f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kearifan lokal

Merawat Ramah di Rumah Indonesia

Mengenal Kearifan Lokal

Manusia tak pernah lepas dari kehidupan sosial. Dalam kehidupannya, manusia selalu membentuk suatu hubungan yang dinamis antar sesamanya. Hubungan tersebut salah satunya menghasilkan suatu hal yang dinamakan dengan kearifan lokal. Lalu, apa itu kearifan lokal?

Kearifan lokal (local wisdom) berkaitan erat dengan budaya khas yang ada pada sekelompok masyarakat atau pada suatu daerah. Menurut kamus kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris, kearifan lokal terdiri dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom) yang berarti bijaksana dan lokal (local) yang berarti setempat.

Pengertian Kearifan Lokal menurut UU No. 32 Tahun 2009 adalah nilai-nilai luhur yang berlaku di dalam tata kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengelola lingkungan hidup secara lestari.

Sedangkan, Sedyawati dalam buku berjudul ‘Budaya Indonesia, Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah’ mengartikan kearifan lokal sebagai kearifan dalam kebudayaan tradisional suku-suku bangsa. Dalam arti luas kearifan tidak hanya berupa norma-norma dan nilai-nilai budaya, tetapi segala unsur gagasan, termasuk yang berimplikasi pada teknologi, penanganan kesehatan, dan estetika juga merupakan kearifan. Dengan pengertian ini, maka yang termasuk lingkup kearifan lokal adalah berbagai pola tindakan dan hasil budaya materialnya.[1]

Dari berbagai pengertian di atas, dapat dipahami bahwa kearifan lokal (local wisdom) adalah produk budaya masa lalu suatu masyarakat tertentu atau pada wilayah tertentu yang memiliki nilai luhur dan dapat dijadikan pegangan hidup.

Ramah: Identitas Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terpadat ke-4 di dunia. Menurut hasil survei terbaru dari Biro Sensus AS jumlah populasi Indonesia adalah 275.122.131, sedangkan hasil survei dari Worldometers adalah 273.523.615.[2] Ratusan juta masyarakat Indonesia tersebar di ribuan pulau. Persebaran masyarakat tersebut, kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara multikultural. Banyak terbentuk kelompok-kelompok yang akhirnya menciptakan tradisi, bahasa, budaya, dan kepercayaan yang berbeda-beda. Keragaman budaya tersebut selalu memiliki kearifan tersendiri. Kearifan lokal yang ada di masyarakat sangat beragam, seperti nilai, norma, adat istiadat, kepercayaan, dan aturan-aturan lain. Salah satu jenis kearifan lokal masyarakat Indonesia adalah budaya ramah.

Baca Juga  Rapor Pendidikan 2025: Inovasi dan Dampaknya

Sikap ramah sering diidentikkan dengan masyarakat Indonesia. Sikap ramah tersebut biasanya berbentuk murah senyum, saling menyapa, saling menuturkan salam, mudah bergaul, dan juga budaya tolong menolong.

Budaya ramah yang mungkin dianggap remeh ini ternyata memiliki peran yang besar dalam menjaga kestabilan sosial. Seperti contoh ketika ada sebuah masalah antar kelompok, nilai-nilai yang terkandung dalam sikap ramah ini sedikit banyak akan berpengaruh pada proses perdamaian dua kelompok yang saling berselisih. Selain itu, sikap ramah juga akan menjaga kedamian dalam kehidupan bertetangga. Semakin seseorang bersikap ramah maka semakin baik pula hubungan sosial dengan sesamanya.

Tidak hanya itu, ternyata sikap ini secara tidak langsung menjadi daya tarik tersendiri bagi orang luar negeri untuk berkunjung ke Indonesia. Ketika berbicara Indonesia maka yang terlintas dalam fikiran adalah keramahan penduduknya. Para turis merasa senang berkunjung ke Indonesia karena masyarakatnya mudah menerima dan bersosilaisasi dengan orang luar.

Merawat Ramah di Tengah Modernitas

Hari ini dan sepuluh tahun lalu adalah era yang berbeda. Di tengah modernitas ini semakin banyak perubahan, mulai dari perkembangan teknologi hingga perkembangan budaya. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan kearifan lokal yang telah mendarah daging sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Di era globalisasi, perkembangan zaman menuntut kita untuk terus mengikutinya. Namun, di sisi lain, kita tidak boleh meninggalkan budaya sendiri. Masyarakat Indonesia yang identik dengan sikap ramah jika tidak merawatnya dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan akan luntur secara perlahan. Di antara beberapa masalah yang timbul mengenai hal tersebut adalah: pertama, teknologi semakin berkembang sehingga masyarakat cenderung lebih banyak berkomunikasi melalalui telpon seluler, dan cenderung mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Kedua, semakin maraknya sikap individualis di tengah-tengah masyarakat. Ketiga, banyak masyarakat yang menganggap remeh budaya ramah, seperti saling sapa, bertukar senyum, bertegur salam, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Family Burnout, Problem yang Membumi Kala Pandemi
***

Berbagai permasalahan tersebut harus segera diatasi agar budaya ramah sebagai salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh Indonesia dapat bertahan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Di antara solusi yang dapat dilakukan adalah: pertama, membiasakan budaya ramah mulai dari hal-hal kecil, seperti bertegur sapa, memberi salam dan senyum, bertanya kabar, dan lain sebagainya.

Kedua, mengajarkan sikap ramah harus sejak dini. Hal ini bisa dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun tetangga. Lingkungan sangat penting dalam penentuan sikap dan sifat manusia, oleh karena itu solusi ini sangat efektif dalam rangka merawat budaya ramah.

Ketiga, menghilangkan sikap individualis yang ada dalam diri. Karena sikap ini akan membunuh sikap ramah, semakin seseorang tidak mempunyai sifat ramah, maka akan semakin tidak peduli dengan lingkungannya. Dari ketidakpedulian itu akan mengancam kehidupan sosial di masyarakat. Bayangkan jika ada sebuah desa memiliki sikap ketidakpedulian, maka kehidupan akan kacau, tidak ada rasa saling mengasihi, tidak ada rasa saling menjaga. Selanjutnya, hal ini juga akan berpengaruh pada kestabilan negara. jika negara memiliki masyarakat yang tidak ramah bahkan sampai pada sikap apatis, maka tentu mereka akan tidak peduli pula pada kondisi negaranya. Padahal negara membutuhkan suara rakyat.

Jika mampu merealisasikan berbagai solusi di atas dengan nyata, maka budaya ramah yang ada di Indonesia akan tetap bertahan meski zaman terus berkembang. Ketiga hal tersebut bisa dimulai dari diri sendiri, khususnya untuk generasi muda. Mari kita memberikan teladan bagi masyarakat sekitar. Jadikan budaya ramah tetap lestari di rumah yang bernama Indonesia.


[1] Edy Sedyawati, Budaya Indonesia, Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal 382.

Baca Juga  Catatan Awal Tahun: Menolak Lupa Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

[2] Aditya Jaya Iswara, 5 Negara dengan Penduduk Terbanyak 2021, Indonesia Termasuk, (https://internasional.kompas.com, 2021).

Editor: Afiruddin

Bagikan
Post a Comment