Saat Anak Diasuh Nenek: Kenyamanan Sementara, Risiko Berkepanjangan
Di lingkunganku, sebuah desa di kaki bukit perbatasan Jawa Tengah dan DIY, fenomena anak-anak yang diasuh oleh neneknya kian marak, terutama di kalangan keluarga pekerja. Dalam realitas sosial hari ini, kita semakin sering melihat bayi hingga balita yang hari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama nenek, bukan bersama ayah atau ibunya.
Ini bukan tanpa sebab. Tuntutan ekonomi memaksa banyak orang tua untuk bekerja penuh waktu—baik sebagai buruh pabrik, pedagang, karyawan ritel, hingga pekerja informal lainnya. Di sisi lain, mereka tidak punya akses pada sistem penitipan anak yang terjangkau secara ekonomi maupun jarak.
Menitipkan anak kepada nenek akhirnya dianggap solusi yang paling mungkin, bahkan paling aman bagi orang tua baru. Namun, apakah benar ini adalah solusi ideal bagi perkembangan anak?
Pengasuhan Asal Tenang
Salah satu pola yang sering muncul dalam pengasuhan oleh nenek adalah prinsip “yang penting anak tenang.” Dalam kondisi fisik yang sudah tidak sekuat dulu, para nenek tentu tidak bisa mengikuti standar pengasuhan yang ideal. Maka, strategi termudah adalah memberikan apa pun yang anak mau: camilan manis, susu formula dalam botol dot, layar gawai, atau sekadar didiamkan selama tidak menangis.
Balita yang sudah masuk usia taman kanak-kanak pun masih banyak yang belum lepas dari dot karena sejak kecil dibiasakan demikian. Makanan pun tidak lagi dinilai dari segi gizi, melainkan dari seberapa cepat bisa membuat anak kenyang dan diam.
Orang tua pun, karena lelah atau merasa tidak punya pilihan lain, cenderung membiarkan hal ini berlangsung. Tidak jarang mereka hanya menyerahkan susu formula, biskuit, atau camilan lain sebagai bekal menitipkan anak. Mereka berpikir, nanti saja diperbaiki saat anak sudah besar.
Padahal, fase awal kehidupan anak adalah masa paling krusial dalam tumbuh kembang. Pola makan, kebiasaan tidur, kemampuan bicara, hingga pengelolaan emosi, semuanya dibentuk sejak bayi. Dan ketika semua kebutuhan dasar itu tidak dipenuhi secara tepat, akibatnya akan terasa bertahun-tahun ke depan.
Orang Tua Tetap Aktor Utama
Meskipun situasi ekonomi memaksa orang tua bekerja, ini bukan alasan untuk melepas tanggung jawab sepenuhnya kepada orang lain, termasuk kepada nenek. Pengasuhan adalah tugas yang tidak bisa digantikan, bahkan oleh figur keluarga sekalipun. Justru dalam keterbatasan waktu itulah, orang tua ditantang untuk tetap hadir secara kualitas, jika tidak bisa secara kuantitas.
Menitipkan anak kepada nenek memang bisa menjadi solusi darurat, tetapi bukan solusi permanen. Orang tua perlu melakukan langkah kecil yang bisa menjaga jalur pengasuhan tetap berada di tangan mereka. Mulai dari menyiapkan makanan yang sehat, melatih kebiasaan mandiri meski hanya di pagi dan malam hari, hingga membangun komunikasi dan pemahaman bersama nenek tentang apa yang diharapkan dalam pola asuh sehari-hari.
Anak Bukan Sekadar Dijaga
Kita mesti ingat, kehadiran buah hati di dunia ini adalah keinginan orang tua. Anak kita perlu memperoleh bimbingan, rangsangan kecerdasan, dan dibentuk karakternya. Bukan hanya asal kesehariannya mereka tenang, dijaga agar tidak terluka atau sakit. Tugas itu tidak cukup hanya dilakukan oleh nenek, apalagi jika dilakukan dengan pendekatan “yang penting diam” dengan makanan yang tidak terkontrol, pengaruh gawai, dan kurang perhatian orang tua.
Menitipkan anak bukan berarti menitipkan tanggung jawab. Orang tua tetap pemegang peran utama, dan setiap keputusan yang mereka ambil hari ini akan berdampak pada siapa anak itu kelak.
Seorang Bapak baru, dan asisten editor jurnal ilmiah
