Kuasa Tikus Jelata
Kendali yang kini beralih
Menerkam mangsa habis tak bersisa
Kendali yang kini terpilih
Ditusuk habis siapa yang bisa
Tinggal lah tikus-tikus jelata
Yang tak pandai menata, tapi ingin berkuasa.
Lakon yang terwariskan dari leluhur.
Yang mungkin menderita di dalam kubur
Tikus-tikus jelata
Menyelinap masuk dari tanah
Meninggi, menusuk, melesat bagai panah
Merendah, merayu, merangkul bagai tak bersalah
Kami tahu, kami siksa bahkan nyaris binasa diterkam tikus jelata
Mencoba maju selangkah merebut cita-cita ke ibu kota
Bukan uang yang didapat, dibungkam! Bahkan dipaksa buta
Hingga tak bisa meraba dan berkata-kata
Lemah, kami lemah dirundung nestapa
Menahan tangis dengan canda palsu
Bayi merengkek meminta susu
Buruh malah diburu
Tikus jelata kini memporak-porandakan siklus kehidupan manusia
Bertindak bagai dewa, yang nyatanya busuk, kerdil dan kadang menggigil
Apa yang kau mau!
Gedung berkaca kau duduk
Pembangunan kau dalangi
Proyek besar kau bintangi
Ditagih kau sembunyi…
Haruskah kami menjadi kursi singgahsanamu
Yang sering kau hempaskan kentut berlian mu?
Atau haruskah kami jadi anjing penjilat kotoran-kotoran nistamu?
Demi tuhan!
Tikus tetap tikus dan tak mungkin jadi Tuhan yang harus dituhankan
Lahir sebagai manusia tak berdosa
Tumbuh sebagai manusia gemar dosa
Berakhir sebagai manusia takut dosa
Siklus hidup seorang perasa
Menunggu panggilan maha kuasa
Selalu tanggap akan berita. Kadang setia, kadang meronta
Jarang meminta, tinggi tak menista
Seperti itu kita dicipta
Agar kelak kita bertahta
Mahasantri pondok shabran UMS 2019, Anggota Saka Widya Budaya Bakti Sulawesi Tengah
