Perjalanan Menemukan Keberagaman
Membayangkan seputar Indonesia selalu saja memunculkan sensasi yang menyenangkan. Banyak hal-hal yang awalnya saya yakini bakal terjadi, tiba-tiba saja berubah tanpa permisi. Dulu, saya agak pesimis tentang masa depan keberagaman di Indonesia. Sikap ini sedikit banyak dipengaruhi oleh kejadian radikalisme yang menjamur di berbagai bidang.
Tak hanya itu, dalam kebebasan berpendapat pun, banyak dari kita yang masih memandang “baju” yang ia pakai. Ketika ada orang yang sama dengan pendapat kita, dan orang tersebut dipersekusi, kita akan bersuara “Hai, kebebasan berpendapat dong”. Namun, ketika ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, dan dia dipersekusi, kita malah ikut melakukan persekusi.
Sejak kecil saya hidup dan tumbuh pada lingkungan yang tak ramah terhadap keberagaman. Saya masih ingat, bahkan ketika masih SD, kami pernah terlibat keributan dengan sekolah lain karena perbedaan ideologis. Sebagai gambaran, desa kami mayoritas adalah muslim yang terdiri atas dua ormas. Perbedaan pandangan tersebut sering memicu konflik. Bahkan sampai anak SD seperti kami ikut terlibat.
Dari sana, bayangan akan keberagaman dan kerukunan di Indonesia adalah dua hal yang awalnya membuat saya pesimis untuk dapat berkembang secara berkelanjutan. Namun, anggapan tersebut pun lenyap setelah saya bertemu dengan orang-orang baik yang secara kebetulan memiliki agama dan keyakinan yang berbeda dengan saya.
***
Dari sana, saya meyakini kalau orang baik tidak bisa kita lihat berdasarkan baju yang ia pakai, tapi tindakan yang ia lakukan. Semasa di Malang, saya pernah mendapat tugas kuliah untuk wawancara dengan tokoh agama lain. Dalam pelaksanaannya, saya bersama teman kelompok memutuskan untuk pergi ke vihara daerah Batu.
Kami sama sekali tidak mengurus surat resmi penelitian. Kami juga tidak membuat janji pada jauh-jauh hari untuk melakukan wawancara. Sampai sana, alih-alih ditolak, kami malah disambut selayaknya tamu kehormatan. Dan langsung pula kami bertemu dengan pimpinan dan pengasuh vihara tersebut. Kami diberi ruang yang nyaman. Waktu yang panjang. Serta mendapat jawaban dengan menyenangkan. Padahal kami ke sana tanpa ada janji terlebih dahulu.
Selain itu, dalam wawancara tersebut ada momen ketika kami (dengan bodohnya) mengatakan kalau kitab suci agama Hindu adalah Weda, tapi beliau tidak tersinggung, dan tetap menjelaskan dengan penuh senyum. Selain Malang, ketika di Lamongan pun saya mendapat pengalaman serupa. Tepatnya di desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.
Bagi yang belum tahu, desa ini dijuluki “Desa Pancasila.” Bukan tanpa alasan tentunya. Setidaknya ada tiga agama yang hidup dalam satu lokasi. Menurut keterangan warga sekitar, bahka ada yang hidup dengan tiga agama dalam satu keluarga. Agama yang ada di desa balun adalah: Islam, Hindu, dan Kristen. Bukan cuma itu saja, paling tidak sampai saat ini masyarakat desa tersebut bisa hidup berdampingan dengan 3 agama tanpa ada masalah. Padahal seperti yang kita ketahui, isu agama adalah isu yang paling sensitif untuk dibahas.
***
Di desa Balun, ketika ada perayaan ogoh-ogoh (perayaan umat Hindu), semua warga pun hadir, meskipun yang berbeda agama. Begitu pun ketika umat Islam melaksanakan takbiran, mereka semua tidak ada yang terganggu. Semua terjadi begitu saja tanpa ada komando, tanpa ada yang menyuruh. Semesta seakan bertanggung jawab mengenai ini.
Tak berhenti dari sana, ketika di Jogja, saya juga punya pengalaman menjadi anak kos di lingkungan beda agama. Awalnya tidak ada rencana sedikit pun untuk mencari kos di lingkungan yang mayoritas non-muslim, saya hanya mencari kos yang murah saja. Tentu diawal saya kaget. Ya, gimana, saya ini blasss nggak ada pengalaman memiliki teman beda agama, dan tiba-tiba saja langsung tinggal di lingkungan non-muslim, dan membuat saya secara resmi menjadi minoritas.
***
Setelah saya jalani, justru mendapat banyak pengalaman menarik. Ketika momen Idul Fitri, saya pernah mendapat ucapan secara langsung oleh bapak kosan dan anak-anak di sana. Saya agak terharu, Ini adalah ucapan Idul Fitri pertama yang saya terima dari non-muslim. Tidak hanya itu, pernah suatu ketika saya antre mandi untuk salat jumat, teman saya yang non-muslim tanpa pikir panjang mengatakan “Duluan saja, Mas, nanti jumatannya malah telat.”
Jedddar! Saya langsung speechless. Pengalaman-pengalaman tersebut sedikit-banyak membuka cakrawala saya dalam memandang keberagaman di Indonesia. Semua rasa pesimis saya terhadap keberagaman pun rontok, dan berubah menjadi optimis. Saya cukup beruntung bisa mendapat kesempatan hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama, dan pengalaman tersebut amatlah berharga, setidaknya bagi saya.
Memandang Indonesia ke depan, saya rasa isu-isu seputar keberagaman tak perlu kita khawatirkan secara berlebihan. Masih banyak orang-orang yang memiliki sikap persatuan, bahkan dengan golongan yang berbeda dengan keyakinannya. Dan untuk memperkuat keberagaman, kita hanya perlu berteman dengan mereka yang memiliki “baju” berbeda agar pandangan kita seputar keberagaman bisa selalu optimis. Karena kunci dari keberagaman adalah pertemanan, dan untuk menjadi teman maka harus duduk bersama dan menerima perbedaan.
Orang yang anti dengan perempuan bercadar pasti karena tidak punya teman bercadar, begitu juga dengan orang yang membenci LGBT pun pasti karena memang tidak punya teman LGBT, begitu seterusnya. Indonesia adalah Negara kepulauan. Dan konsekuensi logis dari negara kepulauan adalah membangun jembatan, bukan membangun tembok yang memisahkan. Jadi, mari berbenah bersama. Mulai dengan saling mengenal, kemudian hidup dan berdampingan sebagaimana seharusnya. Tenanglah, Indonesia akan baik-baik saja. Semoga!
Mahasiswa salah satu kampus Islami daerah Jogja. Dapat dihubungi lewat akun instagram @aduib07
