua juga tidak akan muda terus. Saya sangat bersyukur di wisuda ini masih ditemani dengan formasi lengkap.
Tidak berharap banyak. Sebagai anak bontot pasti ingin berhasil dengan keberadaan orang tua di sekitarnya. Ingin mereka melihat keberhasilan setelah wisuda, entah di dunia kerja, lanjut studi, atau yang lainnya.
Selagi mereka masih ada, masih sehat, dan masih bisa senyum bangga. Itu kebanggaan.
Bahagianya Orang Tua
Mungkin sebagian besar pemikiran seorang anak adalah harus sukses besar dulu, harus punya karir yang melejit dulu, punya banyak uang dan aset, atau istilahnya jadi “orang”.
Tapi ternyata tidak sehiperbola itu.
Hari ini saya merasakan sendiri. Waktu wisuda kemarin saya melihat sendiri. Kebahagiaan mereka sederhana sekali: melihat anaknya lulus. Lebih sederhana lagi: melihatn anaknya bahagia. Mereka akan ikut bahagia.
Selesai satu tangga kehidupan. Berdiri di titik yang dulu mungkin sekadar harapan.
Ternyata tidak perlu hal besar. Tidak perlu kemewahan. Tidak harus wah.
Dari cara mereka tersenyum, dari sorot mata yang berkaca-kaca, saya semakin mengerti ternyata bahagia mereka sesederhana itu.
Sekali lagi, ternyata kebahagiaan orang tua berangkat dari hal-hal sederhana seorang anak. Cuma kekadang sebagai seorang anak yang tidak peka.
Hal Terlambat yang Kusadari dan Semoga Tidak Lagi
Jujur, dulu merasa semua hal ini biasa saja. Pernah jadi orang yang ngerasa paling capek. Hidup paling berat beban hidupnya. Sampai lupa, ternyata ada keringat yang bercucuran dan doa yang terus dilangitkan. Ada perjuangan yang lebih besar di belakangku.
Hari ini sangat “nyentil”.
Hal yang sederhana justru yang paling berarti. Mungkin selama ini kita sebagai seorang anak terlalu sibuk menggapai hal-hal besar hingga luput kebahagian kecil itu yang sebetulnya orang tua tunggu.
Jadi, kapan terakhir kali kita bikin mereka bahagia? Minimal senyum kepada kita? Tidak perlu yang besar, cukup sederhana saja.

Rezza Fahlevi berkelahiran Pekalongan, Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta.Ketua PW IPM Jawa Tengah Bidang PIP.
