Mengizinkan Anak Mengikuti PTM Tak Cukup dengan Modal Bismillah
Beberapa hari yang lalu, mendadak grup whatsapp sekolah anak saya ramai karena adanya pengumuman pertemuan tatap muka (PTM) yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Berita dadakan tersebut cukup membuat orang tua kalang kabut demi menyiapkan segala kebutuhan anak untuk masuk sekolah kembali. Sekolah membagikan formulir persetujuan yang harus orang tua serahkan sebelum anak-anak masuk sekolah.
Setelah pengumuman tersebut, bertubi-tubi datang arahan-arahan terkait PTM, lengkap dengan revisi berkali-kali yang membuat group semakin riuh. Mulai dari ketentuan pemakaian seragam, jadwal pelajaran, prosedur memasuki gerbang sekolah, hingga pemberitahuan tentang swab antigen. Hasil akhir ada kurang lebih 90% wali murid yang mengizinkan anaknya mengikuti PTM dan 10% sisanya memilih belajar sendiri di rumah.
Sebagian besar orang tua yang memutuskan untuk mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka, selalu menyisipkan kata-kata “Bismillah aja, Mbak…” Seolah kata tersebut menjadi mantra untuk menjauhkan anak-anak dari segala macam hal buruk yang mungkin ditemui selama mengikuti PTM di sekolah. Benarkah modal “Bismillah” saja cukup?
Ketika ramai lonjakan kasus Covid gelombang dua beberapa waktu lalu, ada teman saya yang seorang guru di sebuah sekolah terinfeksi Covid. Sejak sebelum ramai adanya lonjakan gelombang dua Covid tersebut, sekolahnya sudah mengadakan pertemuan tatap muka terbatas. Saya melihat dia bersama murid-muridnya bersuka cita bisa bertemu kembali. Ia mengunggah video joget-joget dan membagikannya melalui media sosial.
Tak cukup hanya unggahan video joget-joget, ia juga mengunggah foto ketika makan bersama guru dan siswa. Seperti selesai mengadakan syukuran atau mungkin pelajaran memasak bersama, saya tak tahu pasti. Semua sumringah tampak tertawa bersama dan bersuka ria.
Melihat unggahan tersebut, awalnya saya hanya mampu mengernyit. Iseng saya tanyakan apakah sudah mendapat izin untuk mengadakan PTM, dia menjawab serupa seperti yang sering saya dengar saat ini “Bismillah saja, Mbak…” Saya tidak paham, apakah jawaban tersebut berarti mereka sudah mendapat izin dari dinas terkait atau belum. Namun yang jelas, yang terjadi setelah itu banyak guru dan siswa yang positif terinfeksi virus Covid. Bahkan ada beberapa wali murid yang meninggal dunia.
Apakah ini satu-satunya yang saya temukan di kelompok pertemanan saya? Tidak.
Ada seorang teman yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta berbasis agama. Sekolahnya juga sudah mengadakan PTM sejak awal ajaran baru tahun 2020. Saat itu lonjakan gelombang dua dan varian Delta belum menyapa. Sebenarnya dia sendiri belum memberikan izin untuk anaknya bersekolah. Namun begitu 95% wali murid di sekolah tersebut sudah mengizinkan anaknya untuk masuk sekolah. Mereka pun selalu menyisipkan nama Tuhan Allah-nya di setiap jawaban.
Tiga bulan kemudian sekolahnya dibuat heboh karena kepala sekolahnya masuk rumah sakit dalam kondisi kritis karena terinfeksi virus Covid. Tak lama kemudian, kawan saya mendapat pengumuman penjaga kebun sekolah meninggal dunia. Disusul pengumuman kepala sekolahnya pun turut meninggal dunia dan akhirnya sekolah diliburkan.
Bismillah Saja Cukup?
Memulai segala sesuatu dengan mengucapkan “Bismillah” adalah hal yang sangat baik. Namun benarkan bismillah saja cukup? Dulu Ustadzah mengajarkan kepada saya bahwa “Bismillah” artinya “dengan menyebut nama Allah”. Menyebut nama Allah bisa menjadi bentuk mukadimah sekaligus bentuk kepasrahan sebelum memulai kegiatan, apapun hasilnya nanti. Namun begitu apakah dengan mengucap kalimat tersebut sebagai mukadimah cukup sebagai modal?
Sependek pengalaman saya, ternyata melakukan segala sesuatu tidak berhenti pada kata “Bismillah” saja. Mengucapkan “Bismillah” harus diikuti dengan ikhtiar selanjutnya. Jika setelah sampai di sekolah lupa akan protokol menjaga jarak, berjoget-joget tanpa masker, tidak adanya skrining kesehatan sesuai prosedur, tidak ada karantina untuk yang habis bepergian dari luar kota atau luar negeri, bahkan sesederhana mencuci tangan dan memakai masker saja sering abai, tentu tidak akan serta merta menjauhkan kita dari virus. Kalau sudah begini, apakah masih merasa cukup dengan modal Bismillah?
Selain pasrah dan berdoa, dulu Ustadzah sering mengingatkan saya untuk ikhtiar. Bukan sekedar ikhtiar, tapi harus ikhtiar mentok jedok, yaitu melakukan segala usaha, semampunya, sekuat-kuatnya. Kalau memang mau hasil yang terbaik, ya ketika ikhtiar harus pasang gas pol. Jangan setengah-setengah apalagi sekedar mengucap “Bismillah” tanpa tindak lanjut lebih akurat. Mana cukup?
Pernahkah kalian merenungkan ucapan “Bismillah” yang selalu diucapkan setiap saat, setiap waktu? Mengucapkan Bismillah, menyebutkan nama Allah, apakah kita sudah benar-benar menjaga ikhtiar atas nama-Nya? Atau kita hanya sekedar melarikan diri dari kewajiban ikhtiar dengan mengubahnya ke mode pasrah total tapi ikhtiarnya zonk alias nihil. Atau mungkin sebatas ucapan Bismillah itu saja ikhtiar kalian? Bah, jangan sampai malaikat menertawakan kita.
Bismillah Kemudian Ikhtiar
Selama ini saya sering bertanya kepada diri saya sendiri, apa saja ikhtiar dan usaha yang sudah dilakukan? Apakah ikhtiar kita sudah cukup maksimal? Apakah kita yakin semua jalan usaha sudah ditempuh? Atau jangan-jangan sebenarnya ada jalan yang bisa ditempuh tapi terlalu takut untuk kita lewati, jadi kita mengebiri usaha sendiri lalu menutup dengan bentuk kepasrahan sambil berdalih “yang penting aku sudah berusaha, Bismillah saja…”
Pernah suatu hari, ketika anak saya masih balita, dia menangis meraung-raung. Rupanya dia putus asa karena selalu gagal memasang balok lego di sebuah toko di mall besar.
“Aku sudah coba berkali-kali tapi tetap tidak bisa, Bunda…” ucapnya sambil tersedu-sedu. Lalu pengunjung yang lain mendekatinya berusaha menghiburnya. Sambil mengusap punggung anak saya, pengunjung cantik tersebut berkata dengan suara lembut,
“Mungkin tadi waktu memasang belum bilang Bismillah ya, Sayang? Yuk dicoba lagi, jangan lupa Bismillah dulu ya…”
Bagaimana hasilnya? Tentu saja tidak bisa terpasang. Kalian tahu kenapa? Karena anak saya memasangkan balok besar ke balok yang lebih kecil.
Lantas pengunjung cantik bersuara lembut dan merdu itu pun pergi.
Mari kita sama-sama bertanya, apakah modal “Bismillah” saja sudah cukup?
Seorang ibu dari bocah kembar yang menulis seputar pola asuh, pendidikan, keuangan dan petualangan bersama keluarga di laman pribadi www.kirakara.com.
